Mahasiswa UHO Kendari Ukir Prestasi Internasional, Sabet Silver Medal di Malaysia

6 hours ago 6

Kendari – Lima mahasiswa lintas fakultas Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari berhasil meraih silver medal pada ajang 5th International Youth Summit di Malaysia pada 29 Mei hingga 1 Juni 2026.

Acara tersebut merupakan kompetisi internasional yang diselenggarakan Sentosa Foundation bekerja sama dengan Self Access Learning, Student Access Learning, serta Centre for Entrepreneurial Development and Graduate Marketability Universiti Putra Malaysia.

Kelima mahasiswa itu yakni Rony Febryan, Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP); Julian Ardi, jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP); Naila Cahya Anugerah, jurusan Hukum, Fakultas Hukum (FH); Wa Ode Zahra Ar-Raihana, Jurusan Keperawatan, Fakultas Kedokteran; dan Rizaldo, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP.

Kelimanya tergabung dalam kelompok yang diberi nama Sustainable Team. Namun, Rizaldo disebut tidak ikut ke Malaysia karena tengah mempersiapkan diri mengikuti kegiatan di Harvard University, Amerika Serikat (AS).

Sustainable Team kemudian bersaing dengan para pemuda yang tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga Malaysia, Pakistan, Filipina, Maroko, Turkmenistan, dan Sudan Selatan.

Tim tersebut mengangkat tajuk “Trapezoidal Artificial Reef” berisi terumbu karang buatan berbentuk trapesium yang dirancang menggunakan material beton ramah lingkungan dengan memanfaatkan berbagai jenis limbah. Limbah itu berupa fly ash, cangkang kerang, serta sabut kelapa.

Di tengah meningkat pesat limbah yang dianggap tidak bernilai, tim itu justru menyulapnya menjadi solusi pemulihan lingkungan pesisir di tengah tantangan kerusakan terumbu karang.

Ketua Tim Sustainable, Rony Febryan, mengatakan prestasi yang diraih timnya dipersiapkan melalui proses yang cukup menantang. Mereka harus memanajemen waktu perkuliahan dan persiapan kompetisi dengan lebih optimal. Tiba di hari pelaksanaan, mereka juga belajar beradaptasi dengan budaya dan bahasa yang digunakan.

“Tantangan terbesar kami adalah mengatur waktu antara kuliah dan persiapan kompetisi. Selain itu, hampir seluruh anggota tim baru pertama kali mengikuti kegiatan di luar negeri, sehingga kami juga harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan komunikasi menggunakan Bahasa Inggris maupun Bahasa Malaysia selama berada di sana,” ujar Rony.

Rony menambahkan, sejumlah tantangan yang dilewati justru menjadi penguat timnya dalam memberikan performa terbaik di hadapan dewan juri maupun peserta lain. Prestasi tersebut juga dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk berperan penting demi mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Nah sekarang Makin Tahu Indonesia kan!!

Post Views: 12

Read Entire Article
Rapat | | | |