Wakatobi – Jembatan di Desa Mola Nelayan Bhakti, Kecamatan Wangiwangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), yang patah kini disambung secara darurat menggunakan material kayu. Jembatan yang juga merupakan bagian dari ikon wisata Jembatan Pelangi itu dalam keadaan memprihatinkan sejak 2024.
Sudin selaku warga setempat, menyampaikan saat ada bagian jembatan yang mulai retak, warga tidak lagi melewatinya. Bagian yang retak tersebut segera dijatuhkan ke laut, lalu diganti dengan kayu. Perbaikan sederhana itu dilakukan warga agar akses pejalan kaki tidak terhambat.
“Sudah sekitar satu tahun lebih. Untung tidak ada kecelakaan. Biasa kalau sudah mulai retak, masyarakat tidak akan lewat lagi. Justru mereka jatuhkan, baru sambung pakai kayu supaya bisa lewat,” ujarnya kepada Kendariinfo, Kamis (5/2/2026).
Jembatan di Desa Mola Nelayan Bhakti, Kecamatan Wangiwangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, dengan patahan cukup panjang yang perbaikannya tidak mampu ditanggung dana desa. Foto: Wa Listiani/Kendariinfo. (5/2/2026).Sudin menduga kerusakan jembatan dipicu genangan air akibat tidak ada saluran pembuangan sehingga struktur jembatan cepat rapuh.
“Dibikin begini kecuali ada pembuangannya. Air tergenang begini cepat rusak, sama dengan jalan juga,” imbuhnya.
Ia menambahkan, meskipun disambung menggunakan kayu, jembatan tersebut tidak bisa dilewati warga menggunakan kendaraan, sekalipun kendaraan roda dua. Untuk itu, warga harus memutar melalui jalur lain.
“Kalau motor jalan memutar. Tetapi kalau putus yang ini, tidak bisa lagi,” pungkasnya.
Kepala Desa Mola Nelayan Bhakti, Derdi, mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengajukan perbaikan jembatan kepada Bupati Wakatobi, Haliana. Namun, pengajuan tersebut ditanggapi dengan alasan efisiensi anggaran.
“Sudah pernah saya sampaikan di hadapan Bupati langsung. Langsung dijawab efisiensi anggaran,” ungkapnya kepada Kendariinfo, Kamis (5/2).
Target perbaikan jembatan itu dilakukan pada 2026 menggunakan dana desa. Namun, pembiayaan yang tersedia hanya mampu memperbaiki jembatan yang disambung menggunakan material kayu oleh warga. Sedangkan bagian jembatan yang patahannya cukup panjang memerlukan biaya besar yang tidak mampu ditanggung dana desa.
“Kalau yang dekat ini saya akan kerjakan tahun ini. Pencairan tahap satu bulan ini atau bulan depan pakai dana desa. Tetapi, kalau yang rusak parah di sana itu tidak mampu keuangan desa. Banyak sekali. Di angka sekitar Rp200 juta. Itu kan dana anggaran pendapatan belanja negara (APBN) provinsi,” ungkap Derdi.
Memudar di Tanah Bajo Mola Wakatobi, Nasib Jembatan Pelangi Tak Lagi Berwarna
Post Views: 41

6 hours ago
2













































