Nursery yang Menantang Deforestasi, Ikhtiar Menghidupkan Kembali Hutan Bumi Anoa

7 hours ago 9

Kolaka – Pagi masih basah ketika Sukma Maulidia melangkah menyusuri lorong-lorong sempit di antara ribuan polybag hitam yang berjajar rapi.

Di sekelilingnya, tanaman-tanaman kecil tumbuh dalam berbagai ukuran. Sebagian baru berkecambah. Sebagian lainnya telah memiliki batang dan daun yang lebih kuat. Ada pula yang mulai dibiasakan menghadapi cahaya matahari langsung.

Dari kejauhan, semuanya tampak sederhana. Hanya bibit-bibit kecil yang sedang tumbuh. Namun bagi Sukma, setiap bibit membawa pekerjaan yang jauh lebih panjang dari ukurannya. Kelak, ketika cukup kuat, tanaman-tanaman itu akan meninggalkan persemaian dan dibawa ke lahan yang pernah dibuka untuk kegiatan pertambangan.

Sukma Maulidia saat memperhatikan rekannya yang sedang menyiapkan tanaman yang nantinya akan ditanam kembali ke kawasan ekspolasi PT Vale di Blok Pomalaa, Kolaka.Sukma Maulidia saat memperhatikan rekannya yang sedang menyiapkan tanaman yang nantinya akan ditanam kembali ke kawasan ekspolasi PT Vale di Blok Pomalaa, Kolaka. Foto: Hasmin Ladiga/Kendariinfo. (22/7/2026).

Sukma, perempuan 23 tahun yang sejak kecil tinggal di Kolaka, baru sekitar empat bulan bekerja di pusat pembibitan atau Nursery PT Vale Indonesia Tbk (PTVI) Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, Desa Lalonggolosua, Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka.

Lulusan S1 Kesehatan Masyarakat itu bekerja sebagai safety supervisor officer in project. Sebelum berada di Nursery, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengembangkan kompetensi melalui berbagai pelatihan dan sertifikasi keselamatan dan kesehatan kerja.

Kini pekerjaannya bersentuhan langsung dengan sesuatu yang jauh berbeda, yakni bibit tanaman.

“Bagi saya, satu bibit pohon adalah simbol harapan dan tanggung jawab. Mungkin saat ini ukurannya masih sangat kecil, tetapi di masa depan dapat memberikan manfaat yang besar bagi lingkungan, masyarakat, dan kehidupan,” kata Sukma.

Supervisor Nursery PT Vale Indonesia IGP Pomalaa, Alfaraz Nur Ramadan saat memperlihatkan sejumlah tanaman yang telah memasuki usia siap dipindahkan ke proses pemeliharaan lanjutan sebelum akhirnya menuju lahan pasca-revegetasi.Supervisor Nursery PT Vale Indonesia IGP Pomalaa, Alfaraz Nur Ramadan saat memperlihatkan sejumlah tanaman yang telah memasuki usia siap dipindahkan ke proses pemeliharaan lanjutan sebelum akhirnya menuju lahan pasca-revegetasi. Foto: Hasmin Ladiga/Kendariinfo. (22/7/2026).

Nursery itu berdiri di atas lahan sekitar lima hektare. Di sanalah perjalanan sebuah tanaman dimulai sebelum akhirnya ditanam di area reklamasi.

Sukma mengatakan keberadaan nursery memberikan manfaat dari dua sisi. Dari sisi operasional dan lingkungan, nursery menyediakan bibit berkualitas untuk mendukung kebutuhan reklamasi.

Sementara bagi masyarakat sekitar, keberadaan fasilitas tersebut membuka lapangan pekerjaan. Hal itu terlihat saat warga Desa Lalonggolosua juga mendapat kesempatan terlibat langsung dalam proses penyediaan bibit.

Hamparan bibit yang ada di dalam Nursery PT Vale Indonesia Tbk IGP Pomalaa yang sedang disemai.Hamparan bibit yang ada di dalam Nursery PT Vale Indonesia Tbk IGP Pomalaa yang sedang disemai. Foto: Hasmin Ladiga/Kendariinfo. (22/7/2026).

