Kendari – Lima mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari mengembangkan LEXILIGHT, kacamata pintar berbasis augmented reality (AR) yang dirancang untuk membantu individu dengan disleksia membaca teks.
Inovasi tersebut memanfaatkan kamera, teknologi pengenalan karakter, dan pemrosesan bahasa untuk membantu pengguna mengenali tulisan sekaligus menjaga fokus saat membaca.
Ketua tim LEXILIGHT, Muhammad Rizky Yamin, mengatakan perangkat itu dikembangkan untuk membantu individu dengan disleksia yang mengalami kesulitan mengenali kata, membedakan huruf, hingga mempertahankan fokus pada baris bacaan.
“Melalui LEXILIGHT, kami ingin menghadirkan akses membaca yang lebih fleksibel sehingga individu dengan disleksia dapat memperoleh dukungan saat membaca di berbagai situasi,” ujar Rizky kepada Kendariinfo, Kamis (10/9/2026).
LEXILIGHT bekerja dengan memanfaatkan kamera yang terpasang pada kacamata untuk menangkap teks di sekitar pengguna. Sistem kemudian mengolah gambar tersebut menggunakan optical character recognition (OCR) untuk mengubah tulisan menjadi teks digital.
Teks yang telah dikenali selanjutnya diproses menggunakan natural language processing (NLP) dan lexical simplification. Teknologi tersebut membantu menyederhanakan kata yang sulit dipahami tanpa mengubah makna utama dalam kalimat.
Hasil pengolahan teks kemudian ditampilkan melalui micro-display berbasis AR. Perangkat itu juga memiliki fitur line-focusing yang membantu pengguna memusatkan perhatian pada baris teks yang sedang dibaca.
Tim yang mengembangkan LEXILIGHT terdiri atas Muhammad Rizky Yamin dari Jurusan Teknik Informatika sebagai ketua, Anggun Dian Pratiwi dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra, Moch. Rayzhan Alwanie dari Jurusan Teknik Informatika, Kahar Munajat dari Jurusan Teknik Informatika, serta Nadia Dwi Maharani dari Jurusan Kesehatan Masyarakat.
Pengembangan inovasi tersebut mendapat pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Pengumuman pendanaan dilakukan pada 23 Mei 2026.
Selama program berlangsung, tim mengembangkan LEXILIGHT secara bertahap, mulai dari perancangan perangkat, pembuatan prototipe, integrasi sistem OCR, NLP, dan AR, hingga pengujian.
Saat ini, LEXILIGHT masih berada pada tahap pengembangan dan pengujian. Pendanaan PKM-KC digunakan tim untuk menyempurnakan prototipe sekaligus mengevaluasi fungsi perangkat sebelum dikembangkan lebih lanjut.
Dosen pembimbing LEXILIGHT, Rizal Adi Saputra mengapresiasi upaya mahasiswa mengembangkan teknologi asistif yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.
Tim berharap LEXILIGHT dapat terus disempurnakan sehingga nantinya dapat digunakan sebagai salah satu perangkat pendukung bagi individu dengan disleksia dan mendorong akses pendidikan yang lebih inklusif.
Nah sekarang Makin Tahu Indonesia kan!!
Post Views: 13

1 day ago
8















































