Angkat Isu Perempuan dan Iklim, Mahasiswa UM Kendari Raih The Best Presentation

7 hours ago 3

Kendari – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari, Muhammad Fajar Ramadhan, meraih penghargaan The Best Presentation dalam program International Youth Connection (IYC) Batch 4 yang digelar di Malaysia dan Singapura pada 20 – 23 April 2026.

IYC merupakan wadah pengembangan pemuda yang berfokus pada kepemimpinan dan jejaring internasional. Program yang digelar kali ini diikuti oleh sebanyak 36 peserta dari berbagai daerah.

Fajar menuturkan rangkaian kegiatan meliputi kunjungan formal ke sejumlah institusi, seperti National University of Singapore (NUS), Marina Barrage Singapura, Universiti Malaya (UM) di Malaysia, serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur.

Muhammad Fajar Ramadhan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari yang meraih penghargaan The Best Presentation dalam program International Youth Connection (IYC) 2026.Muhammad Fajar Ramadhan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari yang meraih penghargaan The Best Presentation dalam program International Youth Connection (IYC) 2026. Foto: Istimewa. (23/4/2026).

Selain itu, dilakukan juga pertukaran budaya dan diakhiri dengan acara puncak berupa presentasi proyek dari tiap tim peserta yang sudah dibentuk. Fajar sendiri berasal dari Group 7 yang beranggotakan empat orang dari provinsi yang berbeda.

Fajar mempresentasikan proyek mengenai “Peran Perempuan dalam Citizen Science Demi Mengatasi Kerentanan Pulau-pulau Kecil terhadap Perubahan Iklim melalui Pendekatan Mangrove Heritage Lab”. Ia menyadari bahwa perempuan masih kurang dalam partisipasi mengambil keputusan, khususnya di Wilayah Indonesia bagian timur.

Meski demikian, Fajar menilai perempuan justru lebih sering melakukan kontak langsung dengan ekosistem mangrove. Hal itu berdasarkan contoh nyata yang ia pelajari dari Petronela Merauje (akrab disapa Mama Nela), wanita asal Kota Jayapura, Papua. Ia merupakan pegiat lingkungan yang aktif memperjuangkan hutan adat serta konservasi alam.

Menurut Fajar, kiprah Mama Nela menunjukkan bahwa sains warga yang dipadukan dengan perspektif dan peran perempuan dapat menjadi solusi adaptif bagi perubahan iklim, mengingat perempuan memiliki ciri khas sendiri dalam mengambil langkah yang berdampak.

“Namun, perempuan lebih sering mengalami kontak langsung dengan mangrove salah satu kasus nyatanya adalah ibu Petronela Merauje. Perempuan adalah ibu bagi semua yang hidup. Mama Nela menunjukkan bahwa citizen science dan perempuan adalah solusi adaptif bagi perubahan iklim,” ujarnya kepada Kendariinfo, Minggu (26/4/2026).

Fajar menegaskan anak muda memiliki peran penting dalam menciptakan perubahan. Menurutnya, setiap tindakan memiliki dampak bagi masa depan, termasuk menjaga lingkungan dari isu iklim.

“Sebagai orang yang muda dan akan terus menghadap ke depan, saya belajar banyak hal, bagaimana individu bisa memberikan dampak positif ke kelompok atau sebaliknya. Setiap langkah memiliki value buat hari esok dan peran kita sebagai manusia untuk menjaga tempat tinggal kita menjadi rumah yang aman, bebas dari isu iklim,” pungkasnya.

Nah sekarang Makin Tahu Indonesia kan!!

Post Views: 31

Read Entire Article
Rapat | | | |