Kendari – Musisi asal Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), Raim Laode, merilis lagu terbarunya berjudul Menari-nari, yang mengangkat tema kedewasaan dalam menghadapi kehilangan dan merelakan cinta.
Saat diwawancarai Kendariinfo, Sabtu (2/5/2026), Raim menjelaskan bahwa lagu tersebut bercerita tentang proses menerima perpisahan dengan lapang dada. Ia menyebut, Menari-nari menggambarkan fase ketika seseorang memilih mengikhlaskan sosok yang pernah berarti, serta menjadikan masa lalu sebagai pelajaran hidup, bukan penyesalan.
“Lagu ini tentang cinta yang tidak lagi ingin memiliki, tetapi memilih mendoakan. Seseorang yang dulu menjadi rumah, kemudian berubah menjadi kenangan dan keikhlasan,” ujarnya.
Raim mengungkapkan, proses kreatif lagu ini berawal dari pengalaman emosional dan kegelisahan pribadi. Ia menulis lirik secara bertahap, lalu mengolahnya menjadi melodi sederhana yang tetap jujur secara rasa. Lagu ini juga menjadi bagian dari album perdananya bertajuk Iqro’.
Dalam proses pengerjaan album tersebut, Raim memilih fokus penuh selama tiga bulan tanpa mengambil proyek lain. Ia bersama tim melakukan eksplorasi mendalam, mulai dari penulisan lirik hingga pencarian karakter musik.
Produksi lagu melibatkan label yang ia dirikan, Halemia Production, serta produser musik asal Kota Kendari, Elifas Sonaru.
Berbeda dari karya sebelumnya, Menari-nari tampil kuat secara visual dengan melibatkan talenta lokal Sultra dan pengambilan gambar di berbagai destinasi wisata Wakatobi, khususnya di Wanci. Beberapa lokasi yang digunakan, antara lain Benteng Keraton Liya Togo dan kawasan pesisir dengan latar laut serta senja.
Dalam produksi video klip, Raim menggandeng komunitas kreatif lokal Wakatobi serta Sanggar Tari Sala Evatu yang turut menghadirkan unsur budaya daerah, termasuk pengambilan gambar di Desa Liya Togo.
Konsep video klip mengangkat perjalanan seseorang dalam mengikhlaskan pasangan yang pernah menjadi bagian penting hidupnya. Cerita digambarkan melalui latar sanggar tari yang dibangun bersama, sebagai simbol kenangan dan proses berdamai dengan masa lalu.
Proses produksi video klip berlangsung sekitar tiga minggu, mulai dari tahap praproduksi hingga pascaproduksi sebelum akhirnya dirilis ke berbagai platform digital.
Raim menyebut, respons awal dari pendengar cukup tinggi dan melampaui ekspektasi. Banyak pendengar membagikan pengalaman pribadi yang mereka rasa selaras dengan pesan dalam lagu tersebut.
“Yang paling membahagiakan, lagu ini bukan hanya didengar, tetapi benar-benar dirasakan oleh pendengar,” katanya.
Ia menambahkan, melalui Menari-nari, dirinya ingin menyampaikan bahwa tidak semua cinta harus berakhir dengan memiliki. Ada kalanya cinta hadir untuk memberi pelajaran, sebelum akhirnya pergi dan meninggalkan kedewasaan.
Di balik prosesnya, Raim juga menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari membagi fokus dengan aktivitas lain hingga kendala teknis saat produksi video klip, seperti keterbatasan peralatan dan kondisi cuaca saat pengambilan gambar di luar ruangan.
Post Views: 2

3 hours ago
14












