Menurut Sukma, PT Vale memprioritaskan tenaga kerja lokal dan secara berkala melibatkan masyarakat dalam kegiatan pembibitan maupun penanaman. Keterlibatan tersebut, kata dia, perlahan ikut mengubah cara masyarakat memandang lingkungan di sekitar mereka.

Lingkungan di sekitar nursery menjadi lebih hijau dan tertata. Masyarakat juga semakin peduli terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Sukma menilai perubahan tersebut menjadi salah satu dampak positif dari kehadiran Nursery di desa mereka.

“Selain bekerja sebagai tenaga kerja di Nursery, secara berkala para warga diikutsertakan dan dilibatkan setiap ada kegiatan pembibitan maupun penanaman, sehingga mereka ikut berkontribusi dalam program penghijauan,” ujarnya.

Sukma sendiri mulai bekerja di Nursery setelah mempersiapkan diri melalui berbagai pelatihan dan sertifikasi K3. Ia memilih pekerjaan tersebut karena ingin menerapkan pengetahuan yang dimilikinya, sekaligus memperoleh pengalaman di lingkungan kerja yang berkaitan dengan reklamasi dan pelestarian lingkungan.

Menurutnya, bekerja di Nursery bukan semata-mata memastikan keselamatan pekerja. Ada pekerjaan lain yang tidak kalah penting, yakni memastikan bibit yang dirawat dapat tumbuh dengan baik hingga siap digunakan dalam kegiatan penghijauan.

Ia merasa bangga ketika melihat bibit tumbuh sehat sebagai hasil kerja seluruh tim. Baginya, tanaman yang berkembang menjadi bukti bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan baik dan aman dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Sukma adalah melihat seluruh tim bekerja mengejar target tanpa mengabaikan keselamatan. Ia menyebut target harian mereka sejauh ini selalu tercapai.

Harapannya sederhana. Bibit-bibit yang dirawat hari ini dapat tumbuh menjadi hutan yang rindang dan sehat. Ia ingin proses tersebut memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Ia juga berharap kegiatan Nursery PT Vale Indonesia IGP Pomalaa terus berlanjut dan berkembang, dengan tetap melibatkan masyarakat lokal. Menurutnya, pemulihan lingkungan dan pemberdayaan warga seharusnya dapat berjalan beriringan.

“Saya berharap anak-cucu kita nanti masih bisa menikmati lingkungan yang asri, udara yang bersih, serta melihat bahwa kegiatan pertambangan dapat berjalan berdampingan dengan upaya pelestarian lingkungan melalui reklamasi yang dilakukan secara bertanggung jawab,” kata Sukma.

Dari harapan itu, pekerjaan di Nursery kemudian dapat dilihat lebih jauh. Bibit yang dirawat bukan sekadar tanaman yang menunggu besar. Ada proses panjang di belakangnya, mulai dari pemilihan tanaman, penyemaian, pemeliharaan, pemindahan, hingga akhirnya siap ditanam di lahan reklamasi.

Dapur yang Menentukan Nasib Sebuah Hutan

Supervisor Nursery PT Vale Indonesia IGP Pomalaa, Alfaraz Nur Ramadan, mengatakan bibit yang dikembangkan di lokasi tersebut berasal dari berbagai kelompok tanaman.

Ada tanaman cepat tumbuh, tanaman endemik, tanaman hias, tanaman buah, hingga tanaman penutup tanah. Untuk tanaman endemik, Nursery mengembangkan kayu kuku dan kayu kolaka. Sementara tanaman hias yang dibudidayakan salah satunya anggrek sorume.

Tanaman cepat tumbuh dipilih karena memiliki kemampuan tumbuh lebih cepat dan lebih mampu bertahan ketika berada di lahan reklamasi. Beberapa jenis yang dikembangkan antara lain sengon buto, cemara angin, dan kayu bitti.

Alfaraz menjelaskan sebagian bibit indukan juga berasal dari area reklamasi dan area penambangan. Cara tersebut dilakukan karena PT Vale berupaya mempertahankan jenis tanaman yang sudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan di wilayah operasionalnya.

