Wakatobi – Nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi dirangkaikan dengan forum diskusi di Kelurahan Mandati III, Kecamatan Wangiwangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), hanya menghadirkan tiga dari enam narasumber yang sebelumnya dijadwalkan hadir.
Kegiatan yang digelar di Luna Garden Coffee Shop, Senin (25/5/2026) sejak pukul 20.00 Wita itu hanya dihadiri Reza Kharisma Wibowo selaku Kepala Seksi (Kasi) Intelijen Kejaksaan Negeri (Kejari) Wakatobi, Hendri sebagai advokat, serta Risal selaku aktivis hak asasi manusia (HAM).
Sementara tiga narasumber yang tidak hadir yakni dari Polres Wakatobi, TNI, serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wakatobi.
Aktivisi HAM, Risal yang juga bagian penyelenggara kegiatan menyebut tidak ada penjelasan terkait ketidakhadiran ketiga narasumber tersebut. Meski begitu, ia memastikan surat undangan mengisi kegiatan telah diterima pihak terkait.
“Saya membawa surat permohonan narasumber, tetapi suratnya cuma diterima. Kalau Polres sudah berapa kali kami konfirmasi setelah masuk surat, tetapi tidak ada perwakilan hingga kegiatan. Di Koramil cuma diterima suratnya, tetapi hingga kegiatan, tidak ada konfirmasi,” ujar Risal kepada Kendariinfo, Selasa (26/5).
Usai pemutaran film, sesi dialog yang dibuka memicu beragam persepsi penonton hingga narasumber.
Sementara itu, Hendri berharap pihak yang tidak hadir itu dapat mengisi ruang diskusi tersebut karena turut memiliki peran vital dalam poin-poin pembahasan.
Kehadiran aparat pertahanan negara dan unsur penegak hukum diharapkan mampu menjawab pertanyaan yang selama ini menuai beragam reaksi, baik terkait isi film maupun keterlibatan langsung di tengah masyarakat.
Kasi Intelijen Kejari Wakatobi, Reza Kharisma Wibowo, menyampaikan seluruh pihak terkait seharusnya dapat duduk bersama membahas problematika pembangunan yang berkaitan dengan Kabupaten Wakatobi.
Melalui film tersebut, Reza menilai pesan penting yang tersirat adalah bagaimana berbagai persoalan di Kabupaten Wakatobi dapat dijadikan pokok pembahasan. Sebab, yang terlihat di tanah Papua bukan tidak mungkin merajalela di Wakatobi.
“Dari Pesta Babi ini kita mengambil inti sarinya ini untuk Wakatobi, untuk Sultra. Apa yang menjadi problematika di sini, sehingga kita dudukkan bersama. Tidak hanya menyimpulkan suatu film, harus begini, salahnya begini, tetapi sama-sama membangun untuk Wakatobi,” ungkap Reza dalam forum.
Kegiatan yang dihadiri pemuda dari latar belakang organisasi dan pendidikan itu mengalir hingga mendekati pukul 23.40 Wita. Meski waktu diskusi terbatas, tampungan aspirasi yang disampaikan para pemuda tersebut menjadi komitmen bersama para narasumber dalam mendorong penegakan hukum dan kemajuan pembangunan, terutama di Kabupaten Wakatobi.
Post Views: 18

5 hours ago
1














































