Jakarta, CNN Indonesia --
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim kembali menunjukkan keberaniannya dengan menolak negaranya dijadikan jalur pengiriman apa pun ke Israel, terutama yang mendukung atau berkontribusi terhadap kemampuan militer negara zionis itu.
Hal itu diungkapkan Anwar melalui kicauannya di X pada Selasa (15/9), menyusul penyitaan sejumlah kontainer di pelabuhan terbesar Malaysia, Pelabuhan Tanjung Pelepas, yang hendak dikirim ke Israel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Posisi Malaysia jelas dan tegas. Kami tidak akan membiarkan negara kami digunakan sebagai jalur bagi pengiriman apa pun yang mendukung atau berkontribusi terhadap kemampuan militer Israel maupun kekejamannya terhadap warga Palestina dan nyawa orang-orang tak bersalah lainnya," kata Anwar.
Anwar menegaskan "setiap pengiriman yang mencurigakan akan menjalani pemeriksaan dan penyelidikan sesuai dengan hukum Malaysia."
Mengutip Bloomberg, otoritas Malaysia menyita sejumlah besar kontainer yang hendak dikirimkan ke Israel.
Penyitaan ini berlangsung sekitar pertengahan Agustus lalu, ketika sentimen anti-Israel di Negeri Jiran semakin jelas dan meningkat menyusul kejahatan negara zionis itu yang makin menjadi terhadap bangsa Palestina.
Ini bukan yang pertama Anwar Ibrahim bersikap melawan terhadap negara zionis itu. Pada Juli lalu, Anwar juga mengusir sejumlah warga Israel dari Malaysia yang berada di "Network School" di Forest City, Johor.
Para warga Israel itu datang dengan paspor ganda. Pemerintah Negara Bagian Johor kemudian meminta Kementerian Dalam Negeri dan lembaga terkait untuk melakukan penyelidikan.
Mengapa berani?
Meski mendapat tekanan dari sekutu Israel yaitu Amerika Serikat, namun Anwar Ibrahim menegaskan bahwa Malaysia tidak takut ancaman Amerika Serikat atau Israel.
"Kami menentang kehadiran warga negara Israel mana pun di sini, bukan orang Yahudi, tetapi warga negara Israel karena mereka terlibat dalam pembunuhan, kejahatan, dan penindasan serta penjajahan berkelanjutan terhadap Palestina dan Gaza," tutur Anwar.
Bagi Anwar, mengusir warga Israel dari negaranya adalah soal rasa kemanusiaan dan keadilan bagi sesama manusia, terutama Palestina.
"Kita berbicara tentang kemanusiaan, keadilan, hak asasi manusia bagi umat Muslim, Hindu, Buddha, dan Kristen. Kita menghormati mereka sebagaimana mereka menghormati kita."
"Tingkat agresi telah mencapai tingkat kegilaan," katanya.
"Perempuan dan anak-anak dibantai, rumah sakit dan sekolah dibom. Di manakah keadilan, kemanusiaan, dan hak-hak demokrasi yang dibicarakan Barat?"
Malaysia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel sejak merdeka pada tahun 1957. Karena itu, Malaysia secara konsisten menolak mengakui Israel demi mendukung kedaulatan Palestina. Hal itu merupakan sikap resmi pemerintah dan juga rakyat Malaysia. Setiap perdana menteri Malaysia selalu menyuarakan sikap dukungan terhadap Palestina.
(imf/bac)

2 hours ago
2















