Bibit dari area tersebut kemudian diambil, disemai, dan dirawat sampai tumbuh. Setelah cukup kuat, tanaman dapat dikembalikan ke area reklamasi untuk mendukung penghijauan. Nursery tersebut memiliki kapasitas sekitar 1 juta bibit per tahun. Namun, proses untuk menghasilkan satu bibit yang siap ditanam tidak berlangsung singkat.

Bibit pertama kali disemai di poly tray kecil selama sekitar satu hingga dua minggu. Setelah itu, tanaman dipindahkan ke poly tray berukuran sedang atau besar sesuai dengan perkembangan bibit.

Tanaman kemudian menjalani masa persiapan dan pematangan sekitar satu hingga dua bulan. Dengan rangkaian tersebut, waktu yang dibutuhkan sejak penyemaian sampai bibit siap dibawa ke area reklamasi sekitar tiga bulan.

“Dari masa semai sampai tanaman siap ditanam di area reklamasi, itu kurang lebih tiga bulan,” kata Alfaraz.

Berdasarkan stok yang dipegang Alfaraz, mobilisasi bibit sejak Nursery mulai beroperasi telah mencapai sekitar 100 ribu bibit. Mobilisasi dilakukan secara berkala dan setiap minggu terdapat bibit yang keluar dari Nursery untuk kebutuhan penghijauan.

Data per 23 Juli 2026 menunjukkan proses penyemaian masih berlangsung. Lima jenis tanaman penutup tanah yang sedang dikembangkan adalah Lamtoro atau Leucaena Leucocephala, Mucuna Cochinchinensis, Crotalaria Juncea, Centrosema Pubescens, dan Arachis.

Total benih semai awal mencapai 150.292. Dari jumlah tersebut, tercatat natalitas atau benih yang berhasil tumbuh sebanyak 37.371 dan mortalitas atau benih yang mati sebanyak 1.947.

Tanaman jenis Lamtoro memiliki semai awal 18.132 dengan natalitas 1.924 dan mortalitas 860. Mucuna Cochinchinensis memiliki semai awal 1.536, natalitas 447, dan mortalitas 1.087.

Sementara Crotalaria Juncea memiliki semai awal 40.102 dan natalitas 10.000 tanpa mortalitas. Centrosema Pubescens memiliki semai awal 76.602 dan natalitas 25.000 tanpa mortalitas. Arachis tercatat memiliki semai awal 13.920.

Jenis-jenis tersebut tidak semuanya ditujukan menjadi pohon utama. Lamtoro, Mucuna, Crotalaria, Centrosema, dan Arachis lebih banyak berfungsi sebagai tanaman penutup tanah dan tanaman pionir. Tanaman tersebut digunakan untuk membantu memperbaiki kesuburan tanah, mengendalikan erosi, dan mempercepat pemulihan lahan sebelum pohon utama ditanam.

Proses pertumbuhan bibit berlangsung melalui beberapa bangunan. Germination House Area (GHA) menjadi tempat benih berkecambah. Setelah itu, bibit masuk ke Acclimation House Area untuk beradaptasi.

Dari sana, bibit dapat dipindahkan ke Shading Area untuk dibesarkan di bawah naungan. Tahap berikutnya adalah Open Growth Area, tempat tanaman mulai dibiasakan dengan kondisi terbuka sebelum akhirnya dibawa ke lokasi reklamasi.

Data per 23 Juli 2026 mencatat stok awal di GHA 2 sebanyak 1.150 tanaman. Sebanyak 532 tanaman keluar dan 46 tanaman masuk sehingga stok akhirnya menjadi 664 tanaman. Acclimation House Area memiliki stok awal 1.645 tanaman, dengan 615 tanaman keluar dan 657 tanaman masuk. Stok akhirnya mencapai 1.603 tanaman.

Shading Area memiliki stok awal 1.289 tanaman. Sebanyak 250 tanaman keluar dan lima tanaman masuk sehingga stok akhir menjadi 1.044 tanaman. Sementara Open Growth Area memiliki stok awal 858 tanaman, 363 tanaman keluar, dan tidak ada tanaman masuk sehingga stok akhirnya 495 tanaman.

Secara keseluruhan, empat area tersebut memiliki stok awal 4.942 tanaman. Sebanyak 1.760 tanaman keluar dan 708 tanaman masuk sehingga stok akhir mencapai 3.806 tanaman.

