Kendari – Sebanyak 672 mahasiswa Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) resmi menyandang gelar sarjana dan magister setelah mengikuti prosesi Wisuda Sarjana XXXV dan Pascasarjana X Tahun 2026 di Phinisi Ballroom Claro Hotel Kendari, Rabu (9/9/2026).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 646 merupakan lulusan program sarjana (S1) dan 26 lulusan program magister (S2).
Program Studi Ilmu Hukum menjadi penyumbang lulusan terbanyak dengan 264 orang, disusul Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sebanyak 104 orang.
Sebanyak 672 mahasiswa Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) mengikuti prosesi wisuda Sarjana XXXV dan Pascasarjana X Tahun 2026 di Phinisi Ballroom Claro Hotel Kendari. Foto: Istimewa. (9/9/2026).Prosesi wisuda dihadiri jajaran Senat Unsultra, Rektor Unsultra Prof. Dr. Jamhir Safani, Ketua Dewan Pembina Unsultra Dr. Nur Alam, serta perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Dalam rapat senat terbuka tersebut, Rektor Unsultra Prof. Jamhir Safani menyampaikan bahwa wisuda bukan menjadi akhir perjalanan pendidikan, melainkan awal bagi para lulusan menghadapi kehidupan dan dunia kerja.
“Di tengah era disrupsi teknologi, tantangan global sudah menunggu kalian,” ujar Jamhir.
Ia kemudian menitipkan tiga pesan kepada para wisudawan. Pertama, menjaga kejujuran dan profesionalisme meski berada di lingkungan yang mengagungkan jalan pintas.
Kedua, terus belajar karena ilmu pengetahuan berkembang. Ia meminta para alumni tidak melihat siapa yang menyampaikan suatu hal, tetapi melihat apa yang disampaikan.
“Belajarlah melihat apa yang dikatakan orang lain, jangan melihat siapa yang mengatakan. Selama itu baik, ambil pelajaran tersebut,” katanya.
Ketiga, Jamhir meminta para alumni tidak hanya menjadi penonton di tengah masyarakat, tetapi mampu menjadi pemecah masalah atau problem solver.
“Jangan hanya menjadi penonton, tetapi jadilah bagian dari solusi di tengah masyarakat,” ucapnya.
Sementara itu, Nur Alam, turut memberikan orasi ilmiah dalam prosesi tersebut. Mantan Gubernur Sultra dua periode itu mengingatkan para wisudawan bahwa tantangan yang akan dihadapi setelah meninggalkan bangku kuliah jauh lebih kompleks dibandingkan persoalan yang mereka temui selama perkuliahan.
“Di dunia nyata, saudara akan menemukan persoalan yang jauh lebih sulit. Tidak ada pilihan A, B, C, atau D, tidak ada dosen yang membenarkan, dan tidak ada buku yang selalu memberi jawaban,” kata Nur Alam.
Kehadiran Nur Alam dalam wisuda tersebut juga mendapat perhatian. Ia disebut menempuh perjalanan panjang dari Jakarta setelah penerbangannya terkendala di Bandara Soekarno-Hatta.
Nur Alam kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalur darat menuju Surabaya sebelum kembali terbang ke Kendari dan tiba melalui Bandara Haluoleo.
Post Views: 1

7 hours ago
11















































