Roti Berkah Ibu Jadi Momentum WBP Lapas Kendari Bangkit Benahi Masa Depan Lebih Baik

1 week ago 32

Kendari – Di balik rutinitas yang serba terbatas di Lapas Kelas IIA Kendari, muncul sebuah aktivitas baru yang perlahan mengubah cara para warga binaan pemasyarakatan (WBP) memandang masa depan mereka. Setiap pagi, sebelum hiruk pikuk blok hunian dimulai, aroma roti hangat mengalir dari sebuah dapur kecil yang kini menjadi pusat belajar baru bagi para warga binaan. Tempat itu tidak hanya menjadi ruang produksi, tetapi juga ruang penyembuhan dan perbaikan diri bagi orang-orang yang berada dalam masa pembinaan.

Dari dapur inilah Roti Berkah Ibu dibuat, sebuah produk sederhana yang memberi kesempatan bagi mereka untuk membangun kembali arah hidup. Nama ini lahir dari pesan seorang ibu yang berharap anaknya meninggalkan masa lalu yang kelam dan mencoba memulai hidup baru melalui usaha roti. Pesan itu bukan hanya menjadi nama, tetapi menjadi nilai yang hidup di antara para warga binaan yang terlibat. Setiap adonan yang diuleni dan setiap roti yang dipanggang mengandung doa agar perubahan benar-benar bisa terjadi.

Pesan itu menjadi sumber kekuatan bagi Muhammad Yusuf Yahya, warga binaan yang menjadi penggerak utama program ini. Yusuf memandang nama tersebut sebagai amanah yang tidak boleh dipisahkan dari perjalanan hidupnya. Ia merasa bahwa pesan ibunya bisa menjadi pengingat bagi dirinya dan teman-temannya untuk tidak kembali pada kesalahan yang sama.

Warga binaan Lapas Kelas IIA Kendari saat melakukan proses pembuatan produk Roti Berkah Ibu di dalam blok hunian kawasan pembinaan kemandirian.Warga binaan Lapas Kelas IIA Kendari saat melakukan proses pembuatan produk Roti Berkah Ibu di dalam blok hunian kawasan pembinaan kemandirian. Foto: Kendariinfo. (18/11/2025).

“Ini pesan dari ibu saya untuk memulai hidup baru dan meninggalkan semua pekerjaan yang selama ini saya geluti hingga masuk ke sini. Kami semua hanya ingin mendapatkan keberkahan dari ibu,” kata Yusuf saat ditemui Kendariinfo di Lapas Kelas IIA Kendari, Selasa (18/11/2025).

Program roti ini mulai dirintis sekitar dua bulan lalu dan langsung memberi warna baru dalam kehidupan para WBP. Di tempat yang sering dianggap sebagai ruang jeda dari kehidupan normal, warga binaan justru mendapatkan pengalaman yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Aktivitas membuat roti bukan hanya kegiatan pengisi waktu, tetapi menjadi ruang belajar yang mengembalikan rasa percaya diri. Mereka diajak untuk mengembangkan pola hidup baru yang lebih terarah dan bekerja sama sebagai sebuah tim.

Di sana mereka kembali mengenal disiplin, ketekunan, dan kebiasaan bekerja dengan langkah yang teratur. Proses pembenahan juga dilakukan secara bertahap. Para WBP diajarkan mulai dari mengenali bahan baku, memahami perbandingan adonan, mempelajari teknik dasar pengolahan, hingga menjaga kualitas rasa dan kebersihan. Mereka juga belajar ritme produksi yang konsisten agar hasil yang dibuat tidak sekadar enak, tetapi juga layak dipasarkan.

Perjalanan dua bulan program ini berlangsung dengan dukungan penuh dari pihak Lapas Kelas IIA Kendari. Kalapas Mukhtar, disebut memberikan perhatian besar terhadap perkembangan program roti ini. Menurut Yusuf, dukungan tersebut menjadi motivasi tambahan bagi warga binaan bahwa upaya mereka tidak sia-sia.

Warga binaan Lapas Kelas IIA Kendari saat melakukan proses pembuatan produk Roti Berkah Ibu di dalam blok hunian kawasan pembinaan kemandirian.Warga binaan Lapas Kelas IIA Kendari saat melakukan proses pembuatan produk Roti Berkah Ibu di dalam blok hunian kawasan pembinaan kemandirian. Foto: Kendariinfo. (18/11/2025).

“Alhamdulillah kurang lebih dua bulan kami jalankan, dapat dukungan dan support. Alhamdulillah juga Kalapas mempunyai komitmen. Beliau berharap roti lapas ini bisa menjadi produksi unggulan,” ujarnya.