Nursery itu juga dilengkapi arboretum atau “museum hidup” yang berisi sekitar 74 jenis pohon lokal dan endemik Sulawesi. Di dalamnya terdapat Wooden House (rumah kayu) dan DOJO (aula) yang digunakan sebagai pusat pelatihan dan edukasi lingkungan.

Fasilitas penangkaran kupu-kupu endemik juga direncanakan hadir. Kawasan tersebut sekaligus menjadi habitat satwa, termasuk rusa, sebagai bagian dari upaya konservasi.

Bagi Bupati Kolaka, Amri, keberadaan Nursery tidak berhenti pada kebutuhan reklamasi. Ketika meresmikan Nursery pada Maret 2026, ia melihat fasilitas tersebut sebagai bagian dari upaya konservasi lingkungan di wilayah operasional perusahaan.

“Kehadiran Nursery di Kolaka ini diharapkan menjadi pusat berkelanjutan dan juga sebagai tempat edukasi bagi pelajar,” kata Amri.

Ia mengatakan kemajuan ekonomi tidak seharusnya hanya diukur melalui sektor pertambangan. Aktivitas ekonomi perlu berjalan bersama tanggung jawab ekologis. Perusahaan, kata dia, memiliki kewajiban menjaga kelestarian lingkungan.

Pemerintah Kabupaten Kolaka juga berharap pusat pembibitan tersebut dapat memberikan dukungan terhadap program pemerintah daerah.

“Kita berharap, ini bagian dari pusat pembibitan. Kemudian dapat memberikan dukungan kepada pemerintah daerah,” harapnya.

Ketika Harapan Diuji di Lapangan

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sultra, Andi Rahman mengatakan berdasarkan data Global Forest Watch, Sultra kehilangan tutupan pohon sekitar 590 ribu hektare sepanjang 2001 – 2025.

Angka tersebut setara dengan sekitar 19 persen tutupan pohon pada 2000. Dalam periode 2002 – 2025, Sultra juga kehilangan sekitar 230 ribu hektare hutan primer.

Menurut Andi, persoalan reklamasi di Sultra masih menjadi pekerjaan besar. Ia mengatakan Walhi belum menemukan informasi yang menunjukkan adanya perusahaan dari sekitar 154 izin usaha pertambangan aktif pada periode 2024 – 2026 yang melakukan reklamasi sebagaimana kewajibannya.

Ia memberi catatan bahwa kondisi tersebut berdasarkan pengetahuan dan pemantauan Walhi. Kemungkinan terdapat perusahaan yang melakukan reklamasi tetapi belum diketahui Walhi.

Dalam pandangan WALHI, reklamasi seharusnya dilakukan secara bertahap. Ada reklamasi yang dilakukan ketika perusahaan masih beroperasi dan ada reklamasi pascatambang setelah sumber daya mineral selesai ditambang.

Contohnya, jika sebuah perusahaan memiliki wilayah tambang 100 hektare dan baru membuka 50 hektare, area yang telah selesai ditambang seharusnya dapat direklamasi terlebih dahulu sebelum kegiatan bergeser ke bagian lain.

“Kalau ditanya problemnya itu ada dua. Satu, karena pemerintah itu tidak ada kemauan atau tidak menjalankan kewenangannya secara penuh untuk mendesak perusahaan-perusahaan ini yang beroperasi maupun secara beroperasi itu untuk menjalankan kewajibannya,” ucap Andi.

Dia mengingatkan reklamasi bukan pilihan perusahaan, melainkan kewajiban yang melekat pada aktivitas pertambangan. Dalam ketentuan pertambangan, reklamasi juga menjadi bagian penting dari kewajiban pemegang izin.

Di tengah persoalan tersebut, apa yang dilakukan di Nursery menjadi salah satu bagian penting dari proses reklamasi. Bibit yang disiapkan tidak hanya harus tersedia dalam jumlah yang cukup, tetapi juga harus sesuai dengan kondisi lahan yang akan ditanami.

Guru Besar Bidang Silvikultur dan Restorasi Jurusan Kehutanan Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Prof. Faisal Tuheteru mengatakan pemegang izin pertambangan memang memiliki kewajiban mereklamasi lahan yang telah dibuka.

