Kendari – Kinerja penerimaan negara di Sulawesi Tenggara (Sultra) pada triwulan I 2026 menunjukkan capaian positif. Hingga 31 Maret 2026, total pendapatan negara di wilayah ini telah mencapai Rp1,21 triliun.
Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sultra, Iman Widhiyanto, menjelaskan angka tersebut ditopang dua sumber utama, yakni penerimaan perpajakan sebesar Rp967,58 miliar dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) senilai Rp246,98 miliar. Komposisi ini memperlihatkan dominasi sektor pajak sebagai penggerak utama kas negara di daerah.
Dorongan terbesar justru datang dari lonjakan penerimaan pajak yang tumbuh tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Penerimaan perpajakan mengalami kenaikan 46,58 persen secara tahunan, ditopang juga oleh sektor kepabeanan yang melonjak sangat tinggi hingga 715,43 persen,” jelas Iman, Rabu (6/5/2026).
Dari sisi jenis pajak, peningkatan paling mencolok terjadi pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Angkanya melesat hingga 441,95 persen, menjadi indikator kuat bahwa aktivitas konsumsi masyarakat mengalami peningkatan signifikan dalam waktu singkat.
Fenomena ini tidak terjadi tanpa sebab. Lonjakan PPN pada Maret 2026 dipicu oleh peredaran uang yang besar setelah pencairan tunjangan hari raya (THR), baik dari pemerintah maupun sektor swasta. Pergerakan belanja masyarakat dalam waktu bersamaan mendorong transaksi di berbagai sektor dan secara langsung berdampak pada penerimaan pajak.
Namun di balik pertumbuhan tersebut, sektor pertambangan justru belum memberikan kontribusi optimal. Aktivitas perpajakan dari sektor ini masih tertahan karena sebagian besar pelaku usaha menunggu kepastian dokumen Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tambang sebelum meningkatkan produksi.
Di sisi lain, kinerja sektor kepabeanan menjadi kejutan tersendiri. Dalam waktu satu triwulan, realisasinya bahkan sudah melampaui target tahunan dengan capaian 111,72 persen. Angka ini menunjukkan pergerakan impor yang sangat intens dalam waktu singkat.
Iman menuturkan tingginya penerimaan dari kepabeanan berkaitan erat dengan pembangunan fasilitas pengolahan industri di Sultra.
“Kenaikan tajam pada penerimaan kepabeanan didorong oleh pembangunan smelter, karena sebagian besar peralatan yang digunakan masih berasal dari impor,” tuturnya.
Tak kalah mencolok, PNBP juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 29,50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini didorong oleh pendapatan dari Badan Layanan Umum (BLU) yang melonjak hingga 730,51 persen, terutama bersumber dari pembayaran uang kuliah tahunan di sektor pendidikan.
Secara keseluruhan, kombinasi antara konsumsi masyarakat, aktivitas impor industri, dan kontribusi sektor layanan publik membentuk struktur penerimaan negara yang kuat di Sultra pada awal tahun ini.
“Realisasi pendapatan negara ini menjadi fondasi penting dalam mendorong pembangunan serta menggerakkan ekonomi daerah,” tutup Iman.
Post Views: 3

19 hours ago
7













































