Irham Acho Bachtiar Kembali Garap Film Berlatar Sultra, Angkat Urban Legend Anggaberi Konawe

15 hours ago 3

Konawe – Sutradara film berdarah Konawe, Irham Acho Bachtiar, kembali memproduksi film layar lebar dengan latar Sulawesi Tenggara (Sultra).

Sineas berdarah Tolaki itu menyiapkan film soal urban legend di Kecamatan Anggaberi dengan genre horor komedi nasional yang sebagian besar proses syutingnya dilakukan di Kabupaten Konawe dan Kota Kendari.

Kepada Kendariinfo, Acho mengatakan film yang tengah dikerjakannya itu dipersiapkan untuk tayang di bioskop nasional. Meski belum merinci alur cerita secara detail, ia menegaskan proyek ini menjadi bentuk komitmennya mengangkat budaya dan cerita lokal Sultra ke kancah yang lebih luas.

“Karena Konawe adalah kampung kelahiran mama saya, kali ini saya ingin mengangkat salah satu urban legend paling top di Konawe yang sering diceritakan mama saya sejak saya kecil di Anggaberi. Ini juga bukti komitmen saya untuk terus mengangkat budaya Sultra ke mata dunia. Intinya saya tidak lupa dengan tanah leluhur saya,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).

Film tersebut diproduksi oleh rumah produksi barunya, Sultra Sinema Investama, yang berkolaborasi dengan Rumah Semut Film. Kolaborasi ini bukan yang pertama, sebab sebelumnya mereka juga menggarap film berlatar Sultra seperti Molulo dan Mosonggi. Menurut Acho, proyek ini murni dibiayai oleh pihak rumah produksi tanpa campur tangan pemerintah.

“Film ini bersih dari pesanan tertentu dan murni dibiayai oleh PH Sultra Sinema dan Rumah Semut,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, sebagian besar pemeran utama film ini merupakan putra putri Sultra. Nama seperti Alam Konawe dan Rully Sarjana didapuk sebagai bintang utama, bersama sejumlah selebgram Kota Kendari. Selain itu, pendatang baru Rasya AT juga mendapat peran penting sebagai tokoh anak dalam cerita. Sementara artis nasional dan artis Makassar hanya tampil sebagai cameo dengan porsi terbatas.

“Kendali cerita tetap ada di bintang asli Sultra, termasuk pendatang baru Rasya AT sebagai anak,” jelasnya.

Dari sisi lokasi, sekitar 90 persen proses syuting dilakukan di Kabupaten Konawe, khususnya di wilayah Kecamatan Anggaberi yang disebut sebagai tanah leluhur keluarganya. Sisanya dilakukan di Kota Kendari dengan menampilkan sejumlah landmark dan objek wisata, termasuk Toronipa dan Bokori. Kawasan MTQ Kendari hanya digunakan dalam satu adegan sebagai simbol kota.

Hal unik lainnya, rumah jabatan (rujab) Bupati Konawe yang saat itu masih dalam tahap pembangunan turut dijadikan lokasi syuting. Acho menegaskan pemilihan lokasi tersebut murni karena kebutuhan cerita.

“Pemeran utamanya jadi kuli bangunan, jadi kita mencari bangunan yang sedang dikerjakan. Kebetulan rujab (Bupati Konawe) sedang dibangun dan itu cocok jadi lokasinya, bukan karena rujabnya,” ungkapnya.

Acho memulai karier sebagai sineas setelah lulus dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tahun 2000. Sejak lulus SMA, ia telah bercita-cita menjadi sutradara dan konsisten menghadirkan cerita-cerita yang menampilkan identitas budaya Sultra dalam karya-karyanya. Lewat film terbarunya ini, ia kembali menegaskan komitmen untuk membawa cerita lokal Kabupaten Konawe dan Sultra ke layar nasional.

Post Views: 34

Read Entire Article
Rapat | | | |