Mahasiswa UHO Kendari Dapat Pendanaan Kembangkan Plester Daun Kersen Lawan Infeksi Jamur

7 hours ago 4

Kendari – Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari memperoleh pendanaan program kreativitas mahasiswa (PKM) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui inovasi pengembangan patch transdermal (plester) berbahan daun kersen sebagai alternatif terapi infeksi jamur kandidiasis sistemik.

Mahasiswa Farmasi UHO, Gusti Ayu Diah Jumliani, mengatakan keberhasilan tersebut menjadi buah dari proses penyusunan proposal yang berlangsung selama empat bulan dan melalui sejumlah tahapan penyempurnaan sebelum akhirnya dinyatakan lolos pendanaan.

“Kami sangat bersyukur karena bisa bersaing dengan 25.253 proposal yang masuk. Setelah melewati berbagai revisi, akhirnya proposal kami berhasil didanai Kemendiktisaintek,” kata Gusti kepada Kendariinfo, Jumat (26/6/2026).

Tim tersebut seluruhnya berasal dari Program Studi S-1 Farmasi, Fakultas Farmasi, UHO Kendari. Selain Gusti Ayu Diah Jumliani sebagai ketua, penelitian itu juga melibatkan Feby Eryanti Asis, Nazwa Vianty Zalshafira Mulyana, Wa Ode Noer Ramadhani Mustafa, dan M. Saldi. Penelitian mereka dibimbing dosen pendamping La Ode Muhammad Fitrawan.

Penelitian yang mereka usung berjudul “Inovasi Patch Transdermal Nanopartikel Perak Biosintesis Daun (Muntingia calabura L.) sebagai Antifungi Kandidiasis Sistemik Secara In Vitro dan In Vivo”.

Gusti Ayu menjelaskan pemilihan topik tersebut berangkat dari meningkatnya ancaman kandidiasis sistemik akibat Candida albicans yang kini makin sulit ditangani karena resistensi terhadap obat antijamur konvensional.

Menurutnya, tim memanfaatkan daun kersen karena mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai antijamur alami. Kandungan tersebut kemudian diolah menggunakan teknologi nanopartikel perak dan diformulasikan dalam bentuk patch transdermal agar zat aktif dapat diserap secara terkontrol melalui kulit tanpa melewati metabolisme di hati.

“Harapannya, inovasi ini bisa menjadi alternatif terapi antijamur yang lebih aman, efektif, dan memberikan efek samping lebih rendah dibandingkan pengobatan saat ini,” jelasnya.

Ia menerangkan penelitian tersebut berupaya menjawab persoalan rendahnya efektivitas ekstrak tanaman obat apabila digunakan secara langsung. Penelitian juga sekaligus mengembangkan sistem penghantaran obat berbasis bahan alam yang mampu bekerja lebih optimal dalam menangani kandidiasis sistemik.

Rangkaian penelitian dimulai dari ekstraksi daun kersen yang dimanfaatkan sebagai agen biosintesis nanopartikel perak. Setelah melalui proses karakterisasi, bahan tersebut diformulasikan menjadi patch transdermal sebelum diuji terhadap jamur Candida albicans melalui pengujian in vitro dan in vivo.

Penelitian akan dilaksanakan selama sekitar tiga bulan, mulai Juni hingga Agustus, di Laboratorium Fakultas Farmasi UHO Kendari.

Selain menghasilkan alternatif terapi baru, tim berharap hasil riset tersebut mampu meningkatkan nilai pemanfaatan tanaman kersen yang selama ini lebih banyak dikenal sebagai tanaman peneduh.

“Kami ingin membuktikan bahwa bahan alam di sekitar kita memiliki potensi besar apabila dikembangkan dengan pendekatan ilmiah dan teknologi yang tepat. Ke depan kami berharap penelitian ini bisa berlanjut hingga tahap uji klinis dan menjadi dasar pengembangan produk farmasi berbasis bahan alam Indonesia,” tutur Gusti Ayu.

Ia juga mengajak mahasiswa lain agar tidak ragu mengikuti program pendanaan penelitian.

“Jangan takut menuangkan ide kreatif ke dalam penelitian. Kuncinya adalah berani memulai, konsisten menjalani proses, serta terus belajar bersama tim. Indonesia memiliki kekayaan hayati luar biasa dan masih banyak yang bisa dikembangkan menjadi inovasi bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Post Views: 0

Read Entire Article
Rapat | | | |