30 Anak Suku Bajo di Konawe Tidak Bersekolah, Mahasiswa UHO Kendari Hadirkan BAJO-QUEST

3 hours ago 5

Konawe – Sebanyak 30 anak Suku Bajo di Desa Bajo Indah, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), tercatat tidak bersekolah. Kondisi tersebut mendorong lima mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari menghadirkan BAJO-QUEST, media pembelajaran berbasis permainan yang menggabungkan literasi dengan aktivitas gamifikasi.

Data Pusat Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak Universitas Indonesia (UI) mencatat adanya 30 anak Suku Bajo di Desa Bajo Indah yang tidak mengenyam pendidikan formal.

Kondisi itu menjadi salah satu alasan tim mahasiswa UHO Kendari mengembangkan BAJO-QUEST melalui program kreativitas mahasiswa bidang pengabdian kepada masyarakat (PKM-PM) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Tim merancang BAJO-QUEST agar kegiatan belajar tidak berlangsung satu arah. Anak-anak diajak membaca, memilih jawaban, menyelesaikan tantangan, hingga mengikuti alur permainan yang memuat materi literasi dan pembelajaran.

Pendekatan tersebut membuat anak berperan langsung selama proses belajar. Permainan menjadi sarana untuk mendorong anak lebih tertarik mengikuti aktivitas pendidikan.

Ketua tim pengembang BAJO-QUEST, Nur Aulia Soliha, mengatakan ide tersebut muncul dari ketertarikan anak terhadap permainan yang kemudian dipadukan dengan kegiatan literasi.

“Selama percobaan gamifikasi BAJO-QUEST, saya melihat antusiasme adik-adik yang cukup tinggi. Mereka juga menyampaikan bahwa di usia mereka sekarang, bermain game menjadi sesuatu yang lebih menarik. Karena itu, kami mencoba menggabungkan permainan dengan literasi agar mereka dapat belajar dengan cara yang lebih menyenangkan,” kata Nur Aulia, Sabtu (29/8/2026).

Nur Aulia mengembangkan BAJO-QUEST bersama Muhammad Al Faroq dan Tasya Eka Ramadani dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Abrar Wujedaan dari Program Studi Ilmu Komputer, serta Made Putra Dermawan dari Program Studi Psikologi.

Tim berharap BAJO-QUEST tidak berhenti setelah program PKM-PM selesai. Media tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan bersama mitra dengan menambah materi dan tantangan sesuai kebutuhan belajar anak-anak Suku Bajo di Desa Bajo Indah.

“Kami berharap BAJO-QUEST dapat terus dikembangkan dan digunakan secara berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan minat belajar dan literasi anak-anak di Desa Bajo Indah serta mendorong mereka untuk tetap melanjutkan pendidikan,” ujar Nur Aulia.

Tim memadukan keilmuan teknologi, komunikasi, dan psikologi untuk menyesuaikan permainan dengan karakteristik anak. Mereka juga menggandeng Kawan Inspirasi Kendari sebagai mitra dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan di Desa Bajo Indah.

Sebelum menggunakan BAJO-QUEST, tim melakukan sosialisasi kepada mitra dan memberikan tes awal kepada peserta. Anak-anak kemudian diperkenalkan dengan mekanisme permainan sebelum mengikuti berbagai aktivitas yang menggabungkan unsur membaca dan pembelajaran.

Saat diterapkan, anak-anak menunjukkan antusiasme dalam mengikuti permainan. Mereka terlibat dalam aktivitas membaca, menjawab pertanyaan, dan menyelesaikan tantangan yang tersedia.

Post Views: 10

Read Entire Article
Rapat | | | |