Wakatobi – Sejumlah kejanggalan kembali mencuat dalam prosesi wisuda yang berlangsung di rumah pribadi mantan Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Wakatobi, Suruddin, pada Rabu (20/5/2026).
Dari total 26 peserta wisuda, 24 di antaranya tercatat pernah menjadi mahasiswa STAI Wakatobi sejak resmi terdaftar pada 2022 sebelum mutasi ke Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) At-Taqwa Gegerkalong Bandung pada September 2025. Sementara itu, identitas dua peserta lainnya hingga kini belum diketahui secara pasti.
Persoalan tersebut kian menjadi sorotan setelah adanya temuan dalam Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) oleh pihak STAI Wakatobi. Sebanyak 24 peserta wisuda dikabarkan tercatat sebagai mahasiswa baru di STIT At-Taqwa Gegerkalong Bandung pada tahun yang sama saat terdaftar di STAI Wakatobi.
Peserta wisuda STIT At-Taqwa Gegerkalong Bandung, Andi Amar, saat diwawancarai di MAN 1 Wakatobi. Foto: Wa Listiani/Kendariinfo. (22/5/2026).Pihak STAI Wakatobi menilai perlu adanya penelurusan mendalam mengenai persoalan tersebut. Pasalnya, 24 peserta wisuda dinyatakan mengikuti rangkaian perkuliahan di STAI Wakatobi, bukan STIT At-Taqwa Gegerkalong Bandung, sehingga perhelatan wisuda yang digelar dinilai tidak memenuhi pertanggungjawaban akademik.
Peserta wisuda STIT At-Taqwa Gegerkalong Bandung, Andi Amar, turut disorot karena pada Mei 2026 ini, ia dianggap masih harus menjalani perkuliahan semester 6. Hal itu dikuak oleh Rahma selaku Ketua Bidang Akademik sekaligus Dosen Pendidikan Agama Islam STAI Wakatobi yang juga pernah mengajar di kelas Andi pada semester 1 – 4.
Rahma mengungkapkan jumlah satuan kredit semester (SKS) Andi bahkan belum mencukupi untuk menyelesaikan studi dan menyandang gelar sarjana, karena 9 mata kuliahnya belum diselesaikan.
“Wisudawan atas nama Andi Amar semestinya saat ini harus menjalani semester 6 dengan jumlah SKS yang belum mencukupi, yaitu 150 SKS, sementara yang diselesaikan baru 122 SKS. Jadi, mata kuliahnya belum cukup. Masih ada 9 mata kuliah yang belum selesai,” ungkap Rahma saat ditemui di STAI Wakatobi, Jumat (22/5).
Ketua STAI Wakatobi, Sarni, saat diwawancarai di STAI Wakatobi. Foto: Wa Listiani/Kendariinfo. (22/5/2026).Meski demikian, Andi mengelak dan mengatakan telah menuntaskan seluruh mata kuliah tersebut. Ia yang berprofesi sebagai tenaga administrasi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Wakatobi ini hanya mengakui pernah menjalani perkuliahan di STAI Wakatobi sebelum lanjut ke STIT At-Taqwa Gegerkalong Bandung pada awal 2026.
“Sudah selesai semua (mata kuliah). Sebenarnya saya ini masih di STAI Wakatobi. Karena ada konflik kemarin, saya harus pindah untuk melanjutkan perkuliahan. Kebetulan di STIT Bandung ini menerima saya,” ujar Andi saat ditemui di MAN 1 Wakatobi, Jumat (22/5).
Menanggapi hal itu, Ketua STAI Wakatobi, Sarni, menyatakan akan melaporkan perkara ini ke Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI) untuk ditindaklanjuti secara tuntas.
“Dampak dari persoalan STAI Wakatobi ini menjadikan status kemahasiswaannya tidak jelas, karena di pangkalan data itu tertulis sebagai mahasiswa mutasi. Tapi, kami tidak mendiamkan hal ini, melainkan berkoordinasi kepada pihak agama,” bebernya kepada Kendariinfo di STAI Wakatobi, Jumat (22/5).
Sarni turut mengkhawatirkan adanya dugaan praktik jual beli ijazah oleh oknum-oknum tertentu. Apabila terbukti, pihaknya akan mengajukan permohonan penutupan kampus yang mengeluarkan ijazah tersebut serta memohon pencabutan gelar akademik peserta wisuda terkait.
“Dan jika terbukti, maka kami mengajukan permohonan penutupan kampus yang telah mengeluarkan ijazah tersebut, termasuk pencabutan gelar akademik bagi peserta wisuda yang telah berani melakukan manipulatif data akademiknya,” tegas Sarni.
Klarifikasi Dugaan Korupsi Usai Gelar Wisuda, Suruddin: Saya Butuh Dipanggil Polisi atau Kejaksaan
Post Views: 31

14 hours ago
7














































