Suami Istri di Kendari Rutin Bersihkan Masjid, Berharap Kebaikan Kecil Berdampak Besar

20 hours ago 13

Kendari – Berawal dari pengalaman menemukan toilet dan tempat wudu masjid yang kurang terawat saat sedang bepergian, Irja Al Hidayat bersama istrinya memilih melakukan sesuatu yang sederhana: membersihkannya.

Keduanya kemudian membuat gerakan bernama Ja.Klin, sebuah aksi sukarela yang berfokus pada kebersihan fasilitas masjid, khususnya tempat wudu, toilet, dan halaman.

Irja mengatakan kegiatan tersebut bukan karena dirinya dan sang istri merasa paling peduli atau paling hebat. Mereka hanya ingin mengambil bagian dalam kebaikan sekaligus mengajak orang lain melakukan hal serupa.

“Bukan karena kami merasa yang paling bersih atau kita paling hebat. Kami hanya ingin fastabiqul khairat, berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan dan mengajak orang lain untuk sama-sama peduli,” kata Irja kepada Kendariinfo, Selasa (1/9/2026).

Nama Ja.Klin diambil dari nama panggilan Irja, yakni “Ja”, yang juga dimaknai sebagai akronim dari kata “Jaga”. Sementara “Klin” merupakan akronim dari K untuk Kebersihan, L untuk Lingkungan, I untuk Ibadah, dan N untuk Nurani.

Melalui gerakan tersebut, Irja dan istrinya turun langsung membersihkan fasilitas masjid yang berada di bagian luar.

Gagasan itu bermula ketika keduanya sedang dalam perjalanan. Saat waktu salat tiba, Irja membutuhkan toilet sehingga mereka mencari masjid terdekat.

Namun, kondisi tempat wudu dan toilet masjid yang mereka datangi membuat Irja cukup terkejut. Fasilitas yang digunakan banyak jemaah itu dinilainya kurang mendapat perhatian.

Dari pengalaman tersebut, muncul keinginan untuk memulai sesuatu dari hal kecil.

“Kenapa tidak kita mulai dari hal kecil ini? Kita jaga kebersihan tempat wudu dan toilet supaya jemaah yang datang bisa merasa lebih nyaman dan tenang dalam beribadah,” ujarnya.

Bagi Irja, menjaga kebersihan masjid bukan hanya tanggung jawab pengurus atau petugas kebersihan. Jemaah dan masyarakat yang menggunakan fasilitas tersebut juga memiliki peran yang sama.

“Karena menurutku kebersihan itu bukan hanya tanggung jawab pengurus saja atau petugas kebersihan. Kita juga semua punya tanggung jawab untuk menjaganya,” katanya.

Ja.Klin sebenarnya telah memulai kegiatan sejak 2024. Namun, aktivitas tersebut sempat terhenti karena sejumlah kendala dan urusan.

Memasuki awal 2026, Irja dan istrinya kembali menjalankan aksi tersebut. Untuk sementara, mereka memilih fokus pada bagian luar masjid dan belum masuk ke ruang utama, terutama ketika pengurus tidak berada di lokasi.

“Kita belum berani sampai masuk ke dalam, apalagi jika pengurus masjidnya tidak ada. Jadi kita intinya bagian luar saja dulu,” ungkapnya.

Dalam setiap aksi, keduanya menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari keterbatasan waktu dan tenaga hingga kondisi fasilitas yang membutuhkan pembersihan ekstra.

Beberapa tempat wudu dan toilet yang mereka datangi bahkan memiliki kerak dan lumut yang cukup tebal. Kondisi makin sulit ketika air yang digunakan mengandung kapur sehingga kerak sulit diangkat.

Peralatan dan cairan pembersih yang mereka miliki juga masih terbatas. Keduanya harus menyesuaikan pekerjaan dengan perlengkapan yang tersedia.

Meski begitu, keterbatasan tersebut tidak membuat mereka berhenti.

Dukungan justru mulai datang dari orang-orang yang mengetahui kegiatan Ja.Klin. Ada yang memberikan rekomendasi cairan pembersih, bahkan ada yang berdonasi dengan mengirimkan perlengkapan kebersihan.

“Bagi kami kendala itu bukan alasan untuk berhenti, justru dari situ kami belajar bahwa gerakan seperti ini, kalau dilakukan bersama-sama insyaallah bisa memberikan manfaat yang besar,” tuturnya.

Perlahan, ajakan tersebut juga mendapat respons dari lingkungan sekitar. Beberapa teman dan keluarga bahkan telah menawarkan diri untuk ikut terlibat dalam aksi Ja.Klin.

