Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang pembawa berita di Uganda, Edward Rukidi Kijanangoma, tiba-tiba ditunjuk sebagai calon raja Kerajaan Tooro setelah raja sebelumnya, Oyo Nyimba Kabamba Iguru Rukidi IV, meninggal dunia pada Agustus lalu.
Komite seleksi Kerajaan Tooro mengumumkan Kijanangoma sebagai calon penerus takhta setelah melalui proses pencarian. Kijanangoma merupakan sepupu mendiang Raja Oyo.
Selama ini, ia bekerja sebagai pembawa berita sekaligus editor di lembaga penyiaran negara Uganda Broadcasting Corporation.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kijanangoma diperkirakan akan dinobatkan sebagai raja pada pekan ini. Ia akan menggantikan Raja Oyo yang dijadwalkan dimakamkan pada Sabtu (19/9).
Upacara pemakaman tersebut diperkirakan dihadiri puluhan ribu pelayat di sebuah kota terpencil dekat perbatasan Uganda dan Kongo.
Raja Oyo meninggal dalam keadaan belum menikah. Namun, Presiden Uganda Yoweri Museveni mengatakan Oyo meninggalkan seorang pewaris muda yang lahir di luar nikah.
Komite Kerajaan Tooro tetap memilih Kijanangoma sebagai penerus takhta.
Keputusan tersebut bertujuan menjaga kesinambungan kerajaan sekaligus menarik dukungan kaum tradisionalis. Pilihan Kijanangoma juga dinilai dapat meredam penolakan terhadap kemungkinan anak kecil kembali menduduki takhta.
Namun, keputusan itu langsung menuai penolakan dari keluarga dekat Raja Oyo. Ruth Komuntale, saudara perempuan Oyo, mengaku kecewa dengan keputusan komite tersebut.
"Kami sangat kecewa," kata Komuntale kepada stasiun televisi lokal NBS.
Menurut Komuntale, keputusan itu berpotensi menimbulkan perpecahan di lingkungan kerajaan. Ia juga mengatakan surat wasiat Oyo dengan jelas menyebut bahwa mendiang raja meninggalkan seorang ahli waris untuk takhtanya.
"Sejujurnya, bagi saya ini sangat dramatis, mencoba menimbulkan perpecahan dan kekacauan," ujarnya.
Penunjukan Kijanangoma pun berpotensi memicu kontroversi dan gugatan hukum jika para pendukung Raja Oyo merasa hak pewarisnya diabaikan.
Kepemimpinan Raja Oyo
Raja Oyo sendiri memiliki sejarah panjang sebagai pemimpin Kerajaan Tooro. Ia naik takhta pada 1995 ketika baru berusia 3 tahun setelah ayahnya meninggal dunia.
Saat masih kecil, Oyo dikenal sebagai sosok yang menarik perhatian banyak orang. Ia kerap tampil dengan jubah berwarna-warni dan menjadi figur yang dipuja ratusan ribu rakyat Tooro.
Dalam upacara penobatannya, Oyo menjalani berbagai ritual adat. Ia juga dibawa ke pemakaman kerajaan untuk menjalani ritual kedewasaan dengan melemparkan sembilan biji kopi ke makam ayahnya.
Oyo kemudian dikenal secara tidak resmi sebagai raja termuda di dunia. Status tersebut membuatnya menjadi perhatian, termasuk dari sejumlah pemimpin dunia yang bertemu dengannya dalam berbagai acara kenegaraan. Salah satunya adalah mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela.
Karena masih terlalu muda untuk memimpin, Oyo mendapat bimbingan dari para wali yang ditunjuk kerajaan hingga mencapai usia dewasa, yakni 18 tahun.
Mendiang pemimpin Libya, Moammar Gaddafi, juga diketahui memiliki hubungan dekat dengan keluarga Kerajaan Tooro.
Gaddafi beberapa kali mengunjungi Uganda dan memberikan dukungan kepada Oyo serta ibu suri selama bertahun-tahun hingga kematiannya pada 2011.
Kerajaan Tooro merupakan salah satu dari lima kerajaan tradisional yang diakui pemerintah Uganda. Kerajaan-kerajaan tersebut tidak memiliki kedaulatan atau kewenangan politik secara formal.
Kerajaan tradisional Uganda sempat dilarang setelah negara itu merdeka dari pemerintahan kolonial Inggris. Larangan tersebut diberlakukan oleh presiden republik yang ingin menyatukan Uganda.
Pemerintah kemudian memulihkan keberadaan kerajaan tradisional pada 1993. Meski tidak memiliki kewenangan politik dan tidak boleh terlibat dalam politik partisan, para raja tetap memiliki peran penting sebagai penjaga budaya dan tradisi masyarakat setempat.
(mge/dna)

8 hours ago
5













































