Kendari – Mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari asal Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra), Muh. Ismail, berhasil meraih medali perunggu dan penghargaan poster favorit dalam Kompetisi Esai National Empowerment, Innovation, Research and Art (NEIRA) 3 di Yogyakarta pada 29 – 30 Agustus 2026.
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Lingkungan, Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) UHO Kendari itu meraih prestasi tersebut melalui gagasan inovasi bertajuk “Silamon: Restorasi Ekosistem Lamun Berbasis Smart Monitoring System sebagai Strategi Blue Carbon terhadap Mitigasi Iklim”.
Ismail yang kini duduk di semester VII mengatakan gagasan tersebut berangkat dari keresahan terhadap degradasi ekosistem lamun dan kondisi suhu yang makin ekstrem, khususnya di Sultra.
Menurutnya, lamun memiliki peran penting dalam menyerap karbon sehingga keberadaannya perlu dijaga di tengah meningkatnya aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.
“Lamun bukan sekadar tumbuhan biasa, melainkan tumbuhan yang bisa membantu kita mengatasi perubahan iklim. Perlu kesadaran untuk tetap menjaga dan peduli terhadap lingkungan,” kata Ismail kepada Kendariinfo, Rabu (2/9/2026).
Dalam kompetisi tersebut, Ismail berkolaborasi dengan mahasiswa dari bidang Teknik Rekayasa Infrastruktur Lingkungan. Ia mengetahui kompetisi itu dari informasi yang dibagikan oleh temannya.
Gagasan yang mereka bawa tidak hanya berupa konsep restorasi lamun, tetapi juga menawarkan inovasi berupa robot pemantau yang dirancang menyerupai ikan terbang.
Robot tersebut dirancang untuk membantu memantau kondisi ekosistem lamun secara lebih detail. Salah satu teknologi yang ditawarkan dalam inovasi tersebut ialah Light Detection and Ranging (LiDAR), yang dapat digunakan untuk pemetaan dengan tingkat presisi tinggi.
Teknologi itu diharapkan mampu menghasilkan visualisasi tiga dimensi ekosistem lamun sehingga kondisi kawasan dapat dipantau dan menjadi dasar dalam upaya restorasi.
“Keunggulan dari robot ini adalah LiDAR, teknologi pemetaan citra canggih dengan presisi tinggi yang dapat menggambarkan visual tiga dimensi ekosistem lamun,” ujarnya.
Ismail mengaku proses menyusun gagasan tersebut tidak mudah. Tantangan muncul ketika tim harus menerjemahkan konsep robot ke dalam gambar, prototipe, hingga animasi yang menggambarkan alur kerja alat.
Mereka juga mendapat sejumlah masukan selama proses penyusunan dari dosen pembimbing, Dr. Asramid Yasin. Revisi dilakukan untuk menyempurnakan konsep sekaligus melihat potensi dan keterbatasan sensor yang digunakan.
Poster yang ditampilkan dalam kompetisi tersebut kemudian dibuat dengan menjelaskan bentuk robot, fungsi setiap bagian, hingga alur pergerakannya. Tim juga berupaya memastikan gagasan tersebut tidak berhenti sebagai konsep, tetapi memiliki peluang untuk direalisasikan dan digunakan.
Bagi Ismail, penghargaan yang diraih di tingkat nasional bukan sekadar pencapaian, tetapi menjadi pengalaman penting untuk mengembangkan diri dan mengejar cita-citanya melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.
Ia ingin membuktikan bahwa mahasiswa dari daerah, khususnya dari wilayah pedesaan di bagian utara Sultra, memiliki kemampuan untuk bersaing dalam kompetisi tingkat nasional.
“Ini bukan tentang penghargaan saja, tetapi ini adalah salah satu pengalaman yang berharga, terutama bagi saya yang bermimpi ingin melanjutkan pendidikan magister. Saya ingin membuktikan bahwa kami dari ujung utara Sultra, khususnya anak pedesaan, juga punya potensi dan bisa bersaing,” tegasnya.
Atas capaian tersebut, Ismail menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tuanya yang terus memberikan doa dan dukungan, kakaknya, dosen FHIL UHO Kendari, serta teman-teman kampus yang membantu selama proses penyusunan esai.
Ia juga mengapresiasi rekan satu timnya, Intan, yang disebutnya banyak bertukar pikiran hingga gagasan tersebut dapat diselesaikan secara maksimal.
Nah sekarang Makin Tahu Indonesia kan!!
Post Views: 0

1 day ago
12















































