Baubau – Pembukaan kegiatan Layar Benteng menandai dimulainya rangkaian pemutaran film di enam titik yang tersebar di wilayah Kota Baubau, Kabupaten Buton, dan Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra). Layar Benteng dibuka secara resmi di kawasan Benteng Keraton Wolio, Sabtu (2/5/2026) malam.
Program itu menghadirkan karya-karya sineas lokal Sultra sebagai upaya mendekatkan film kepada masyarakat sekaligus menghidupkan ruang-ruang budaya dan sejarah melalui medium sinema. Kegiatan juga merupakan bagian dari dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesiana kategori Sinema Indonesiana tahun 2025.
Pada malam pembukaan, tiga film ditayangkan, yakni “Baruga” karya R. Hadikusuma, “Kabanti Bula Malino” karya Milenia, dan “Bola Pinoama” karya Alan ASJKG. Pemutaran berlangsung hangat dengan penuh antusias masyarakat. Anak-anak hingga orang tua tampak duduk bersila menikmati film dengan penuh perhatian.
Penonton film pada kegiatan Layar Benteng di kawasan Benteng Keraton Wolio, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Foto: Istimewa. (2/5/2026).Secara keseluruhan, terdapat 18 film dokumenter dan fiksi karya sineas daerah yang akan ditampilkan di seluruh titik pemutaran selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Ketua Panitia Layar Benteng, Andhy Loppes Eba, menyampaikan kegiatan itu merupakan bentuk nostalgia dari program yang pernah dijalankan Komunitas Seribu Benteng Production. Ia menyebut Layar Benteng menjadi sarana sineas lokal untuk menampilkan karya-karyanya.
“Jadi kegiatan Layar Benteng sebenarnya program komunitas Seribu Benteng Production. Jadi, di zaman dulu, kita keliling kampung, bawa proyektor, kemudian bikin pemutaran film di kampung-kampung. Kehadiran Layar Benteng ini menjadi salah satu sarana agar masyarakat bisa menonton karya-karya mereka,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Baubau, Idrus Taufiq Saidi, menyambut positif penyelenggaraan kegiatan sebagai bentuk sinergi antara perfilman, edukasi, dan pelestarian budaya. Menurut Idrus, perkembangan media sosial, internet, dan perfilman saat ini menunjukkan film bukan hanya media hiburan, tetapi juga sarana edukasi sosial yang sangat kuat dalam mentransmisikan pengetahuan dan nilai-nilai budaya kepada masyarakat luas.
“Melalui film, sejarah masa lalu direkonstruksi, nilai budaya diperkenalkan kembali, dan identitas lokal diwariskan dalam bentuk visual yang relevan dengan perkembangan zaman. Film harus mampu menyampaikan pesan moral, pengetahuan, dan kebudayaan secara bermakna,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa dalam konteks pengembangan wisata budaya, film memiliki peran strategis sebagai instrumen promosi daerah. Lewat film pula, pengetahuan budaya lokal tetap diperkuat agar masyarakat mampu beradaptasi dengan modernisasi tanpa kehilangan jati diri.
“Ketika budaya lokal dikemas melalui narasi visual yang kuat, maka film tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga wajah promosi daerah. Konsep local genius atau kecerdasan budaya lokal harus terus diperkuat, agar masyarakat mampu beradaptasi dengan modernisasi tanpa kehilangan jati diri,” ujarnya.
Dikemas dengan konsep santai ala layar tancap, penonton menikmati seluruh rangkaian acara, mulai dari pertunjukan seni monolog, pembukaan resmi, pemutaran film, hingga diskusi interaktif bersama para kreator.
Kegiatan itu akan terus berlanjut di titik-titik lainnya, menghadirkan pengalaman menonton unik di ruang hidup masyarakat, serta memperkuat identitas budaya lokal melalui karya film daerah.
Adapun enam titik pemutaran Layar Benteng meliputi tiga kawasan benteng, yaitu Benteng Keraton Wolio, Benteng Sorawoli, dan Benteng Rongi, serta tiga kampung adat yakni Kampung Adat Wapulaka, Kampung Adat Wabula, dan Kampung Adat Wasuamba.
Post Views: 35

19 hours ago
11












































