Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan membombardir Oman jika Muscat menghalangi kesepakatan AS dengan Iran soal Selat Hormuz.
"Jika Oman menghalangi, kami akan mengajar mereka habis-habisan," kata Trump saat diwawancara Fox News, Senin (17/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ancaman Trump muncul saat AS dan Iran masih terus berperang meski ada nota kesepahaman (Mou) untuk mengakhiri perang dan gencatan senjata pada April lalu.
Pernyataan itu juga muncul saat AS dan Iran berusaha berunding guna mengakhiri perang.
Lalu, kenapa Trump mengancam Oman?
Oman dan Iran sedang terlibat negosiasi guna membahas masa depan Selat Hormuz. Namun, perundingan tersebut tak melibatkan Amerika Serikat, padahal Trump sangat ining menguasai jalur itu.
Selat Hormuz ditutup Teheran sebagai balasan usai AS dan sekutunya AS menggempur habis-habisan Iran pada akhir Februari.
Pembicaraan Oman dan Iran juga membahas penetapan rute untuk jalur aman kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Pada awal Agustus lalu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bahkan mengatakan masa depan rute pelayaran di Hormuz sedang memasuki tahap akhir.
"Negosiasi berada di jalur menuju finalisasi dan sedang memasuki tahap akhir," demikian laporan media pemerintah Iran, Mehr News, mengutip Araghchi.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan Selat Hormuz tak akan kembali ke situasi sebelum perang. Ia juga menekankan perjanjian dengan Oman tak serta merta pembukaan penuh rute tersebut.
"Dalam keadaan apa pun Selat Hormuz tidak akan kembali ke situasi sebelum perang," kata dia pada awal Agustus.
Rute yang disepakati di masa depan di Selat Hormuz, kata Bgahaei, bukanlah rute utara atau rute selatan saat ini, melainkan rute baru yang akan ditentukan melalui kesepakatan antara Iran dan Oman.
Iran dan Oman, lanjut dia, memiliki tanggung jawab bersama untuk bekerja sama dalam keamanan maritim dan navigasi yang aman.
Baghaei lantas mengutip poin kelima nota kesepahaman (MoU) yang sudah ditandatangani Iran-AS pada Juni lalu. Menurut poin itu, pengelolaan Selat Hormuz di masa mendatang dilakukan Teheran dan berkonsultasi dengan Oman serta negara di kawasan.
Selama 22 atau 23 hari pertama implementasi perjanjian, lanjut dia, jalur utara Selat Hormuz aman dan kapal bisa melintas.
"Namun, sebelum periode 30 hari berakhir, yang tadinya direncanakan untuk memulihkan lalu lintas maritim ke kondisi sebelum perang, terjadi tindakan agresi terhadap Iran," kata dia, dikutip Mehr News.
Ia menekankan pembicaraan Teheran dengan Muscat bersifat bilateral dan tidak melibatkan pihak ketiga mana pun.
"Kita harus memastikan Selat Hormuz tak bisa disalahgunakan pihak-pihak yang sudah melakukan agresi terhadap Iran," kata dia.
(rds/rds)

7 hours ago
8
















































