Konawe Selatan – Alumni Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 4 Konawe Selatan (Konsel), Nanda Aryadillah Rahmadhani, mengukir prestasi membanggakan di tingkat internasional. Mahasiswa Program Bachelor of Medicine and Bachelor of Surgery (MBBS) itu dinobatkan sebagai wisudawan terbaik untuk seluruh mahasiswa internasional angkatan 2026 di Anhui Medical University, China.
Prestasi tersebut diraih Nanda setelah menempuh pendidikan kedokteran selama enam tahun di Anhui Medical University pada 2020 – 2026. Sebelumnya, ia lebih dulu mengikuti program pembelajaran bahasa Mandarin di Huaian Jiangsu Food & Pharmaceutical Science and Technology pada 2018 – 2019.
Putri sulung dari pasangan Edarman dan Aidar Yahya itu mengaku tidak pernah menjadikan predikat mahasiswa terbaik sebagai target utama selama kuliah. Menurutnya, ia hanya berusaha menjalani setiap proses pembelajaran secara konsisten tanpa membebani diri dengan ekspektasi yang terlalu tinggi.
“Jujur aku nggak dari awal ngejar jadi yang terbaik. Aku lebih fokus jalanin aja satu-satu, karena kalau terlalu mikirin target jauh di fakultas kedokteran malah bikin stres,” ujarnya kepada Kendariinfo, Jumat (26/6/2026).
Nanda mengatakan disiplin menjadi kebiasaan yang paling membantunya selama menempuh pendidikan. Ia tetap belajar setiap hari meski hanya dalam waktu singkat.
“Aku juga nggak nunggu mood. Lagi enak atau nggak enak, ya tetap mulai aja. Kadang cuma baca 20 sampai 30 menit, tetapi rutin setiap hari,” katanya.
Nanda juga tidak pernah ragu berdiskusi dengan teman-temannya ketika menemukan materi yang sulit dipahami. Cara tersebut justru membuatnya lebih mudah menguasai pelajaran.
“Aku nggak gengsi buat nanya atau diskusi. Kadang malah lebih paham kalau dengar teman jelasin atau pas aku jelasin balik ke orang lain,” ungkapnya.
Di balik keberhasilannya, Nanda mengaku sempat mengalami masa-masa sulit. Sebagai mahasiswa internasional, ia beberapa kali merasa tertinggal karena kemampuan bahasa Inggris mahasiswa dari negara lain dinilainya lebih baik.
“Sering kali aku merasa kecil karena bahasa Inggris mereka jauh lebih baik dari aku. Tetapi aku sadar setiap orang punya ritmenya sendiri. Jadi aku memilih fokus sama perkembangan diri sendiri, bukan terus membandingkan diri dengan orang lain,” tuturnya.
Ia juga belajar menerima setiap kekurangan yang ditemui selama menjalani pendidikan kedokteran.
“Aku belajar juga kalau nggak harus selalu sempurna. Ada aja yang kelewat atau nilai nggak sesuai harapan, tetapi ya dibenerin pelan-pelan aja,” ucapnya.
Nanda merupakan penerima ASEAN Full Scholarship Awardee yang membawanya melanjutkan pendidikan di China. Ia memilih China karena memiliki teknologi dan fasilitas pendidikan yang maju serta memberikan kesempatan membangun jejaring dengan mahasiswa dari berbagai negara.
Kepada generasi muda Indonesia, khususnya Sulawesi Tenggara (Sultra), Nanda berpesan agar tidak takut mengejar pendidikan hingga ke luar negeri.
“Kerjarlah ilmu sampai ke negeri China. Jauh bukan halangan, tetapi membuka jalan untuk lebih sukses,” pungkasnya.
Post Views: 31

9 hours ago
6

















































