Kuliah Umum Menteri Ketenagakerjaan di Kendari Soroti Fenomena Unmatch Worker

1 day ago 13

Kendari – Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia (RI), Yassierli, menyoroti fenomena unmatch worker atau ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan dengan pekerjaan yang dijalani tenaga kerja. Kondisi tersebut dinilai berdampak pada produktivitas nasional, dengan sekitar 33,5 persen pekerja bekerja di luar bidang keilmuannya.

Hal itu disampaikan Yassierli saat menjadi pembicara dalam Kuliah Umum Peran Perguruan Tinggi dalam Penyampaian Talenta Masa Depan di Universitas Muhammadiyah Kendari (UM) Kendari, Rabu (5/8/2026).

Sebagai contoh, Yassierli menyebut lulusan teknik kimia yang bekerja pada bidang yang tidak berkaitan dengan kompetensi akademiknya. Menurutnya, meski pekerjaan tersebut tetap dapat dijalankan, keahlian yang dimiliki pekerja tidak dimanfaatkan secara optimal sehingga berpotensi menurunkan produktivitas.

“Sayang kalau ilmunya empat tahun dia belajar teknik kimia tidak terpakai. Kalau terpakai, harusnya dia bisa bekerja dengan lebih produktif,” kata Yassierli.

Ia mengatakan ketidaksesuaian antara kompetensi pekerja dan pekerjaan menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan perguruan tinggi. Sebab, lulusan yang bekerja tidak sesuai bidang keahlian berpotensi membuat kompetensi yang diperoleh selama pendidikan tidak dimanfaatkan secara optimal.

Yassierli menyebut persoalan tersebut berpengaruh terhadap produktivitas nasional. Karena itu, perguruan tinggi perlu membangun komunikasi yang lebih erat dengan Kementerian Ketenagakerjaan RI agar pendidikan dapat mengikuti perubahan kebutuhan dunia kerja.

Menurutnya, Kementerian Ketenagakerjaan RI memiliki data yang dapat digunakan perguruan tinggi untuk membaca kebutuhan tenaga kerja. Data tersebut antara lain berasal dari survei angkatan kerja nasional (Sakernas) yang dilakukan bersama Badan Pusat Statistik (BPS).

Data itu dapat menunjukkan program studi yang banyak terserap di dunia kerja hingga jenis pekerjaan yang sedang membutuhkan tenaga kerja.

“Semua data itu ada di Kementerian Ketenagakerjaan. Kita punya survei angkatan kerja nasional dengan BPS. Kita tahu program studi mana yang banyak diterima di tempat kerja dan kita tahu lowongan kerja mana yang terbuka,” ujarnya.

Yassierli menilai perguruan tinggi tidak dapat lagi menyusun kurikulum tanpa memperhatikan perubahan kebutuhan industri. Menurutnya, proses pendidikan membutuhkan waktu bertahun-tahun, sedangkan perubahan kebutuhan dunia kerja berlangsung jauh lebih cepat.

Ia menggambarkan, ketika kampus merancang kurikulum, kemudian menerapkannya hingga mahasiswa lulus empat tahun setelahnya, kebutuhan industri bisa saja telah berubah.

“Bapak dan Ibu merancang kurikulum sekarang, baru kurikulumnya berjalan, lulus baru empat tahun kemudian. Itu terlambat sekali,” katanya.

Karena itu, Yassierli mendorong perguruan tinggi untuk lebih sering berkomunikasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan. Ia bahkan membuka ruang bagi kampus untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan kebutuhan tenaga kerja.

Ia berharap dunia pendidikan dapat lebih cepat merespons perubahan yang terjadi di industri sehingga lulusan yang dihasilkan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar kerja.

“Kita ingin apa yang terjadi di industri bisa langsung direspons oleh teman-teman di dunia pendidikan,” ujarnya.

Selain persoalan unmatch worker, Yassierli juga menyoroti perubahan teknologi yang akan memengaruhi masa depan pekerjaan. Ia menyebut sekitar 59 persen pekerja membutuhkan keterampilan yang berkaitan dengan teknologi.

Kondisi tersebut membuat perguruan tinggi perlu memperkuat penguasaan teknologi bagi mahasiswa. Yassierli juga mendorong UM Kendari menjadi salah satu kampus yang memimpin adopsi teknologi.

Menurutnya, perkembangan teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang harus ditolak. Perguruan tinggi justru perlu memastikan teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Post Views: 36

Read Entire Article
Rapat | | | |