Jaelani: Makna Kemerdekaan Harus Dirasakan Langsung oleh Rakyat

8 hours ago 9

Sulawesi Tenggara – Anggota Komisi IV DPR RI, Jaelani, menyebut peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia (RI) menjadi momentum untuk kembali memaknai kemerdekaan secara lebih substansial. Menurutnya, kemerdekaan tidak cukup dirayakan melalui kegiatan seremonial, tetapi harus hadir dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Hal itu disampaikan Jaelani menjelang peringatan HUT ke-81 RI pada 17 Agustus 2026. Ia menilai kemerdekaan perlu dimaknai di tengah berbagai persoalan yang masih dihadapi masyarakat, mulai dari kondisi iklim yang tidak menentu, harga pangan yang fluktuatif, hingga akses kesejahteraan yang belum sepenuhnya merata.

“Kemerdekaan, dalam wujudnya yang paling substansial, harus hadir dan dirasakan secara nyata. Di sinilah politik kehadiran memainkan peran penting,” ucap Jaelani, Minggu (16/8/2026).

Menurutnya, politik kehadiran bukan sekadar upaya meraih suara menjelang pemilu maupun kunjungan singkat yang hanya berorientasi pada publikasi. Politik kehadiran, kata dia, berarti hadir dan mendengarkan langsung persoalan masyarakat.

Ia mencontohkan petani yang menggantungkan hidup dari hasil pertanian, nelayan yang menghadapi risiko di laut, hingga masyarakat adat yang menjaga lingkungan dan kawasan hutan.

Sebagai anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, kelautan dan perikanan, lingkungan hidup, serta kehutanan, Jaelani menilai kehadiran negara harus diwujudkan melalui kebijakan yang konkret.

“Ketika petani terbebas dari kelangkaan pupuk, ketika nelayan mendapatkan jaminan ketersediaan bahan bakar minyak dan perlindungan keselamatan kerja, serta ketika ruang hidup masyarakat dijaga dari kerusakan lingkungan, di situlah kemerdekaan yang sesungguhnya sedang dirajut,” katanya.

Ia menambahkan, politik kehadiran menuntut para penyelenggara negara untuk tidak hanya mendengar laporan dan melihat persoalan dalam bentuk angka statistik.

“Politik kehadiran menuntut kita untuk mendengar, bukan sekadar menyimak; merasakan ketakutan dan harapan rakyat, bukan sekadar mencatatnya sebagai angka-angka statistik dalam program pembangunan,” ujarnya.

Jaelani kemudian menyebut cinta kepada tanah air dan masyarakat sebagai hal yang harus menjadi landasan dalam menjalankan politik kehadiran.

“Lantas, apa yang mengikat kemerdekaan dan politik kehadiran agar tidak rapuh ditelan dinamika kekuasaan? Jawabannya adalah cinta,” tambahnya.

Menurut dia, cinta kerap dianggap terlalu lembut untuk ditempatkan dalam diskursus politik. Padahal, kecintaan kepada bangsa dan masyarakat dapat menjadi landasan bagi lahirnya empati serta kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat.

“KH Hasyim Asy’ari pernah berpesan, hubbul wathan minal iman: kecintaan kepada bangsa bukan sekadar emosi budaya, melainkan ekspresi keimanan dan tanggung jawab beragama,” bebernya.

Ia mengatakan kecintaan seorang pemimpin kepada rakyat semestinya tercermin melalui kebijakan yang adil. Begitu pula seorang wakil rakyat harus mampu menjaga kepedulian terhadap persoalan masyarakat yang diwakilinya.

Karena itu, Jaelani menilai peringatan 81 tahun Indonesia merdeka harus menjadi momentum untuk memperbarui komitmen dalam menghadirkan negara di tengah masyarakat.

“Kemerdekaan yang sejati adalah ketika setiap anak bangsa, di mana pun mereka berada, merasa dicintai dan dilindungi oleh negaranya,” tuturnya.

Ia berharap politik kehadiran yang berlandaskan kepedulian dan kecintaan kepada masyarakat terus dijalankan untuk mewujudkan Indonesia yang maju, berdaulat, dan berkeadilan sosial.

“Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka!,” pungkasnya.

Post Views: 23

Read Entire Article
Rapat | | | |