Makna Kadandio dalam Tradisi Kabuenga Wakatobi: Nyanyian Nasihat dan Media Mencari Jodoh

8 hours ago 4

Wakatobi – Salah satu bagian menarik dalam tradisi Kabuenga (ayunan) adalah kehadiran para gadis yang membawa minuman sambil mengelilingi lintasan acara. Pada pelaksanaan Sabtu (30/5/2026) ini, sebanyak 150 gadis turut ambil andil dalam prosesi tersebut.

Para gadis itu berkeliling sebanyak tiga putaran di sekitar Masjid Nurul Yaqin Topa Mandati yang berdampingan dengan Permandian Topa Mandati di Kelurahan Mandati I, Kecamatan Wangiwangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra). Seluruhnya berjalan sambil melantunkan nyanyian. Prosesi itulah yang kemudian disebut Kadandio.

Ketua Lembaga Adat Kabupaten Wakatobi, La Ode Usman Baga, menyampaikan putaran itu umumnya berjumlah ganjil. Angka tersebut memiliki filosofi tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakat berdasarkan prinsip yang diwariskan para leluhur.

“Biasanya itu diambil putaran ganjil. Tiga, boleh lima, boleh juga tujuh. Itu secara filosofi ada makna tertentu di dalam tata kehidupan sosial masyarakat ini walaupun mungkin di ajaran rasul, misalnya hadis tidak ada, tapi itulah prinsip leluhur kita,” ujar La Ode Usman saat diwawancarai Kendariinfo di lokasi acara, Sabtu (30/5).

Sementara itu, nyanyian yang dilantunkan mengandung berbagai nasihat, di antaranya mengenai kesabaran, keimanan, serta tata cara menjalani kehidupan. La Ode Usman juga mengatakan isi nasihat tersebut banyak menggunakan bahasa Wolio.

“Banti-banti, pantun-pantun. Itu nasihat-nasihat di dalamnya. Tadi itu ada lagu yang menyangkut masalah kesabaran, keimanan, tata cara kehidupan. Bahasa wolio banyak di situ. Anak laki-laki yang kurang ajar saat merasa hebat karena orang tuanya adalah raja, maka dihantam dengan lagu,” jelasnya.

Adapun minuman yang dibawa para gadis pada prosesi kali ini berupa minuman bersoda. La Ode Usman menyebut pada zaman dulu minuman yang dibawa berjenis arak tradisional. Jenis minuman tersebut diperbolehkan untuk diganti.

Minuman itulah yang berfungsi sebagai media pertemuan gadis dan pemuda apabila saling memiliki ketertarikan. Para gadis itu makin tampak memikat dengan balutan pakaian adat serta rias wajah.

“Boleh (diganti jenis minumannya). Dulu itu minuman arak tradisional. Sekarang diganti. Tidak mabuk saja orang kurang ajar, apalagi mabuk. Jadi, kita ganti dengan minuman biasa. Ini media mempertemukan orang, mempertemukan jodoh,” ungkapnya.

Untuk bergabung dalam barisan Kadandio pada acara tersebut, para gadis sebelumnya harus mengikuti rangkaian latihan yang tidak sebentar. Mereka bahkan berlatih giat hingga malam demi menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam prosesi adat tersebut.

Tradisi Kabuenga Kembali Digelar di Wakatobi, Jadi Ajang Pencarian Jodoh dan Pelestarian Budaya

Post Views: 1

Read Entire Article
Rapat | | | |