Protes Ayah Siswa SMAN 1 Kabangka, Muna: Menu Buah Busuk dalam MBG

4 hours ago 3

Muna – Pria berinisial H, ayah siswa penerima makanan bergizi gratis (MBG) di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kabangka, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), melayangkan protes menu buah salak busuk dan berulat. Protes disampaikan H setelah anaknya menerima MBG yang dibagikan pada Kamis (26/2/2026).

H menjelaskan menu buah rusak saat anaknya berbuka puasa dengan menyantap MBG yang dibagikan. Setelah menghabiskan roti, anaknya lalu mengupas salak dan mendapati isinya sudah membusuk, bahkan terdapat ulat di dalamnya.

“Saat itu saya ada disampingnya. Selain busuk isi salak ada ulatnya,” jelas H kepada Kendariinfo, Jumat (27/2).

Isi buah salak membusuk dalam program makanan bergizi gratis (MBG) yang diterima siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kabangka, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra).Isi buah salak membusuk dalam program makanan bergizi gratis (MBG) yang diterima siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kabangka, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto. Istimewa. (26/1/2026).

H mengungkapkan kekecewaannya terhadap Satuan Pelayanan Pemunahan Gizi (SPPG) Muna Kabangka Wakobalu Agung yang tidak memastikan kualitas buah kepada penerima manfaat. Menurut H, selain anaknya, sebagian siswa juga mengaku mendapat buah salak dalam kondisi busuk.

“Walau berpenghasilan pas-pasan, saya tidak pernah memberi buah busuk kepada anak-anak. Setelah pulang sekolah, Jumat 27 Februari, anak saya cerita. Katanya bukan hanya dia yang dapat salak busuk, tetapi hampir semua siswa. Saran untuk SPPG jangan hanya cari untung dengan mengorbankan penerima MBG,” ungkapnya.

H menyebut paket yang MBG diterima anaknya dengan menu satu butir telur, roti, tempe dua iris, dan buah salak. Ia juga mempertanyakan penyaluran MBG yang sebelumnya hanya diterima dalam dua kali dalam sepekan.

“Di SMAN 1 Kabangka sebelumnya hanya menerima MBG dua kali dalam satu minggu,” ujarnya.

Kepala SPPG MBG Muna Kabangka Wakobalu Agung, Kardi, mengaku belum menerima laporan dari pihak sekolah maupun warga terkait temuan menu buah busuk dan berulat.

“Pihak sekolah biasanya ketika ada yang tidak sesuai dengan menu langsung menghubungi, sehingga kami segera menggantinya. Untuk saat ini belum ada keluhan dari sekolah begitupun warga,” kata Kardi kepada Kendariinfo, Minggu (1/3).

Terkait penyaluran MBG yang diterima dua kali dalam sepekan, Kardi mengatakan hal itu merupakan kebijakan rapel berdasarkan arahan Badan Gizi Nasional (BGN) dengan kesepakatan masing-masing sekolah. Namun, kebijakan tersebut kini sudah dihentikan.

“Penyaluran untuk rapel MBG, baru satu kali kami lakukan. Sekarang sudah ada arahan agar tidak melakukan rapel lagi,” pungkasnya.

Post Views: 149

Read Entire Article
Rapat | | | |