Kendari – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Syamsir Nur, memprediksi dampak kenaikan harga pertamax akan mulai dirasakan masyarakat dalam beberapa pekan ke depan. Syamsir menyebut sektor transportasi, industri manufaktur, hingga usaha kuliner menjadi pihak yang paling rentan terdampak.
Syamsir menjelaskan industri manufaktur menjadi salah satu sektor paling berpotensi mengalami tekanan, karena masih bergantung pada bahan baku dan bahan penolong impor. Kenaikan biaya energi akan meningkatkan biaya produksi yang pada akhirnya memengaruhi harga barang di tingkat konsumen.
“Yang paling terasa itu industri manufaktur karena sebagian besar bahan baku dan bahan penolong masih berasal dari impor. Ketika biaya energi naik, biaya produksi juga ikut meningkat,” jelasnya.
Menurut dia, dampak berikutnya akan merambat ke sektor transportasi. Penyesuaian harga energi berpotensi memicu kenaikan tarif berbagai moda angkutan, termasuk transportasi udara yang sangat bergantung pada bahan bakar.
Ia menilai kondisi itu akan menjadi pemicu inflasi yang bersumber dari kebijakan pemerintah atau administered price, bukan semata-mata akibat gejolak harga komoditas pangan atau volatile goods.
“Inflasi sekarang bukan hanya dipengaruhi komoditas bergejolak, tetapi juga adanya penyesuaian harga yang ditetapkan pemerintah, terutama pada sektor energi,” lanjutnya.
Syamsir mengatakan industri makanan dan minuman juga perlu mewaspadai dampak lanjutan dari kenaikan harga bahan bakar. Menurutnya, pelaku usaha kuliner yang menyasar konsumen kelas menengah berpotensi mengalami penurunan daya beli.
Ia mencontohkan usaha kuliner dan industri olahan yang selama ini banyak dikunjungi kelompok masyarakat menengah. Jika tekanan ekonomi berlanjut, tingkat kunjungan konsumen dikhawatirkan ikut menurun.
“Kita lihat satu sampai dua minggu ke depan. Kalau tidak ada penurunan harga, kemungkinan bulan depan dampaknya mulai terasa terhadap pola konsumsi masyarakat,” ucapnya.
Syamsir juga mengingatkan adanya perubahan perilaku keuangan masyarakat. Ia menilai sebagian masyarakat kini mulai menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari akibat tertekannya pendapatan riil.
Padahal, kata dia, tabungan seharusnya digunakan sebagai dana cadangan untuk kebutuhan mendesak, bukan membiayai konsumsi rutin.
“Dulu konsumsi masyarakat lebih banyak berasal dari pendapatan. Sekarang ada kecenderungan mulai menggunakan tabungan untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Ini yang perlu diantisipasi karena menunjukkan adanya tekanan terhadap daya beli,” tuturnya.
Ia berharap pemerintah dapat mencermati dampak lanjutan dari kenaikan harga energi agar tidak makin membebani masyarakat, terutama kelompok menengah yang menjadi penopang utama konsumsi domestik di Sultra.
Post Views: 0

6 hours ago
6















































