3 Makam Sultan Buton Berpeluang Jadi Cagar Budaya Nasional

15 hours ago 10

Baubau – Tiga makam Sultan Buton di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) berpeluang menyandang status Cagar Budaya Nasional setelah Menteri Kebudayaan, Fadli Zon mendorong penetapan ketiga situs bersejarah tersebut sebagai warisan budaya yang dilindungi negara.

Ketiga makam yang diusulkan yakni makam Sultan Murhum sebagai Sultan Buton pertama, makam Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo yang merupakan Sultan Buton ke-20, serta makam La Maani atau Oputa Kabumbu Malanga sebagai Sultan Buton ke-22.

Hal itu disampaikan Fadli Zon saat mengunjungi kawasan Keraton Buton, dengan didampingi Gubernur Sultra Andi Sumangerukka dan Wali Kota Baubau Yusran Fahmi, pada Minggu (12/7/2026).

Fadli Zon mengatakan Benteng Kesultanan Buton telah lebih dahulu ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Menurutnya, pengakuan itu perlu diperluas dengan menetapkan situs-situs bersejarah lain yang memiliki nilai penting bagi perjalanan sejarah Kesultanan Buton, termasuk tiga makam para sultan.

“Harapannya, makam-makam para sultan juga dapat ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional sehingga upaya pelestarian sejarah dan budaya Buton makin kuat,” katanya dikutip dari Laman Diskominfo Sultra.

Ia menjelaskan pelestarian warisan budaya tidak cukup hanya melalui perlindungan dan konservasi. Pemerintah juga perlu melakukan pengembangan, pemanfaatan, serta pembinaan secara berkelanjutan agar nilai sejarah yang dimiliki dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurut Fadli, langkah tersebut membutuhkan sinergi antara Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra, Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau, serta seluruh pemangku kepentingan.

Dalam rangkaian kunjungannya, Fadli Zon bersama Gubernur Sultra turut berziarah ke makam Sultan Murhum. Ia menilai kawasan Benteng Kesultanan Buton bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga aset budaya yang memiliki nilai tinggi bagi Indonesia.

Ia optimistis penataan kawasan yang berkelanjutan akan meningkatkan daya tarik Benteng Buton sebagai destinasi wisata sejarah. Selain mempelajari jejak Kesultanan Buton, wisatawan juga dapat menikmati kekayaan budaya, panorama alam, dan potensi wisata kuliner di Kota Baubau.

Benteng Kesultanan Buton atau Benteng Wolio merupakan salah satu benteng bersejarah terbesar di Indonesia. Benteng sepanjang sekitar 2,75 kilometer itu mulai dibangun pada abad ke-16 pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-3 La Sangaji dan diselesaikan pada era Sultan Buton ke-4.

Benteng tersebut memiliki 12 pintu gerbang dan 16 bastion. Keunikannya terletak pada proses pembangunan yang dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Buton menggunakan batu karang dan kapur lokal tanpa campur tangan bangsa kolonial. Nilai sejarah dan karakter arsitekturnya menjadi salah satu dasar penetapan Benteng Kesultanan Buton sebagai Cagar Budaya Nasional.

Fadli Zon Terpukau Keunikan Benteng Keraton Buton, Soroti Potensi Pelestarian Sejarah

Post Views: 5

Read Entire Article
Rapat | | | |