Kendari – Tim asal Sulawesi Tenggara (Sultra) menyabet juara harapan 1 dalam ajang Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan mengusung inovasi berjudul “Ngayomi Budaya Kukuh”.
Gelar kejuaraan diumumkan usai penjurian tahap akhir yang dilakukan tim juri bersama Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Gedhong Gadri, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Senin (20/7/2026).
Adapun tim yang diberi nama SP-038 itu terdiri dari Muh. Irsyad, Vika Maharani, Syahril Mpuhu, Made Ray, Adam Handika, Diva Carcia, Sindhunata, serta Endri Zuhra. Kedelapannya bernaung dalam Architecture and Urban Plus yang bermarkas di Kota Kendari.
Desain penanda perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berjudul “Ngayomi Budaya Kukuh” oleh Tim SP-038 dari Architecture and Urban Plus asal Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: Istimewa.Ketua Tim SP-038, Muh. Irsyad, mengatakan timnya memadukan tiga unsur utama berupa atap Joglo, Candi Prambanan, serta Gunung Merapi dalam desain yang mereka rancang. Ketiga unsur tersebut dinilai memiliki kemiripan identik dalam penentuan konsep. Tim ini juga ingin menekankan bahwa konsep yang diangkat utamanya bukan sebagai pembatas, melainkan penghubung.
“Kami melihat ketiga ini ada sebuah kemiripan yang sangat identik, yaitu segi tiganya yang bisa kita terapkan dalam konsep bentuknya,” ujarnya kepada Kendariinfo, Selasa (21/7).
Desain tersebut berupaya menghidupkan kembali kehangatan atap Joglo sebagai living tradition yang dengan rendah hati merangkul setiap pendatang melalui napas keramahtamahan khas Nusantara.
Desain ini juga menjunjung keluhuran warisan Candi Prambanan sebagai bukti kepada dunia bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan DNA yang membentuk dan mengarahkan masa depan.
Desain penanda perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berjudul “Ngayomi Budaya Kukuh” oleh Tim SP-038 dari Architecture and Urban Plus asal Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: Istimewa.Pada saat yang sama, ia berpijak pada fondasi yang jujur dan kokoh, laksana ketegaran Gunung Merapi, untuk menjaga roh, jati diri, dan identitas Yogyakarta agar tetap tegak di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Irsyad menuturkan proses persiapan memakan waktu kurang lebih satu bulan sebelum karya disetorkan. Saat diumumkan masuk dalam lima besar, masing-masing tim kemudian diberikan waktu seminggu untuk persiapan presentasi di hadapan dewan juri.
Selama persiapan, Irsyad dan tim menyadari terdapat banyak peserta yang tergolong kompetitor andal dalam bidang yang dilombakan. Di sisi lain, timnya cukup tertantang dengan konteks lokasi yang akan didesain. Meski demikian, berkat kerja sama cukup keras, timnya berhasil menyelesaikan karya yang mempresentasikan identitas, filosofi, serta keistimewaan Yogyakarta.
“Tantangannya menurut kami memang kompetitornya cukup banyak. Kami lihat ternyata banyak arsitek dari Indonesia yang submit karya ini. Lebih ke konteks juga, karena memang lokasinya itu di Yogyakarta, sementara kami di Kendari. Jadi, untuk memahami konteks lokasinya itu agak sedikit kesulitan. Tantangan lainnya, kami mengerjakan secara online,” tutur Irsyad.
Nah sekarang Makin Tahu Indonesia kan!!
Post Views: 14

1 day ago
12
















































