Bombana – Proses penetapan penerima Beasiswa Pemerintah Daerah (Pemda) Bombana Berani tahun 2026 mendapat sorotan dari sejumlah mahasiswa peserta seleksi. Mereka mempertanyakan sistem penilaian setelah menemukan hasil kelulusan yang dinilai tidak sesuai dengan prestasi akademik maupun kondisi ekonomi pendaftar.
Salah seorang mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari yang meminta namanya tidak disebutkan mengaku mengalami perubahan status kelulusan dalam seleksi Beasiswa Bombana Berani 2026. Sebelumnya, ia pernah menerima beasiswa tersebut pada 2024 dan kembali mendaftar melalui jalur kurang mampu pada Februari 2026.
Menurutnya, penerima Beasiswa Bombana Berani harus melakukan pendaftaran ulang setiap semester dengan besaran bantuan sekitar Rp3 juta. Namun, proses pencairan pada 2026 disebut berlangsung lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya.
“Biasanya dana beasiswa cair ketika sudah mendekati masa pembayaran UKT. Tahun ini prosesnya sedikit lebih lama,” ujarnya kepada Kendariinfo melalui pesan WhatsApp, Senin (7/9/2026).
Ia menjelaskan, pertama kali mendaftar Beasiswa Bombana Berani saat berada di semester 2 pada 2024 dan dinyatakan lolos. Setelah itu, ia tidak mendaftar pada semester 3.
Ia kemudian kembali mengajukan permohonan pada semester 4 dan dinyatakan lolos pada 2025. Namun, pencairan dana baru diterimanya saat memasuki semester 5.
Ketika kembali mendaftar pada 2026, status kelulusannya berubah. Ia dinyatakan tidak lolos pada Selasa (1/9).
Perubahan tersebut dipertanyakan karena ia mengaku memiliki indeks prestasi (IP) 3,7, sedangkan salah satu persyaratan akademik yang diketahuinya menetapkan IP minimal 2,5.
Ia kemudian mencari informasi mengenai hasil seleksi dan mengaku menemukan sejumlah mahasiswa lain yang turut mempertanyakan hasil kelulusan.
“Banyak mahasiswa lain yang mengalami hal serupa. Ada yang mengaku IP 4,00 tetapi tidak lolos jalur prestasi. Ada juga yang IP 3,5 tetapi kalah dengan mahasiswa yang IP-nya 3,4,” ungkapnya.
Para pendaftar kemudian berupaya meminta penjelasan kepada panitia mengenai dasar penilaian. Berdasarkan informasi yang mereka terima, khusus untuk jalur kurang mampu, penilaian tidak hanya mempertimbangkan prestasi akademik, tetapi juga kondisi ekonomi keluarga.
Penjelasan tersebut justru menimbulkan pertanyaan baru. Mahasiswa tersebut mengaku menemukan sejumlah peserta yang dinyatakan lolos dan, menurut penilaiannya, memiliki kondisi ekonomi relatif lebih baik dibandingkan dirinya. Sementara itu, ia menyebut orang tuanya bekerja sebagai wiraswasta.
“Saya melihat beberapa teman yang menurut saya kondisi ekonominya lebih baik dibandingkan saya. Bahkan mereka masih memiliki orang tua yang lengkap, sedangkan saya sudah tidak memiliki ayah,” katanya.
Ia menegaskan tidak mempermasalahkan apabila dirinya memang dinyatakan tidak memenuhi kualifikasi yang telah ditetapkan. Namun, perubahan status kelulusan serta sejumlah hasil seleksi yang dianggap tidak konsisten membuatnya mempertanyakan mekanisme penilaian yang digunakan.
“Kalau memang saya tidak lolos karena tidak memenuhi kualifikasi yang ada, saya bisa ikhlas. Tetapi terlalu banyak kejanggalan yang kami temukan sehingga saya merasa seperti dizalimi,” ujarnya.
Mahasiswa tersebut mengaku telah mengajukan sanggahan kepada panitia agar hasil seleksi terhadap dirinya dapat dipertimbangkan kembali. Namun, pengajuan tersebut tidak mengubah status kelulusannya.
Selain itu, ia menyoroti waktu pengajuan sanggahan yang dinilai terlalu singkat. Menurutnya, peserta hanya diberikan waktu selama dua hari untuk menyampaikan keberatan atas hasil seleksi.
Ia berharap Pemda Bombana dan pihak terkait dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai indikator dan mekanisme penilaian yang digunakan dalam menentukan penerima Beasiswa Bombana Berani.
Menurutnya, keterbukaan tersebut penting agar peserta mengetahui dasar penetapan kelulusan. Ia juga meminta data akademik dan kondisi ekonomi pendaftar yang menjadi dasar penilaian dapat diverifikasi kembali untuk memastikan hasil seleksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Dinas Kominfo Bombana, Muhammad Siarah, belum merespons konfirmasi Kendariinfo terkait mekanisme penilaian dan perubahan status kelulusan tersebut.
Post Views: 26

21 hours ago
11















