Bagi Irja dan istrinya, respons masyarakat setelah kegiatan menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan. Ucapan terima kasih dan doa yang mereka terima membuat keduanya merasa aksi sederhana tersebut bermanfaat bagi orang lain.

“Pengalaman yang paling berkesan atau menyentuh itu ya tadi, respons positif, ucapan terima kasih, sampai kita didoakan dengan segala kebaikan lah, baik secara lisan maupun tulisan,” katanya.

Ia mengaku bersyukur ketika kegiatan yang dilakukan bersama istrinya bisa menjadi bagian dari kebaikan.

“Alhamdulillah bahwa kita ini bisa dianggap pembantu dalam kebaikan, bisa membantu orang lain,” tambahnya.

Masjid dipilih sebagai fokus karena menjadi tempat yang setiap hari digunakan banyak orang untuk beribadah. Sebelum salat, jemaah menggunakan tempat wudu dan toilet sehingga kebersihan fasilitas tersebut dinilai penting.

“Jadi sebaik-baik tempat itu adalah masjid. Karena masjid itu tempat yang sakral, tempat yang setiap hari digunakan oleh banyak orang untuk beribadah,” ujarnya.

Ke depan, Ja.Klin tidak ingin berhenti di masjid-masjid dalam Kota Kendari. Irja berharap gerakan tersebut dapat menjangkau lebih banyak tempat ibadah di luar kota, khususnya untuk membantu menjaga kebersihan tempat wudu dan toilet.

“Insyaallah kegiatan Ja.Klin ini akan kami upayakan agar bisa terus kita lakukan secara rutin selagi masih diberikan kesehatan, kesempatan, dan kemampuan,” katanya.

Irja juga ingin makin banyak relawan dan masyarakat yang ikut terlibat. Ia secara khusus berharap anak muda di Kendari dapat mengambil bagian karena memiliki energi, kreativitas, dan pengaruh untuk mengajak orang lain melakukan hal positif.

“Karena kita tahu anak muda itu punya energi, kreativitas, dan pengaruh yang besar untuk mengajak orang lain melakukan hal-hal positif,” ujarnya.

Menurutnya, pesan Ja.Klin sebenarnya sederhana: menumbuhkan kepedulian terhadap kebersihan, mulai dari lingkungan sekitar hingga tempat ibadah.

“Pesan yang ingin Ja.Klin sampaikan sederhana, tapi itu penting sekali. Itu pentingnya menjaga kebersihan, baik kebersihan lingkungan, tempat tinggal, khusus lagi lingkungan ibadah seperti masjid. Mari kita sama-sama tumbuhkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, khususnya lingkungan ibadah,” tuturnya.

Ja.Klin juga terbuka bagi pengurus masjid yang ingin menjadikan masjidnya sebagai lokasi aksi berikutnya.

“Insyaallah Ja.Klin sangat terbuka selama memang membutuhkan dan kita bisa atur waktunya, insyaallah kita datang dan bantu bersama-sama melakukan aksi bersih-bersih ini,” katanya.

Bagi Irja, tujuan Ja.Klin bukan sekadar membuat masjid terlihat bersih setelah mereka datang. Ia berharap kebiasaan tersebut dapat menular dan mendorong lebih banyak orang untuk ikut peduli.

“Kami juga berharap makin banyak anak muda, komunitas, pengurus masjid dan masyarakat di Kota Kendari yang tergerak untuk melakukan hal yang sama,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak menunggu memiliki banyak uang atau perlengkapan lengkap sebelum berbuat baik.

“Tidak perlu menunggu banyak uang lah atau fasilitas cukup. Cukup kita mulai dari apa yang bisa kita lakukan dari lingkungan sekitar kita,” katanya.

Bagi Ja.Klin, kebaikan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.

“Karena bagi Ja.Klin kebaikan itu tidak harus besar. Yang penting dilakukan dengan ikhlas, konsisten dan bisa memberikan dampak positif bagi orang lain,” tuturnya.

Irja berharap gerakan kecil yang dijalankan bersama istrinya dapat terus tumbuh dan menginspirasi makin banyak orang untuk menjaga kebersihan lingkungan ibadah.

“Semoga gerakan kecil ini bisa terus tumbuh dan menginspirasi lebih banyak orang lagi untuk sama-sama menjaga kebersihan lingkungan ibadah di Kota Kendari,” pungkasnya.

Post Views: 31

Read Entire Article
Rapat | | | |