Nama Almarhum Imran Kembali Dikenang Dalam HUT ke-23 Konsel, Dikenal Sebagai Bapak Pembangunan

20 hours ago 10

Konawe Selatan – Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), genap berusia 23 tahun. Di balik perjalanan panjang daerah ini, nama almarhum H. Imran kembali dikenang dalam suasana yang teduh. Ia bukan sekadar bupati pertama, tetapi sosok yang memulai segalanya dari nol.

Sosok Imran masih hidup dalam ingatan banyak orang, termasuk melalui sebuah video yang diunggah di YouTube pada 9 Agustus 2017, dan kembali viral kali ini. Dalam rekaman itu, ia menceritakan perjalanan kariernya, tentang awal yang penuh keterbatasan, sekaligus tekad untuk membangun daerah yang baru lahir.

Lahir di Kelurahan Tawanga, Kecamatan Konawe, Kabupaten Konawe, 11 Mei 1952, Imran meniti karier sebagai birokrat dari bawah. Ia pernah menjabat Kepala Bappeda Kabupaten (sekarang kota) Kendari dan Sekretaris Daerah (Sekda) Kendari (2002 – 2003). Namun, perannya menjadi sangat penting saat Konawe Selatan dimekarkan.

Pada 2 Mei 2003, ia dilantik sebagai Penjabat Bupati pertama oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Haris Sabarno. Tanpa kantor, tanpa staf, bahkan tanpa sistem pemerintahan yang siap, ia memikul tanggung jawab besar sendirian. Malam setelah pelantikan, ia dihadapkan pada satu pertanyaan, dari mana harus memulai?

“Tanggal 2 saya dilantik, 2 Mei 2003. Saya dilantik sendiri, tidak ada staf. Kemudian, pada saat saya dilantik itu saya berpikir. Sesudah dilantik, sesudah pakai pangkat ini semua, saya berpikir. Siapa ini teman saya kerja?,” ucapnya dalam postingan video YouTube tersebut.

Jawaban itu ia temukan keesokan harinya. Di bawah pohon jambu, ia mulai “berkantor”. Dengan papan sederhana, ia merancang fondasi pemerintahan. Ia menghubungi rekan-rekannya, menyusun struktur organisasi, hingga membawanya ke Jakarta untuk disahkan. Sekitar 17 pegawai kemudian bergabung, membangun dari keterbatasan.

Saat itu, komunikasi masih sulit. Surat-surat harus diambil ke Kendari dengan sepeda motor, bahkan rumah pribadinya dijadikan alamat resmi. Namun, baginya tidak ada alasan untuk menunda pelayanan. Ia percaya, amanah harus dijalankan dalam kondisi apa pun.

Perlahan, Konsel mulai tumbuh. Anggaran tersedia, pegawai bertambah, dan gedung pemerintahan mulai berdiri. Andoolo pun ditetapkan sebagai ibu kota daerah. Imran kemudian memimpin selama dua periode (2005 – 2015), meletakkan dasar pembangunan yang terus dirasakan hingga kini.

Ia wafat pada 28 Maret 2020 di Kendari. Namun, jejaknya tetap hidup. Imran dikenang sebagai “Bapak Pembangunan Konawe Selatan”, sosok yang pernah memulai dari bawah pohon jambu, membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk membangun masa depan.

Dikenang sebagai Pejuang Politik asal Sultra, Foto Almarhum Imran Ditampilkan dalam HUT ke-17 Partai Gerindra

Post Views: 26

Read Entire Article
Rapat | | | |