Kendari – Bertahan di tengah musim dingin dengan suhu mencapai minus 40 derajat celcius menjadi bagian dari perjuangan Zakiah Zahra Arisona selama menempuh pendidikan di Rusia. Berkat kegigihannya, mahasiswi asal Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) ini berhasil lulus dari Ural Federal University dengan predikat Excellent.
Zakiah yang kini berusia 22 tahun resmi diwisuda pada 27 Juni 2026 setelah menyelesaikan studi di Program Studi Teknik Kimia dengan konsentrasi Kimia Analis.
Perjalanan Zakiah menuju kampus di Rusia tidak berlangsung instan. Sejak kecil ia beberapa kali berpindah sekolah. Pendidikan dasarnya dimulai di SD Hidayatullah, kemudian melanjutkan ke SDTQ Muadz Bin Jabal sebelum menyelesaikan kelas VI di Malaysia saat mengikuti orang tuanya.
Pengalaman belajar di Malaysia menjadi titik awal tumbuhnya keinginan Zakiah untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Saat itu, ia mengaku sempat kesulitan berbahasa Inggris hingga tidak memahami pertanyaan guru di kelas. Pengalaman tersebut justru memotivasinya untuk menguasai bahasa asing.
“Sejak saat itu saya merasa belajar bahasa adalah kemampuan yang sangat penting,” katanya kepada Kendariinfo, Senin (6/7/2026).
Setelah kembali ke Indonesia, Zakiah melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 5 Bekasi, kemudian menamatkan SMA di SMAN 4 Kendari. Selama duduk di bangku SMA, ia mulai aktif mencari informasi mengenai beasiswa luar negeri sambil meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.
Kesempatan kuliah di Rusia datang setelah ia mengetahui adanya program Russian Government Scholarship. Ia kemudian mengikuti seluruh tahapan seleksi, mulai dari administrasi, wawancara, hingga proses pemilihan universitas.
Zakiah akhirnya diterima di Ural Federal University yang berlokasi di Kota Yekaterinburg. Ia memilih Program Studi Teknik Kimia karena menyukai mata pelajaran kimia sejak SMA dan ingin belajar di negara yang melahirkan ilmuwan kimia ternama, Dmitry Mendeleev.
Sebelum memulai perkuliahan, Zakiah lebih dulu mengikuti kelas persiapan bahasa Rusia. Hampir seluruh program sarjana di negara tersebut menggunakan bahasa Rusia sebagai bahasa pengantar.
Meski demikian, tantangan sebenarnya baru dimulai ketika ia menjalani kehidupan sebagai mahasiswa internasional. Selain harus beradaptasi dengan bahasa, Zakiah juga menghadapi musim dingin ekstrem dengan suhu yang dapat mencapai minus 40 derajat celsius.
Menurutnya, perbedaan karakter masyarakat Rusia yang cenderung lebih tertutup juga menjadi tantangan tersendiri selama proses adaptasi.
“Di awal kuliah saya harus fokus belajar karena kendala bahasa. Sistem ujiannya juga seluruhnya berbasis lisan sehingga kami benar-benar dituntut memahami materi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap ujian mengharuskan mahasiswa menjawab soal teori dan perhitungan sebelum mempresentasikan jawabannya secara langsung di hadapan dosen. Jika gagal melewati ujian setelah tiga kali remedial, mahasiswa dapat dikeluarkan dari kampus.
Untuk menghadapi sistem tersebut, Zakiah memiliki cara belajar yang tidak biasa. Ia merekam seluruh materi yang disampaikan dosen, kemudian memutarnya kembali di rumah untuk ditulis ulang dan dipelajari hingga benar-benar dipahami.
Pada awal perkuliahan, ia mempelajari materi menggunakan bahasa Inggris terlebih dahulu sebelum menerjemahkannya ke bahasa Rusia. Memasuki tahun ketiga, Zakiah mulai mampu memahami materi kuliah langsung dalam bahasa Rusia.
Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk belajar. Bahkan, ia mengaku sekitar 70 persen waktunya digunakan membaca materi kuliah hingga larut malam, sementara sisanya dimanfaatkan untuk bekerja paruh waktu dan mengikuti sejumlah kegiatan organisasi.
Selama berada di Rusia, Zakiah aktif dalam berbagai kegiatan, di antaranya menjadi relawan lingkungan, mengikuti Model United Nations, bergabung dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), hingga menjadi guru bahasa Inggris bagi anak-anak Rusia.
Atas perjuangannya tersebut, Zakiah berhasil menyelesaikan studi dengan predikat Excellent. Ia mengaku tidak pernah membayangkan dapat meraih pencapaian itu.
“Saya percaya doa orang tua menjadi faktor terpenting. Banyak orang yang membantu saya selama kuliah, mulai dari teman-teman Indonesia, komunitas muslim, hingga dosen pembimbing yang selalu meluangkan waktu agar saya bisa memahami materi,” ungkapnya.
Saat ini, Zakiah telah menerima tawaran beasiswa dari seorang profesor untuk melanjutkan studi magister di Korea Selatan pada bidang komputasi kimia untuk desain material elektrokatalis. Namun, rencana tersebut masih ditunda karena ia perlu mempersiapkan biaya awal keberangkatan.
Kepada pelajar di Sultra yang ingin mengikuti jejaknya, Zakiah berpesan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.
“Jangan pernah berhenti mencoba. Pendidikan di luar negeri bukan hanya soal mendapatkan gelar, tetapi juga proses membentuk diri menjadi pribadi yang lebih tangguh dan mampu beradaptasi dengan berbagai perbedaan,” tutupnya.
Nah sekarang Makin Tahu Indonesia kan!!
Post Views: 30

1 day ago
9














































