Cuaca Panas Berkepanjangan, Kasus ISPA di Kendari Capai 20.168

6 hours ago 7

Kendari – Cuaca panas berkepanjangan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), meningkatkan paparan debu yang menjadi salah satu faktor risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kendari mencatat 20.168 kasus ISPA sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kendari, Ellfi mengatakan kondisi cuaca panas membuat masyarakat perlu lebih waspada terhadap paparan debu yang dapat meningkatkan risiko ISPA.

“ISPA ini sekarang kita lagi waspada-waspadanya karena sekarang kita menghadapi musim panas yang berkepanjangan. Faktor risiko ISPA salah satunya karena terpapar debu yang cukup tinggi,” kata Ellfi kepada Kendariinfo, Senin (14/9/2026).

Ia menjelaskan jumlah kasus ISPA di Kendari cenderung berubah setiap bulan, tetapi secara umum tidak menunjukkan penurunan yang konsisten. Kasus sempat meningkat, kemudian turun, lalu kembali naik pada bulan berikutnya.

Pada Januari 2026 tercatat 2.712 kasus, Februari 2.370 kasus, Maret 2.403 kasus, April 3.338 kasus, Mei 2.646 kasus, Juni 3.400 kasus, dan Juli sebanyak 3.299 kasus.

Dengan catatan tersebut, total kasus ISPA di Kota Kendari mencapai 20.168 kasus hingga Juli 2026.

Ellfi mengatakan debu menjadi salah satu faktor risiko yang perlu diperhatikan saat musim panas berlangsung dalam waktu panjang. Selain itu, masyarakat juga berisiko mengalami ISPA akibat paparan asap rokok.

Kondisi rumah turut menjadi faktor risiko, terutama hunian dengan ventilasi dan sirkulasi udara yang tidak baik. Kelembapan tinggi serta kepadatan penghuni rumah juga dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan.

“ISPA itu sendiri penyebabnya ada virus, ada bakteri, tapi yang paling banyak kita temukan di lapangan adalah virus,” ujarnya.

Meski jumlah kasus mencapai 20.168, Dinkes Kota Kendari belum menerima laporan kematian akibat ISPA sepanjang 2026.

“Kalau sampai dengan tahun ini alhamdulillah belum ada laporan kematian akibat ISPA,” lanjutnya.

Ia mengimbau masyarakat segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala yang tidak kunjung membaik. Terutama jika demam tetap berlangsung setelah mengonsumsi obat dan disertai sesak napas dengan intensitas tinggi.

Gejala lain yang perlu diwaspadai yakni pusing atau rasa oleng yang tidak dapat ditoleransi, nafsu makan menurun, serta gangguan istirahat.

Ellfi juga menegaskan angka 20.168 tersebut merupakan jumlah kasus, bukan jumlah orang. Satu orang dapat tercatat lebih dari satu kali apabila kembali mengalami ISPA pada bulan atau periode berbeda.

“Yang 20.168 itu bukan 20.168 orang. Bisa jadi saya, misalnya, di bulan Februari dapat, di bulan Maret lagi dapat. Itu bisa jadi kemungkinan kasus berulang,” jelasnya.

Menurut Ellfi, kasus ISPA dapat berulang karena dipengaruhi kondisi imunitas seseorang, faktor lingkungan, dan cuaca.

Post Views: 27

Read Entire Article
Rapat | | | |