Dalam reklamasi terdapat beberapa kegiatan, salah satunya revegetasi. Setelah lahan dibuka dan ditata kembali, tanaman ditanam untuk mengembalikan kondisi lingkungan yang rusak agar setidaknya mendekati kondisi semula.

Apa yang dilakukan Nursery PT Vale, menurut Faisal, sejalan dengan kebutuhan tersebut. Persemaian menjadi tempat untuk mempersiapkan tanaman sebelum dibawa ke lahan reklamasi, termasuk tanaman pionir yang dapat membantu menciptakan kondisi awal bagi tumbuhnya jenis tanaman lain.

“Persemaian pada dasarnya merupakan tempat untuk memproduksi bibit dari satu atau beberapa jenis dengan jumlah dan kualitas tertentu sesuai tujuan,” jelas Faisal.

Karena itu, pilihan PT Vale untuk mengembangkan berbagai kelompok tanaman di Nursery memiliki fungsi tersendiri. Tanaman cepat tumbuh dapat digunakan untuk membentuk kondisi awal lahan, sementara tanaman lokal dan endemik dapat digunakan untuk memperkaya vegetasi.

Faisal mengatakan tanaman lokal memiliki peluang adaptasi yang baik karena secara ekologis sudah sesuai dengan kondisi daerah asalnya. Namun, tanaman tersebut tidak serta-merta dapat ditanam di lahan bekas tambang tanpa memperhatikan kondisi tanah dan lingkungan.

Tanah bekas tambang umumnya mengalami perubahan signifikan. Lapisan tanah dari kedalaman tertentu dapat berada di permukaan setelah kegiatan penambangan. Lapisan tersebut tidak memiliki kondisi yang sama dengan topsoil yang kaya unsur hara.

Karena itu, penggunaan tanaman pionir seperti yang dikembangkan di Nursery menjadi penting. Tanaman cepat tumbuh dapat membantu membentuk tajuk dan memberikan kondisi yang lebih sesuai bagi tanaman lokal atau endemik.

Sengon, lamtoro, gamal, jabon, dan jenis legum lainnya dapat digunakan untuk membentuk naungan. Setelah kondisi tersebut terbentuk, tanaman lokal atau endemik dapat disisipkan untuk memperkaya vegetasi.

Faisal menilai keberadaan Nursery juga dapat menjadi salah satu indikator keseriusan perusahaan dalam mempersiapkan reklamasi. Perusahaan memang dapat memperoleh bibit dari pihak lain, tetapi persemaian sendiri memberi ruang untuk menyesuaikan jenis dan jumlah bibit dengan kebutuhan reklamasi.

Hal tersebut terlihat dari jenis tanaman yang dikembangkan di Nursery PT Vale. Selain tanaman cepat tumbuh, nursery juga mengembangkan tanaman lokal dan endemik seperti kayu kuku dan kayu kolaka.

Bagi Faisal, persiapan bibit juga perlu mempertimbangkan kebutuhan penanaman di lapangan. Dalam satu hektare, jumlah pohon yang digunakan sebagai salah satu indikator mencapai sekitar 625 pohon atau dengan jarak tanam sekitar 4×4 meter.

Jika memperhitungkan kemungkinan kematian tanaman sekitar 20 persen, kebutuhan bibit dapat mencapai sekitar 800 bibit untuk satu hektare. Jumlah tersebut belum termasuk kebutuhan penanaman sisipan atau pengkayaan jenis.

Artinya, kapasitas produksi Nursery menjadi penting ketika reklamasi dilakukan dalam luasan yang besar.

Dengan kapasitas sekitar 1 juta bibit per tahun, Nursery PT Vale memiliki kemampuan untuk mempersiapkan bibit dalam jumlah besar. Namun, Faisal mengingatkan jumlah bibit bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Keberhasilan reklamasi juga dapat dilihat dari tutupan vegetasi yang mencapai lebih dari 90 persen dan sekurang-kurangnya 40 persen jenis tanaman yang digunakan merupakan jenis lokal.

Dengan indikator tersebut, proses yang dilakukan Alfaraz dan tim di nursery menjadi tahap awal sebelum bibit benar-benar diuji di lapangan.

