Kendari – Sebanyak 25 hektare areal persawahan Amohalo di Kecamatan Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), terancam mengalami gagal panen akibat musim kemarau. Kondisi itu terjadi karena lahan persawahan kesulitan mendapatkan sumber air untuk mengairi tanaman padi.
Kepala Dinas Pertanian Kota Kendari, Imran Ismail mengatakan 25 hektare lahan tersebut masuk dalam kategori waspada puso atau gagal panen. Lahan itu merupakan bagian dari sekitar 335 hektare areal persawahan yang berada di Amohalo.
“Akibat musim kemarau ini ada kurang lebih 25 hektare yang waspada terjadinya puso atau gagal panen,” kata Imran kepada Kendariinfo, Selasa (25/8/2026).
Kondisi padi siap panen di kawasan persawahan Amohalo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari. Foto: Hasmin Ladiga/Kendariinfo. (16/5/2026).Menurut Imran, persoalan utama yang dihadapi petani bukan hanya ketersediaan pompa, tetapi juga sumber air yang dapat dipompa. Sejumlah sumber air yang selama ini digunakan petani melalui saluran tersier mulai mengalami penurunan debit.
Kondisi itu paling terasa pada lahan yang sulit dijangkau sumber air. Petani di kawasan tersebut selama ini mengandalkan aliran pada saluran tersier untuk memenuhi kebutuhan air persawahan.
Dinas Pertanian Kota Kendari telah menyiapkan sejumlah pompa untuk membantu petani. Pompa tersebut berasal dari swadaya masyarakat maupun bantuan pemerintah.
Imran menyebut Dinas Pertanian Kota Kendari sebelumnya telah memiliki 14 unit pompa air. Selain itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) baru menyalurkan empat unit pompa berukuran 3 inci untuk membantu penanganan di sejumlah wilayah yang membutuhkan pasokan air.
“Sudah dua yang tiba, dua lagi akan menyusul. Untuk pompa air sebenarnya sudah banyak, baik milik keluarga maupun punya Dinas Pertanian Kota Kendari yang sebelumnya sudah ada 14 unit,” ujarnya.
Meski pompa telah tersedia, Imran mengatakan alat tersebut tidak akan maksimal jika tidak ada sumber air dengan debit yang cukup. Karena itu, pihaknya mulai mencari sumber air alternatif untuk menyelamatkan lahan yang terancam puso.
Salah satu sumber yang dinilai masih memiliki debit air cukup baik adalah Sungai Wanggu. Aliran sungai tersebut berada di sekitar perbatasan persawahan Amohalo.
Namun, pemanfaatan Sungai Wanggu membutuhkan pompa dengan kapasitas lebih besar. Dinas Pertanian Kota Kendari memperkirakan pompa berukuran 6 hingga 10,5 inci diperlukan untuk mengalirkan air dari sungai menuju area persawahan.
Imran mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) serta dinas terkait di Pemprov Sultra untuk menangani kondisi tersebut.
“Kita coba memanfaatkan aliran Sungai Wanggu yang ada di pinggiran persawahan, perbatasan dengan persawahan Amohalo. Ini membutuhkan penanganan lebih lanjut karena membutuhkan pompa yang agak besar, ukuran 6 sampai 10,5 inci,” lanjutnya.
Ia berharap upaya penyediaan pompa dan pemanfaatan sumber air alternatif dapat menjaga pasokan air ke persawahan sehingga 25 hektare lahan yang saat ini berstatus waspada tidak sampai mengalami puso.
Post Views: 12

5 hours ago
4















































