Jakarta, CNN Indonesia --
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengeklaim sejumlah desa Kristen di Lebanon selatan malah meminta agar wilayah mereka dianeksasi ke Israel demi mendapat perlindungan dari Hizbullah.
Hal itu diutarakan Netanyahu kala Israel didesak Amerika Serikat untuk menaati gencatan senjata dengan Hizbullah dan mulai menarik pasukan dari Lebanon. Ia bahkan mengeklaim selama Israel melancarkan agresi militernya ke Lebanon selatan, wilayah yang dikuasai Hizbullah sekutu Iran, beberapa desa malah ingin diduduki oleh negara Zionis tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Desa-desa Kristen di Lebanon, beberapa di antaranya benar-benar meminta untuk dianeksasi ke Israel karena kami melindungi mereka dari Hizbullah, kelompok fanatik Hizbullah yang ingin membunuh mereka. Kami juga melakukan hal yang sama terhadap umat Kristen di mana pun," kata Netanyahu dalam program The Sunday Briefing di Fox News, Minggu (5/7).
Netanyahu tidak menyebutkan nama desa-desa Kristen yang diklaimnya mengajukan permintaan tersebut.
Dikutip AFP, Wali Kota desa Kristen Rmeish, Hanna Al Amil, sebagaimana dikutip kantor berita pemerintah Lebanon NNA, membantah pernyataan Netanyahu.
Amil mengatakan bahwa sekadar membayangkan kemungkinan tersebut pun "benar-benar tidak masuk akal". Ia juga menyebut "15 kota berpenduduk mayoritas Kristen telah mengeluarkan pernyataan dua hari lalu yang membantah tuduhan tersebut."
Dalam pernyataan pada Jumat, desa-desa tersebut kembali menegaskan tekad mereka untuk tetap bertahan di tanah mereka, seraya menekankan "kesetiaan terhadap identitas nasional" serta "komitmen terhadap bendera Lebanon."
Sejak perang dimulai, sejumlah desa Kristen di Lebanon selatan mengalami penembakan artileri, serangan udara, pengungsian, dan kerusakan infrastruktur akibat operasi militer Israel.
Sebagian besar desa tersebut tetap dihuni meski Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi. Banyak warga memilih bertahan untuk melindungi rumah, gereja, dan lahan pertanian mereka, meski beberapa desa dievakuasi sebagian atau sepenuhnya.
Selama perang berlangsung, militer Israel juga memperingatkan sejumlah desa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen melalui panggilan telepon kepada para wali kota dan pejabat setempat agar tidak mengizinkan "orang asing" masuk, yang merujuk pada para pejuang Hizbullah.
Dalam pidato terpisah pada sebuah acara kenegaraan pada Minggu, Netanyahu kembali menegaskan bahwa militer Israel akan mempertahankan kehadirannya di Lebanon selatan "selama diperlukan untuk melindungi penduduk wilayah utara dan seluruh warga Israel."
Sementara itu, Kepala Staf Militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir mengunjungi pasukan yang ditempatkan di dekat Kastel Beaufort, Lebanon selatan, pada Minggu. Ia menegaskan bahwa militer akan "terus bertindak secara tegas untuk menghilangkan ancaman dari wilayah Lebanon."
Pasukan Israel dan milisi Hizbullah masih terus terlibat bentrokan meski telah ada kesepakatan yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon, yang bertujuan membuka jalan menuju penghentian konflik secara permanen.
Dalam wawancaranya dengan Fox News, Netanyahu juga menanggapi laporan mengenai perbedaan pendapat dengan Presiden AS Donald Trump terkait kesepakatan yang menghentikan perang dengan Iran.
"Biar saya katakan bahwa kami memiliki hubungan yang sangat baik, yang, seperti yang saya katakan, merupakan hubungan antarsekutu," ujar Netanyahu.
"Sebanyak 99 persen waktu, kami memiliki pandangan yang sama. Namun, seperti dalam setiap keluarga atau persahabatan yang erat, terkadang ada perbedaan pendapat dan kami membahasnya secara terbuka. Saya bisa katakan bahwa kami membicarakannya dengan terbuka, dan biasanya kami juga berhasil menyelesaikannya," lanjutnya.
Pernyataan Netanyahu itu disampaikan sehari setelah Trump mengatakan kepada Axios bahwa ia percaya Israel akan manut dengan AS terkait permasalahan Iran dan konflik di Timur Tengah.
Trump bahkan mengatakan Netanyahu "tahu siapa bosnya."
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump berulang kali mengkritik Netanyahu di tengah negosiasi mengenai kesepakatan dengan Iran. Trump menuduh Netanyahu tidak tahu berterima kasih dan bahkan menyebutnya "gila" terkait eskalasi operasi militer Israel di Lebanon.
Dalam wawancaranya dengan Axios, Trump juga mengatakan Netanyahu diperkirakan akan mengunjungi Washington dalam beberapa hari mendatang.
(rds)
Add
as a preferred source on Google

17 hours ago
5













































