Kolaka Utara – Aktivitas pembelajaran di SDN 13 Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra), dilakukan di ruang kelas beralas tanah dan berdinding bolong.
Sejumlah kelas di sekolah tersebut digunakan untuk proses belajar mengajar meski kondisinya memprihatinkan. Tiga ruang kelas di sekolah tersebut masih beralas tanah. Sementara itu, sebagian dinding yang terbuat dari kayu dan kalsiboard juga telah berlubang.
Sekolah yang berada di Dusun Tobau, Desa Batuganda, Kecamatan Lasusua, Kolut itu menjadi satu-satunya sekolah dasar yang melayani masyarakat di wilayah dengan lebih dari 400 penduduk tersebut. Sejak berstatus sekolah negeri, sebagian fasilitas belajar belum mengalami perbaikan secara menyeluruh.
Kepala SDN 13 Lasusua, Kirman. Foto: Istimewa. (13/7/2026).Dari lima ruang kelas yang tersedia, dua telah berlantai semen, sedangkan tiga lainnya masih beralas tanah. Keterbatasan ruang juga membuat siswa kelas I dan II harus belajar dalam satu kelas.
Selain keterbatasan sarana, akses menuju sekolah juga menjadi tantangan bagi tenaga pendidik. Lokasi sekolah yang berada di kawasan pegunungan hanya dapat dijangkau melalui jalan setapak sehingga saat musim hujan tidak semua guru bisa hadir mengajar.
Guru SDN 13 Lasusua, Usman, mengatakan para guru telah membagi jadwal mengajar. Namun, ketika cuaca buruk, ia kerap mengajar seluruh siswa dari kelas I hingga kelas VI seorang diri karena guru lain tidak dapat melewati akses menuju sekolah.
“Kalau cuaca buruk, saya yang mengajar semua kelas mulai kelas satu sampai kelas enam karena kondisi jalan tidak memungkinkan dilalui,” ujarnya kepada awak media, Senin (13/7/2026).
Saat ini, SDN 13 Lasusua memiliki puluhan siswa dengan delapan guru dan seorang kepala sekolah. Kepala SDN 13 Lasusua, Kirman, mengatakan pihak sekolah telah menyampaikan kondisi tersebut kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kolut dan pemerintah setempat.
Menurutnya, pemerintah telah merespons dan berencana melakukan perbaikan sekolah pada tahun ini. Selain itu, pihak sekolah juga telah berkoordinasi dengan pemerintah desa terkait penambahan lahan untuk pengembangan sekolah.
“Kami sudah melaporkan kondisi ini. Insyaallah tahun ini ada perbaikan dari dinas. Penambahan lokasi sekolah juga sudah kami bicarakan dengan kepala desa. Mudah-mudahan bisa terealisasi,” kata Kirman.
Sebelumnya, Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sultra, Abdul Salam, yang turut meninjau SDN 13 Lasusua mengaku prihatin dengan kondisi ruang belajar dan akses menuju sekolah yang berada di Dusun Tobau. Menurutnya, hasil peninjauan tersebut akan dilaporkan kepada pimpinan sebagai bahan pertimbangan dalam pengusulan bantuan ke Kementerian Pendidikan.
“Terus terang kami melihat ruang belajar yang ada memang memprihatinkan. Karena itu kami akan melaporkan kondisi faktual yang kami lihat langsung kepada pimpinan untuk menjadi bahan pertimbangan di tingkat kementerian,” katanya dikutip dari Dinas Kominfo Kolut, Kamis (25/6) lalu.
Ia menambahkqn, pemerintah pusat saat ini masih membuka peluang usulan tambahan dalam program revitalisasi sekolah. Namun seluruh persyaratan administrasi, terutama sertifikat lahan, harus terlebih dahulu diselesaikan.
“Kalau sertifikat dan persyaratan lainnya bisa diselesaikan sebelum Agustus, kami akan berupaya mengusulkan sekolah ini pada tahap berikutnya. Tetapi keputusan akhir tetap berada di pemerintah pusat karena harus melalui proses seleksi dan penentuan prioritas secara nasional,” lanjutnya.
Sementara itu, menurut Kepala Dikbud Kolut, Alaudin Syah, sekolah tersebut berawal dari inisiatif masyarakat setempat yang pada tahun 2014 secara swadaya membeli lahan seluas 900 meter persegi dan membangun dua ruang belajar sederhana dari kayu.
“Bangunan kayu yang saat ini viral itu merupakan cikal bakal berdirinya sekolah. Berkat semangat masyarakat, sekolah tersebut kemudian dinegerikan pada tahun 2015,” ujar dia, Kamis (25/6) lalu.
SDN 13 Lasusua Kolut Rusak Parah, Dinding Jebol
Post Views: 3

5 hours ago
4
















































