Wakatobi – Masyarakat Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), ramai menyoroti gerakan tari para pemuda saat menari bersama para wanita yang tengah membawakan Tarian Lariangi di Keraton Liya Togo, Desa Liya Togo, Kecamatan Wangiwangi Selatan, Jumat (27/3/2026). Pemuda itu diketahui berasal dari luar kabupaten.
Dalam unggahan akun Facebook Suprianto S, terlihat pemuda tersebut bergerak bebas disertai sorakan tawa dari penonton. Aksi itu dinilai menjadikan gerakan tari sebagai bahan lelucon dan merendahkan penari wanita.
Melalui unggahannya, Suprianto menyampaikan bahwa meskipun pemuda itu berasal dari luar daerah, mereka seharusnya tetap menjaga etika saat mengikuti tarian daerah sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya setempat.
“Kalaupun wisatawan belum memahami makna dan gerakan tariannya, bukan berarti mereka bebas semaunya. Menjaga etika adalah batas paling dasar, sebuah bentuk penghormatan yang tak bisa ditawar terhadap tarian lokal dan nilai yang hidup di dalamnya,” tulis Suprianto dalam unggahannya, Senin (30/3).
Pengguna Facebook lainnya turut menyerbu kolom komentar unggahan tersebut, salah satunya ialah Abdul Rasid. Menurutnya, siapa pun tidak boleh menjadikan gerakan tari sebagai lelucon untuk dikonsumsi publik.
“Tarian tradisi (Lariangi) bukanlah sebuah hal yang bisa dijadikan lelucon dan kemudian dikonsumsi oleh masyarakat publik. Saya tidak mendalami ilmu sejarah, akan tetapi, dalam setiap gerakan dan nyanyian dalam Tari Lariangi itu memiliki makna dan arti tersendiri,” tulisnya dalam kolom komentar, Senin (30/3).
Sementara itu, dalam unggahan akun Facebook Ekor Pari, pengguna Facebook Aliadin Djamania ikut memberikan penjelasan terkait makna gerakan tarian yang dilakukan pria (ngifi). Ia juga menjelaskan bahwa gerakan ngifi berisi etika dan kesantunan terhadap penari wanita yang ketika dilanggar dapat dianggap sebagai pelecehan.
“Filosofi ngifi adalah rayuan dari sang pemuda kepada sang gadis yang sedang menari Lariangi. Tentu gerakan ngifinya harus dilandasi dengan etika dan kesantunan. Titik batasan dan tolak ukur etika dan kesantunan yang ditentukan oleh sang gadis atau keluarga sang gadis,” tulisnya di kolom komentar.
“Zaman dulu sering ada laki-laki yang dipukuli ramai-ramai oleh keluarga perempuan karena dianggap tidak menghargai atau dianggap melecehkan si gadis penari. Filosofi dari ngifi terhadap Lariangi sendiri menurut tradisi lisan yang kami temukan mengacu kepada gerakan ayam jantan merayu ayam betina yang dalam bahasa daerah disebut ‘serendei’,” sambungnya.
Kepala Desa (Kades) Liya Togo, La Ode Raja Ali, menjelaskan bahwa sebelum para tamu bergabung menari bersama para penari wanita, sudah ada penari pria yang memperagakan gerakan tari (ngifi) sebagai contoh yang dapat diikuti para tamu.
“Dalam kegiatan, memang saya tidak ada di lokasi kegiatan, para tamu selalunya ditemani para pegiat wisata. Untuk pemanduan gerakan, pengelola wisata tidak memandu. Tetapi sebelum para tamu menari, sudah ada penari (ngifi) yang tampil dan bisa menjadi contoh bagi para tamu,” jelasnya.
Menurutnya, hal itu dapat dimaklumi karena para tamu tersebut dinilai belum paham terhadap makna gerakan tari yang sesungguhnya. Meski begitu, pihaknya (terutama pegiat wisata) akan menjadikannya sebagai perhatian penting agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
“Terkait wisatawan yang menari (ngifi) dan dinilai melecehkan budaya itu menurut saya harus kita maklumi karena dia bukan warga setempat yang paham tentang gerakan yang sesungguhnya. Namun, ini menjadi pelajaran juga bagi kami terutama para pegiat wisata agar setiap tamu itu dibrifing terlebih dahulu,” ungkapnya.
Mewakili para pegiat wisata Desa Liya Togo, ia juga menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada seluruh pihak, khususnya masyarakat Kabupaten Wakatobi.
Sebagai informasi, Tari Lariangi merupakan tarian tradisional yang berasal dari salah satu pulau yang ada di Kabupaten Wakatobi, yakni Pulau Kaledupa. Tarian ini memiliki makna begitu dalam di setiap detail gerakan, riasan, pakaian, serta syair-syair yang dinyanyikan oleh para penari.
Para wanita menari mengiringi musik tradisional kendang serta gong, dengan gerakan khas dan sakral sambil melantunkan syair. Tarian tersebut diajarkan turun-temurun secara lisan.
Dalam pertunjukannya, dua pria bergabung menari (ngifi) di barisan penari wanita. Gerakannya juga lebih tangkas sehingga terlihat kontras dengan gerakan para penari wanita yang syahdu dan pelan. Bagi para tamu yang hadir, juga diperkenankan masuk ke barisan untuk ikut menari.
Pada zaman dulu, Tari Lariangi ditampilkan di istana raja. Kini, dipentaskan dalam berbagai acara adat maupun hajatan masyarakat. Pada 2013, tarian ini juga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Nasional.
Post Views: 84

18 hours ago
8












