Bibit yang telah melalui proses penyemaian, pemeliharaan, aklimatisasi, pembesaran, hingga pembiasaan di area terbuka harus mampu bertahan ketika dipindahkan ke lahan reklamasi. Di sinilah persoalan tanah menjadi penting.

Dosen Jurusan Kimia FMIPA UHO Kendari sekaligus Kepala Laboratorium Analitik, Instrumentasi dan Kalibrasi UPT Laboratorium Terpadu UHO Kendari periode 2021 – 2026, Dr. Darwin Ismail, mengatakan kegiatan pertambangan terbuka berpotensi menurunkan kualitas kimia tanah secara signifikan.

Ketika lapisan topsoil dikupas, bahan organik dan unsur hara seperti karbon organik, nitrogen, fosfor, dan kalium ikut hilang. Kondisi tersebut dapat membuat kesuburan tanah menurun drastis.

Perubahan yang umum terjadi adalah penurunan pH sehingga tanah menjadi lebih masam. Hilangnya lapisan humus juga menurunkan kandungan karbon organik. Sementara unsur hara makro seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang rendah dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

Kondisi tersebut membuat langkah yang dilakukan di Nursery menjadi makin penting. Bibit tidak langsung dihadapkan pada kondisi lahan bekas tambang ketika masih lemah, tetapi dipersiapkan terlebih dahulu sampai cukup kuat untuk dipindahkan.

“Saya menilai Nursery memiliki peran strategis karena bibit dapat dipersiapkan lebih dahulu sebelum menghadapi lingkungan ekstrem di lahan bekas tambang,” papar Darwin.

Menurut Darwin, Nursery tidak hanya berfungsi sebagai tempat menumbuhkan bibit. Persemaian juga dapat menjadi tempat untuk mempersiapkan tanaman melalui pengelolaan media tanam, kompos, biochar, pupuk organik, hingga inokulan mikroba.

Dalam konteks tersebut, tahapan pemeliharaan bibit yang dilakukan Alfaraz dan tim menjadi bagian dari proses yang menentukan kesiapan tanaman sebelum masuk ke lapangan.

Darwin menjelaskan akar tanaman dapat menghasilkan senyawa seperti asam organik dan fitosiderofor yang berinteraksi dengan logam berat dan unsur hara di tanah. Bibit juga dapat dipersiapkan bersama mikroorganisme seperti mikoriza dan bakteri pelarut fosfat.

Interaksi tersebut dapat membantu meningkatkan ketersediaan unsur hara dan mengurangi toksisitas logam berat.

Tanaman yang sehat kemudian menghasilkan biomassa dan serasah. Daun dan akar yang mati menjadi sumber bahan organik yang membantu membangun kembali kandungan karbon tanah.

Dalam jangka panjang, proses tersebut dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme, memperbaiki siklus unsur hara, dan membantu membentuk kembali ekosistem.

Karena itu, Darwin menilai jumlah bibit yang disiapkan harus berjalan bersama dengan kualitas dan kemampuan tanaman untuk bertahan setelah ditanam.

Analisis tanah sebelum penanaman juga menjadi penting. Pengapuran dapat digunakan untuk menaikkan pH, sementara pupuk dasar dan kompos dapat membantu memperbaiki kandungan nitrogen, fosfor, kalium, serta bahan organik.

Dengan demikian, proses reklamasi tidak berhenti ketika bibit keluar dari Nursery. Bibit yang telah disiapkan harus ditempatkan pada lahan dengan kondisi yang mendukung pertumbuhannya.

Darwin mengatakan vegetasi juga berperan dalam menjaga kualitas tanah dan air. Tajuk pohon dapat memecah energi air hujan, serasah membantu menahan partikel tanah, sementara akar memperkuat struktur tanah dan mengurangi erosi.

“Pada akhirnya, Nursery menjadi bagian dari rangkaian yang saling berhubungan. Bibit diproduksi dan dirawat di persemaian, lahan disiapkan agar sesuai untuk pertumbuhan, tanaman pionir membentuk kondisi awal, lalu jenis lokal dan endemik dapat masuk untuk memperkaya vegetasi,” pungkasnya.

Post Views: 16

Read Entire Article
Rapat | | | |