Perkuat Ketahanan Pangan, Pemprov Sultra Resmikan Benih Sanggoleo Berbasis Teknologi Modern

2 days ago 14

Konawe – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) terus memperkuat ketahanan pangan daerah melalui penguatan sistem perbenihan padi. Upaya ini ditandai dengan peresmian mesin perbenihan modern sekaligus peluncuran kemasan benih padi Sanggoleo Sultra di UPTD Balai Benih Induk (BBI) Wawotobi, Kabupaten Konawe, Sultra, Selasa (30/12/2025).

Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka menegaskan sektor pertanian masih menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat Sultra. Menurutnya, pertanian bukan hanya soal pangan, tetapi juga menyangkut ekonomi dan stabilitas sosial di pedesaan.

“Pertanian adalah denyut nadi kehidupan masyarakat Sulawesi Tenggara, penopang ekonomi daerah dan sumber penghidupan utama masyarakat,” kata ASR.

Mesin panen padi modern (combine harvester) yang digunakan di UPTD Balai Benih Induk (BBI) Wawotobi, Kabupaten Konawe, sebagai bagian dari penguatan mekanisasi dan modernisasi pertanian untuk mendukung produksi benih padi bermutu di Sulawesi Tenggara.Mesin panen padi modern (combine harvester) yang digunakan di UPTD Balai Benih Induk (BBI) Wawotobi, Kabupaten Konawe, sebagai bagian dari penguatan mekanisasi dan modernisasi pertanian untuk mendukung produksi benih padi bermutu di Sulawesi Tenggara. Foto: PPID Sultra/Laode Kaharmin. (30/12/2025).

Ia menyebut keberhasilan pembangunan pertanian sangat ditentukan oleh ketersediaan benih bermutu. Benih yang berkualitas akan menghasilkan tanaman sehat, produktif, dan adaptif terhadap kondisi lingkungan.

Saat ini, Sultra memiliki luas lahan sawah sekitar 96 ribu hektare, termasuk pencetakan sawah baru tahun 2025 seluas 6.745 hektare. Dari luasan tersebut, kebutuhan benih padi mencapai sekitar 2.400 ton setiap musim tanam.

“Kebutuhan benih ini harus dipenuhi secara berkelanjutan agar produksi pangan tetap terjaga,” ujarnya.

Untuk menjawab kebutuhan itu, Pemprov Sultra menghadirkan teknologi otomasi di UPTD BBI Wawotobi. Balai benih ini tercatat sebagai satu-satunya BBI di Indonesia yang mengoperasikan kombinasi Rice Seed Sorter STS-600 dan Auto Scale Machine berbasis sistem digital.

Mesin sortir benih tersebut memiliki kapasitas 400 hingga 600 kilogram per jam dengan teknologi sensor presisi. Sementara mesin pengemasan otomatis mampu menghasilkan 400 hingga 600 kemasan per jam, sehingga meminimalkan kesalahan manusia dan risiko kontaminasi.

“Teknologi ini memastikan benih yang dihasilkan benar-benar bermutu dan bersertifikat,” bebernya.

Dalam kesempatan itu, ASR juga menyaksikan langsung demonstrasi penggunaan drone untuk aplikasi pestisida. Langkah ini menjadi bagian dari percepatan modernisasi pertanian dan efisiensi budidaya di tingkat lapangan.

Pemanfaatan teknologi perbenihan modern tersebut mampu menghasilkan benih dengan kemurnian fisik hingga 99 persen. Selain itu, daya tumbuh benih lebih seragam dan kualitas pengemasan setara dengan industri benih modern.

Pada musim tanam MT II 2025/2026, BBI Wawotobi memproduksi benih padi bersertifikat varietas Ciherang dan Inpari 42. Produksi ini menggunakan sumber benih dasar berlabel putih dan menghasilkan benih pokok berlabel ungu dengan potensi hasil 7 hingga 12 ton gabah kering panen per hektare.

Peluncuran kemasan benih Sanggoleo Sultra juga menjadi simbol kemandirian benih daerah yang berakar dari kearifan lokal masyarakat Tolaki. Sanggoleo dimaknai sebagai penghormatan terhadap dewa padi sekaligus simbol sinergi antara petani, alam, dan teknologi.

“Ini adalah upaya membangun kemandirian benih daerah sekaligus memperkuat identitas produk lokal Sulawesi Tenggara,” tutupnya.

Sejalan dengan penguatan sistem perbenihan dan mekanisasi pertanian, Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sultra menargetkan produksi padi mencapai satu juta ton pada 2026.

Post Views: 78

Read Entire Article
Rapat | | | |