Kendari – Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari mengecek sejumlah SPBU di Kota Kendari untuk menelusuri penyebab antrean panjang BBM yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Hasil pemantauan bersama PT Pertamina Patra Niaga bersama sejumlah instansi terkait, menemukan antrean dipengaruhi panic buying serta peralihan sebagian konsumen dari pertamax ke pertalite.
Pemantauan tersebut menyasar SPBU Martandu, Tapak Kuda, Teratai, dan Konggoasa. Tim turun ke lapangan untuk memastikan kondisi pasokan BBM sekaligus melihat langsung aktivitas pelayanan dan antrean kendaraan yang terjadi di sejumlah lokasi.
Hasil pemantauan menunjukkan pasokan BBM di Kota Kendari masih tersedia. Antrean kendaraan justru meningkat karena sebagian masyarakat membeli BBM dalam jumlah lebih banyak dari biasanya.
Konsumen yang sebelumnya membeli pertalite sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu dalam sekali pengisian kini cenderung mengisi tangki kendaraan sampai penuh. Pola pembelian tersebut membuat waktu pelayanan menjadi lebih panjang karena setiap kendaraan roda empat membutuhkan sekitar 3 hingga 5 menit untuk mengisi BBM.
Peralihan pengguna pertamax ke pertalite turut menambah kepadatan di sejumlah SPBU. Kondisi berbeda terlihat di SPBU Tapak Kuda yang relatif lengang karena SPBU tersebut tidak melayani penjualan pertalite.
Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Kendari, Wawan Astanto, mengatakan hasil pemantauan bersama Pertamina Patra Niaga dan Hiswana Migas memastikan ketersediaan BBM di Kendari masih aman.
“Stok BBM di Kota Kendari masih mencukupi. Antrean yang terjadi lebih disebabkan meningkatnya volume pembelian, bukan karena kelangkaan pasokan. Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan panic buying,” kata Wawan saat mengecek sejumlah SPBU, Jumat (7/8/2026).
Wawan meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi mengenai kelangkaan BBM yang belum memiliki sumber jelas. Ia mengajak warga mendapatkan informasi mengenai kondisi pasokan melalui kanal resmi pemerintah.
Pemkot Kendari juga akan meningkatkan pengawasan terhadap penyaluran BBM dengan melakukan pemantauan secara berkala di SPBU. Pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan Pertamina Patra Niaga dan Hiswana Migas untuk memastikan distribusi BBM tetap berjalan sesuai ketentuan.
Dalam pemantauan tersebut, Hiswana Migas turut mengusulkan pembatasan pembelian BBM bersubsidi. Usulan itu berupa batas pembelian maksimal 50 liter per hari untuk kendaraan roda empat dan 10 liter per hari untuk kendaraan roda dua.
Pembatasan tersebut diusulkan untuk menjaga penyaluran BBM bersubsidi agar lebih tepat sasaran sekaligus mengurangi kepadatan antrean di SPBU.
Pemkot Kendari mengingatkan masyarakat agar membeli BBM sesuai kebutuhan. Pemerintah juga meminta warga menggunakan BBM bersubsidi secara bijak agar ketersediaannya tetap terjaga dan dapat diterima masyarakat yang berhak.
Post Views: 20

1 day ago
8















































