Musim Kemarau Sultra Diprediksi Juni 2026, Petani Diminta Sesuaikan Pola Tanam

6 hours ago 5

Kendari – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) akan mulai memasuki musim kemarau pada Juni 2026. Sejumlah sektor diminta melakukan langkah antisipasi sejak dini untuk meminimalkan dampak kekeringan terkhusus sektor pertanian.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Sultra, Kusairi, mengatakan sektor pertanian menjadi salah satu yang perlu segera menyesuaikan diri dengan prakiraan musim yang telah dirilis BMKG.

“Untuk bidang pangan, para petani diharapkan menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi prakiraan musim atau iklim yang dirilis oleh BMKG,” kata Kusairi, Rabu (11/3/2026).

Selain menyesuaikan waktu tanam, petani juga disarankan memilih jenis tanaman yang membutuhkan air lebih sedikit agar tidak rentan mengalami gagal panen saat kemarau.

“Petani juga diharapkan memilih varietas tanaman yang membutuhkan air sedikit, tahan kekeringan, dan memiliki siklus tanam yang lebih pendek,” ujarnya.

BMKG juga menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya air menjelang musim kemarau. Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan melakukan revitalisasi waduk serta memperbaiki jaringan distribusi air untuk memastikan ketersediaan air bagi masyarakat.

“Dari sisi sumber daya air, diharapkan dilakukan revitalisasi waduk, memperbaiki jaringan distribusi air, serta memastikan ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat,” jelas Kusairi.

Di sektor energi, khususnya pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pengelola bendungan diminta menjaga kapasitas air agar operasional pembangkit tetap stabil selama musim kemarau.

“Untuk beberapa PLTA yang ada, diharapkan memastikan kapasitas air untuk operasional bendungan tetap sesuai sehingga operasionalnya tidak terganggu,” ujarnya.

Kusairi juga mengingatkan potensi penurunan kualitas udara selama musim kemarau karena polutan lebih mudah terkonsentrasi di udara kering.

“Pada musim kemarau, kualitas udara cenderung lebih rentan terhadap polutan, sehingga perlu diantisipasi dampaknya terhadap kesehatan,” bebernya.

Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan serta kebakaran permukiman juga diprediksi meningkat seiring kondisi cuaca yang lebih kering. BMKG meminta masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana tersebut.

“Pada musim kemarau ini kita juga rawan kebakaran, baik kebakaran hunian maupun kebakaran hutan dan lahan. Termasuk juga potensi kekeringan sehingga masyarakat perlu mengantisipasinya sejak dini,” tandasnya.

BMKG Prediksi Awal Musim Kemarau di Sultra 2026 Maju, Sebagian Wilayah Mulai Juni

Post Views: 126

Read Entire Article
Rapat | | | |