Kendari – Tiga dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) 66 Kendari berhasil meraih pendanaan dari dua program nasional pada 2026, yakni pendanaan penelitian melalui BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta pendanaan kebudayaan melalui Dana Indonesia Raya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Ketiga dosen tersebut yakni Dr. Astil Harli Roslan, Asrul Jabani, dan Intan Aprilianiswah. Ketiganya mengangkat berbagai isu strategis yang berkaitan dengan kebutuhan dan potensi Sulawesi Tenggara (Sultra), mulai dari UMKM, ekonomi sirkular, digitalisasi, perpajakan hingga pelestarian pengetahuan dan warisan budaya.
Capaian tersebut menambah deretan prestasi akademik STIE 66 Kendari. Sebelumnya, kampus tersebut juga mencatatkan dua program studi yang meraih akreditasi unggul, yakni Magister Manajemen dan S1 Manajemen.
Dr. Astil Harli Roslan memperoleh pendanaan BIMA untuk penelitian yang berfokus pada transformasi hijau UMKM, pemanfaatan sumber daya sekunder, serta penguatan ekonomi sirkular.
Melalui Dana Indonesia Raya, Astil mengangkat Bapongka masyarakat Bajo di Wakatobi sebagai pengetahuan maritim adaptif yang dinilai penting untuk dikaji, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sementara itu, Asrul Jabani memperoleh pendanaan BIMA melalui penelitian mengenai digitalisasi UMKM di Kota Kendari, khususnya dalam mendukung kemudahan transaksi dan memperluas akses pasar.
Dalam program Dana Indonesia Raya, Asrul mengangkat Kacucung Dua, yang merupakan warisan hidup masyarakat Burangasi dan berkaitan dengan penguatan identitas serta keberlanjutan budaya masyarakat diaspora.
Adapun Intan Aprilianiswah B. memperoleh pendanaan BIMA untuk penelitian mengenai implementasi coretax, kepercayaan, dan kepatuhan wajib pajak di Sultra.
Melalui Dana Indonesia Raya, Intan mendapat dukungan pada kategori pendayagunaan ruang publik dengan mengangkat warisan budaya Kesultanan Buton di Kota Baubau.
Dr. Astil Harli Roslan mengatakan, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa dosen memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi terhadap persoalan akademik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan di daerah.
“Tema yang kami angkat berbeda-beda, tetapi semuanya berangkat dari potensi dan persoalan nyata di Sulawesi Tenggara. Ada UMKM, transformasi hijau, digitalisasi, perpajakan, masyarakat pesisir, dan warisan budaya. Ini menunjukkan bahwa ruang penelitian dan kebudayaan di daerah kita sangat luas,” kata Astil berdasarkan keterangan tertulisnya, Kamis (27/8/2026).
Dosen yang tumbuh dan besar di Kabupaten Wakatobi itu menilai capaian tersebut juga sejalan dengan upaya STIE 66 Kendari dalam memperkuat kualitas akademik sekaligus meningkatkan kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat.
“Yang paling penting bukan hanya memperoleh pendanaan, tetapi bagaimana kegiatan itu dilaksanakan dengan baik, menghasilkan pengetahuan, memperkuat kolaborasi, dan memberi manfaat nyata kepada masyarakat,” ujarnya.
Astil berharap capaian tersebut dapat mendorong lebih banyak dosen dan mahasiswa STIE 66 Kendari untuk terlibat dalam program penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun kegiatan kebudayaan.
“Kami berharap ini menjadi motivasi bersama. Perguruan tinggi harus hadir melalui riset dan kegiatan yang relevan dengan kebutuhan daerah sekaligus ikut menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya Sulawesi Tenggara,” katanya.
Keberhasilan tiga dosen tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan spiraling-up institutional impact, yakni menjadikan prestasi, riset, dan kontribusi dosen sebagai energi untuk memperluas dampak dan reputasi institusi.
Dengan mengangkat isu ekonomi sirkular, digitalisasi UMKM, perpajakan digital hingga pelestarian warisan budaya Sultra, capaian tersebut menunjukkan bahwa potensi lokal dapat menjadi pijakan bagi STIE 66 Kendari untuk memperluas jejaring dan kontribusi hingga tingkat regional Asia Tenggara.
Post Views: 5

18 hours ago
11















































