Muna – Debur ombak terdengar jelas dari belakang rumah panggung Wa Ena (65), warga Desa Kolese, Kecamatan Pasi Kolaga, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), Jumat (20/2/2026).
Di bawah kolong rumahnya yang sederhana, perempuan lanjut usia berambut memutih itu duduk bersila. Tangannya cekatan membentuk tanah liat menjadi Kantunua Dupa, gerabah khas Muna, dengan presisi yang nyaris menyerupai cetakan mesin.
Sudah sekitar 20 tahun Wa Ena menekuni kerajinan gerabah. Setiap hari, ia mulai bekerja sejak pukul 07.00 Wita hingga sore. Dalam sehari, ia mampu menghasilkan hingga 20 buah.
Wa Ena (65) pengrajin Kantunua Dupa atau gerabah khas Muna di bawah kolong rumahnya di Desa Kolese, Kecamatan Pasi Kolaga, Kabupaten Muna. Foto: Hasmin Ladiga/Kendariinfo. (20/2/2026).“Sehari bisa sampai dua puluh, kalau cuaca bagus,” ujarnya sambil terus merapikan lekukan gerabah yang baru dibentuk.
Semua proses dilakukan secara manual. Tanah liat dibentuk hanya dengan tangan, dibantu batu dan potongan bambu sederhana. Setelah selesai, gerabah dibakar lalu dijemur agar mengeras dan kokoh.
Tak ada alat modern, tak ada pengatur suhu. Semua bergantung pada pengalaman dan insting yang terasah puluhan tahun.
Bahan baku pun tak mudah didapat. Tanah liat yang bagus tidak tersedia di kampungnya. Wa Ena harus menyeberang menggunakan perahu ke desa sebelah untuk mengambilnya.
Perjalanan itu menjadi bagian dari rutinitas panjang yang jarang terlihat orang, sebuah proses sunyi yang menentukan kualitas hasil karyanya.
Kesulitan terbesar datang saat pembakaran. Suhu yang tidak stabil kerap membuat gerabah pecah, penyok, bahkan hangus.
“Kalau apinya tidak pas, bisa rusak semua,” katanya.
Setiap kegagalan berarti kehilangan waktu, tenaga, dan potensi penghasilan. Meski demikian, hasil kerja berjam-jam itu dijual hanya Rp5.000 per buah. Pembeli biasanya datang langsung ke rumahnya. Tidak ada promosi digital atau pasar besar yang menjanjikan keuntungan lebih tinggi. Hanya transaksi sederhana di kolong rumah, ditemani angin laut dan suara ombak.
Namun, di balik harga yang murah dan proses yang berat, ada keteguhan yang tak tergantikan. Di usia 65 tahun, Wa Ena tetap energik. Tangannya yang keriput justru menyimpan ketelitian tinggi. Setiap gerabah yang ia bentuk bukan sekadar barang pakai, tetapi jejak budaya yang terus ia pertahankan.
Di tengah arus modernisasi dan produk pabrikan yang makin mendominasi pasar, kerajinan tradisional seperti Kantunua Dupa berada di persimpangan. Jika tak ada regenerasi dan dukungan, bukan tak mungkin suatu hari suara gerabah yang dibentuk di bawah kolong rumah Wa Ena hanya tinggal cerita.
Namun hari ini, di tepi pantai Desa Kolese, ia masih setia menjaga api tradisi, meski kadang api itu terlalu panas dan memecahkan tanah liat yang telah ia bentuk dengan penuh ketekunan.
Post Views: 182

9 hours ago
5











