Dukungan itu membuat para WBP merasa dihargai. Mereka melihat bahwa keterlibatan mereka dalam program ini membuka kesempatan untuk memiliki masa depan yang lebih baik setelah bebas nanti. Bahkan, informasi yang diterima para WBP menyebut bahwa program roti mendapat atensi hingga tingkat kementerian.

“Informasi yang disampaikan oleh Kalapas, Menteri Imipas Agus Andrianto memberikan apresiasi terhadap produksi roti kami ini,” kata seorang warga binaan kepada Yusuf.

Apresiasi tersebut menjadi dorongan moral yang besar. Para WBP pun mulai membayangkan bahwa produk mereka suatu hari bisa dinikmati masyarakat luas, bukan hanya lingkungan lapas. Untuk mewujudkan itu, mereka mulai menjajaki peluang kolaborasi bersama berbagai pihak, termasuk Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Sulawesi Tenggara (Sultra).

Bahkan pemerintah daerah juga menunjukkan ketertarikan. Bupati Konsel Irham Kalenggo disebut telah memesan roti sambil menunggu kelengkapan legalitas produksi. Roti yang dibuat di dapur lapas ini memang cukup menjanjikan dari sisi kualitas dan kuantitas. Dalam sehari, dapur roti mampu mengolah sekitar empat kilogram adonan yang menghasilkan lebih dari seratus roti dengan cita rasa yang konsisten. Bahan-bahan yang digunakan juga tidak main-main, para WBP menggunakan semua bahan dengan label premium.

Untuk sementara, pemasaran masih terbatas bagi warga binaan di dalam lapas atau tamu yang berkunjung. Namun permintaan dari luar terus muncul secara alami, menandakan bahwa peluang usaha ini cukup besar jika dikelola dengan sistem yang baik. Karena itu, Lapas Kendari sedang menyiapkan dokumen legal, pengemasan, sertifikasi, hingga alur distribusi agar produk ini bisa dipasarkan secara resmi sebagai produk UMKM binaan lapas.

Lebih dari sekadar makanan, Roti Berkah Ibu telah menjadi simbol perubahan dan harapan baru bagi para warga binaan. Proses membuat roti yang tampak sederhana ternyata memberikan pengaruh besar pada perkembangan mental dan emosional mereka. Setiap roti yang dipanggang merepresentasikan langkah kecil menuju kehidupan yang lebih baik. Di balik keterbatasan ruang gerak dan waktu, mereka menemukan bahwa perubahan bukan hanya mungkin, tetapi nyata ketika kesempatan diberikan.

Sementara itu, Kepala Seksi Bimbingan Kerja (Bimnaker) Lapas Kelas IIA Kendari, Al Jamin, menegaskan bahwa program ini merupakan salah satu fokus utama pembinaan kemandirian. Menurutnya, Roti Berkah Ibu bukan sekadar program iseng atau kegiatan tambahan, tetapi bagian dari strategi besar untuk memberikan bekal keterampilan bagi warga binaan.

Al Jamin menjelaskan bahwa antusiasme warga binaan meningkat dari hari ke hari. Mereka datang lebih awal, berlatih lebih serius, dan menunjukkan sikap tanggung jawab terhadap produk yang mereka hasilkan. Hal ini menunjukkan bahwa program roti telah berhasil menciptakan lingkungan pembelajaran yang sehat.

“Ini merupakan salah satu produk unggulan kami. Pemerintah juga memberi perhatian besar, dan ke depan kami berupaya agar roti buatan warga binaan bisa dijual di luar lapas,” ujarnya.

Menurutnya, jika proses legalisasi rampung, maka produk ini akan menjadi contoh bagaimana pembinaan yang tepat dapat membuka jalan baru bagi warga binaan untuk mandiri dan kembali diterima masyarakat. Program seperti ini, kata Al Jamin, harus terus diperkuat karena terbukti efektif memberikan perubahan positif.

“Sampai saat ini penjualan masih di dalam lingkungan lapas. Paling kalau ada tamu datang mereka beli. Kami masih mengurus legalisasi dan alur agar produk UMKM warga binaan ini bisa laku di luar,” pungkasnya.

Ada sekitar 9 jenis roti yang dikembangkan oleh para warga binaan di lapas ini dengan varian rasa mulai dari donat toping, roti abon sapi, roti pandan hingga sosis. Harganya pun cukup ramah di kantong berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Sedangkan untuk varian bolu hingga brownies, Roti Berkah Ibu ini mematok harga berkisar Rp150 ribu. Buka setiap hari. Warga yang hendak membeli produk UMKM ini, bisa datang langsung ke Lapas Kelas IIA Kendari.

Post Views: 93

Read Entire Article
Rapat | | | |