Dokter RSUD Muna Keluhkan Minimnya Fasilitas Operasi, tetapi Berujung Teror

1 week ago 26

Muna – Ruhwati Kadir, Dokter Spesialis Kandungan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. L. M. Baharuddin, M.Kes., Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), mengeluhkan minimnya fasilitas bagi pasien dan pakaian medis saat melakukan operasi bedah. Namun, keluhan itu berujung pada teror kepadanya.

Keluhan Ruhwati disampaikan melalui akun Instagram miliknya. Dalam unggahannya, Ruhwati menulis tim kamar operasi atau operatie kamer (OK) sedang bersiap menangani tiga pasien yang harus menjalani operasi caesar atau sectio caesarea (SC) dalam kondisi darurat (cito). Namun, dalam ruangan bedah hanya tersedia dua set kain penutup.

Ruhwati mengungkapkan adanya perbedaan prioritas pengadaan perlengkapan di rumah sakit. Menurutnya, untuk kegiatan olahraga, futsal maupun lari santai, proses pengadaannya berlangsung cepat. Sebaliknya, kebutuhan penting, seperti kain penutup pasien dan jubah operasi tenaga medis justru tidak pernah diadakan. Padahal, harga kain hanya berkisar Rp15 ribu.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. L. M. Baharuddin, M.Kes., Kabupaten Muna, Muhammad Marlin.Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. L. M. Baharuddin, M.Kes., Kabupaten Muna, Muhammad Marlin. Foto: La Ode Muhamad Aslam/Kendariinfo. (20/11/2025).

“Drama Kamis pagi. Dalam ruangan OK, terjadi lagi, pasien rencana SC cito tiga orang. Set kain yang siap hanya dua paket. Ini rumah sakit, ya, kalau urusan hura-hura kegiatan futsal atau jalan fun run cepat. Sementara kain penutup pasien dan baju jubah operasi diminta, tidak pernah ada. Apa karena harga kain hanya Rp15 ribu, sehingga tidak ada fee?” tulis Ruhwati, Kamis (20/11).

Ruhwati juga menyebut pengadaan alat tomografi terkomputasi (CT) scan atau mesin pemeriksaan medis menggunakan teknologi komputer untuk menghasilkan gambar bernilai Rp15 miliar kini sudah tidak digunakan dan tersimpan dalam gudang.

“Bayangkan harga CT scan langsung diadakan dan sekarang barang tersebut tersimpan di gudang. Asal tahu saja, Rp15 miliar bisa bayar insentif tenaga kesehatan dua tahun berturut-turut,” ujarnya.

Selain tulisan, ia memperlihatkan gambar asistennya tak mengenakan gaun bedah saat hendak melakukan operasi bedah dalam ruangan. Foto kain penutup pasien sudah lusuh, berwarna hitam dan robek pada tiga bagian.

“Jangan sampai dikira hoaks atau saya mengada-ada. Ini bukti asistenku tidak pakai jubah. Kain penutup pasien kalau kami operasi, bayangkan warna aslinya apa? Sudah coreng-moreng, tak terbentuk dan robek tiga. Kejadian pagi ini serta berulang,” ungkapnya.

Ruhwati berharap siapa pun yang melihat unggahannya dapat menyampaikan kondisi tersebut kepada Pemerintah Daerah Muna, aparat penegak hukum, sekaligus Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) untuk melakukan sidak ke RSUD dr. H. L. M. Baharuddin, M.Kes.

“Operasi SC per hari paling sedikit ada lima pasien dengan klaim BPJS sekitar Rp35 juta. Jangan alasan efisiensi, sementara pemda jalan-jalan bisa. Sementara jasa berbulan-bulan tidak terbayar? Sama akreditasi dapat bintang lima paripurna, parameternya apa?” tulisnya.

Dalam postingannya lainnya, Ruhwati turut membagikan video saat sedang melakukan operasi. Dalam video itu, ia memperlihatkan benang yang dipakai untuk menjahit bagian tubuh pasien sudah lapuk.

“Ini lapuk kasian benangnya. Nonton sendiri. Semoga Pak Menteri bisa menonton,” ucapnya.

Namun, unggahan-unggahannya berujung pada teror. Selain mendapat dukungan dari rekan-rekannya di rumah sakit, Ruhwati mengaku turut mendapat ancaman. Namun, Ruhwati tak menyebut secara rinci pelaku teror terhadapnya

“Pantas orang-orang takut semua bicara. Jadi bayangkan kezaliman bukan hanya di OK. Ayo teman-teman, berani speak up. Kita bicara apa adanya, bukan ada apanya,” ungkapnya.

Direktur RSUD Muna, Muhammad Marlin, membenarkan terdapat tiga pasien yang akan menjalani operasi bedah. Ia mengatakan persoalan tersebut hanya salah paham. Dua set kain penutup itu telah disiapkan dalam ruangan kamar operasi. Sementara kain lainya sedang disterilkan.

“Kain sebenarnya lagi disterilkan. Kalau kain yang dua itu, sudah berada di OK. Sebenarnya tidak ada masalah, hanya miskomunikasi,” kata Marlin kepada Kendariinfo, Kamis (20/11).

Marlin mengaku perlengkapan perlindungan diri sebenarnya tersedia lengkap, tetapi masih dalam proses sterilisasi. Dua set kain operasi itu sudah dilengkapi dengan gaun bedah. Dia pun menyayangkan keluhan Ruhawati seharusnya disampaikan lebih dulu kepada kepala ruangan, unit, atau bidang.

“Kenapa tidak pakai gaun bedah temanya. Maksud saya begini, keluhan harusnya berjenjang. Ketika tidak ada di kepala ruangannya, dia lapor ke unitnya bagian penyediaan. Kalau tidak ada respons, naik di bidangnya. Mengenai pengadaan baju kaos, itu tidak pakai dana rumah sakit,” ujarnya.

Terkait video benang operasi, Marlin menuturkan itu terjadi pada Minggu, 16 Juni 2024. Saat itu, Ruhwati mengeluhkan benang digunakan sering putus. Sementara dokter lainnya menggunakan jenis benang serupa tanpa mengalami kendala. Menanggapi keluhan benang, pihaknya kemudian menyediakannya sesuai permintaan Ruhwati.

“Dia minta benang jenis layang-layang bersama dua dokter kandungan lainya. Kejadian itu tahun lalu. Ia memakai benang sering putus. Sementara dua dokter yang memakai benang serupa tidak mengalami kendala,” pungkasnya.

Post Views: 192

Read Entire Article
Rapat | | | |