Kendari – Riris tidak lagi kaget ketika banjir perlahan merendam kawasan tempat tinggalnya di Jalan Haeba, Kelurahan Wuawua, Kecamatan Wuawua, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Selasa (26/5/2026) malam.
“Bulan Mei ini sudah empat kali banjir lumpur,” kata Riris kepada Kendariinfo.
Namun, ia bersama warga lainnya harus menelan kenyataan pahit ketika banjir datang di saat malam takbiran Iduladha yang seharusnya menjadi momen penuh sukacita.
Banjir melanda rumah warga di Jalan Haeba, Kelurahan Wuawua, Kecamatan Wuawua, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), saat seharusnya warga merayakan malam takbiran Iduladha 1447 hijriah. Foto: Istimewa. (26/5/2026).Alih-alih mempersiapkan perayaan hari raya, mereka justru menghabiskan malam dengan berjibaku menghadapi genangan air usai hujan mengguyur Kota Kendari.
Rumah Riris berada di dataran yang sedikit lebih tinggi, sehingga air hanya mampu mencapai halaman rumahnya saja. Namun, banjir itu tetap berhasil merangsek masuk ke rumah-rumah tetangganya.
“Alhamdulillah di rumahku tidak masuk ji, tapi tetanggaku kasihan masuk terus air dan lumpur,” jelasnya.
Bagi Riris dan warga lain di kawasan itu, banjir seolah telah menjadi langganan yang datang berulang. Sepanjang Mei 2026, air sudah empat kali masuk dan merendam rumah-rumah mereka.
Rekaman CCTV menampilkan seorang warga sedang menyelamatkan sepeda motornya yang nyaris hanyut akibat banjir di Jalan Haeba, Kelurahan Wuawua, Kecamatan Wuawua, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: Istimewa. (10/5/2026).“Debit air sudah terlalu besar, jadi pagar pembatas jebol. Alhasil air masuk semua mi ke kompleks,” terangnya.
Di bulan Mei, genangan keruh itu pertama kali datang pada Minggu (10/5) pagi, saat warga seharusnya menjalani aktivitas seperti biasa, namun banjir justru lebih dulu menggenangi permukiman mereka.
Riris memperlihatkan rekaman CCTV saat warga berusaha menyelamatkan sepeda motornya yang sempat terbawa arus pada banjir di hari itu.
“Motornya tetanggaku sampai terbawa arus,” kata Riris menjelaskan isi rekaman itu.
Menurutnya, banjir yang kerap melanda wilayahnya bukan semata dipicu hujan deras dengan durasi panjang. Dalam beberapa kejadian, genangan air bahkan tetap muncul meski hujan turun dengan intensitas ringan.
Bagi Riris, banjir yang terus datang bukan tanpa sebab. Ia menilai pembangunan perumahan di kawasan yang dulunya berupa perbukitan perlahan mengubah aliran air di wilayah itu.
Sementara drainase yang tak kunjung mampu menampung debit air membuat warga hidup dalam kewaspadaan. Setiap hujan turun, mereka seolah sudah tahu genangan bisa kembali datang kapan saja.
“Karena hujan juga nda terlalu deras dan lama tapi air segitunya naik,” ujarnya.
“Gunung-gunung yang harusnya jadi penyerapan air, jadi BTN mi semua, mana mereka nda taat sama drainase, izin pembangunan juga diloloskan terus,” pungkas Riris.
Post Views: 46

1 day ago
9














































