Dari Keluarga Tak Mampu, Anak-Anak di Sekolah Rakyat Kendari Berani Bermimpi Jadi Dokter

8 hours ago 3

Kendari – Di sebuah ruang kelas sederhana di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 25 Kendari, mimpi-mimpi yang selama ini terasa jauh perlahan mulai menemukan jalannya. Anak-anak dari keluarga prasejahtera yang sebelumnya dibayangi keterbatasan ekonomi kini mulai berani membicarakan masa depan mereka, dari menjadi dokter hingga menggapai cita-cita yang lebih tinggi.

Potret itu terlihat saat Menteri Koordinator (Menko) Bidang Politik dan Keamanan (Polkam), Djamari Chaniago bersama Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian mengunjungi SRMP 25 Kendari, Sabtu (30/5/2026).

Di hadapan para siswa dan orang tua, Djamari tidak langsung berbicara soal program atau pembangunan. Ia lebih banyak mendengarkan cerita tentang perubahan yang terjadi setelah anak-anak mereka tinggal dan belajar di Sekolah Rakyat.

Dari cerita para orang tua, Djamari mendengar bagaimana anak-anak yang dulu sulit diarahkan kini mulai terbiasa hidup disiplin. Mereka bangun tepat waktu, lebih rajin beribadah, dan memiliki semangat belajar yang sebelumnya tidak terlihat.

“Kami ingin melihat langsung apa yang dirasakan keluarga. Ternyata banyak perubahan yang terjadi pada anak-anak mereka,” kata Djamari.

Bagi sebagian keluarga, perubahan itu bukan hanya soal nilai pelajaran. Mereka melihat anak-anaknya mulai memiliki harapan yang sebelumnya nyaris tidak pernah dibicarakan di rumah.

Salah satunya Fatimah. Anak pertama dari tiga bersaudara itu mengaku kondisi ekonomi keluarganya membuat kesempatan memperoleh pendidikan yang baik terasa sulit dijangkau. Namun keadaan berubah setelah ia diterima di Sekolah Rakyat.

Di sekolah berasrama tersebut, Fatimah mendapatkan fasilitas pendidikan yang seluruhnya ditanggung pemerintah. Kesempatan itu membuatnya berani memupuk cita-cita yang selama ini hanya tersimpan dalam angan.

“Saya ingin menjadi dokter dan membanggakan orang tua,” ujarnya.

Kalimat sederhana itu menjadi gambaran tentang bagaimana pendidikan dapat membuka jalan baru bagi anak-anak yang lahir dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Menko Polkam Djamari Chaniago mengaku tersentuh mendengar berbagai cita-cita yang disampaikan para siswa. Menurutnya, kesempatan yang sama dalam pendidikan menjadi kunci agar anak-anak dari keluarga kurang mampu dapat bersaing dan mengubah masa depan mereka.

“Tadi ada yang ingin menjadi dokter, ada juga yang punya cita-cita sangat besar. Itu menunjukkan mereka mulai percaya diri untuk bermimpi,” tuturnya.

Perubahan serupa dirasakan Andi Azril, salah seorang orang tua siswa. Ia mengaku awalnya khawatir ketika anaknya harus tinggal jauh dari keluarga untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat. Namun kekhawatiran itu perlahan berubah menjadi rasa syukur.

Menurutnya, anak yang sebelumnya sering membantah kini lebih tertib dan bertanggung jawab setelah mendapatkan pendampingan dari guru serta wali asrama.

“Anak saya sekarang jauh lebih baik. Kami sebagai orang tua merasakan langsung perubahannya,” ujarnya.

Kepala SRMP 25 Kendari, Ferdinand Boonde, mengatakan banyak siswa yang datang dengan latar belakang keterbatasan, baik ekonomi maupun kemampuan akademik dasar.

Beberapa siswa bahkan masih mengalami kesulitan membaca dan berhitung ketika pertama kali masuk sekolah. Namun melalui pendampingan intensif selama hampir satu tahun terakhir, kemampuan mereka terus berkembang.

Tidak hanya itu, sejumlah siswa mulai menorehkan prestasi di bidang olahraga. Beberapa di antaranya berhasil meraih medali pada kejuaraan silat dan taekwondo meski baru menjalani latihan dalam waktu singkat.

Bagi Ferdinand, capaian tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak menentukan masa depan seorang anak apabila mereka memperoleh kesempatan belajar yang memadai.

“Kami melihat sendiri bagaimana anak-anak ini berkembang. Mereka bukan hanya bertambah pintar, tetapi juga lebih percaya diri dan berani memiliki cita-cita,” katanya.

Harapan yang sama kini juga disiapkan untuk lebih banyak anak di Kota Kendari. Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari telah menyiapkan lahan pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat yang direncanakan mampu menampung hingga 270 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA pada tahun ajaran mendatang.

Di balik kunjungan para pejabat negara hari itu, terdapat cerita yang lebih besar tentang anak-anak yang mulai melihat masa depan dengan cara berbeda. Mereka mungkin lahir dari keluarga yang serba terbatas, tetapi kini memiliki kesempatan untuk menulis jalan hidupnya sendiri.

Bagi Fatimah dan puluhan siswa lainnya, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar. Sekolah itu menjadi tempat di mana mimpi yang dulu terasa mustahil mulai tampak mungkin untuk diwujudkan.

Post Views: 6

Read Entire Article
Rapat | | | |