Cerita Princess Piranha Berperan Jadi Hantu di Film Lokal Sultra Arwah Pue Tuko

1 day ago 11

Kendari – Konten kreator dan influencer asal Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), Rere Suhurin Wadala atau yang dikenal dengan nama panggung Princess Piranha, menjalani pengalaman akting perdananya lewat film horor komedi lokal berjudul Arwah Pue Tuko. Dalam film tersebut, Rere dipercaya memerankan sosok hantu kuntilanak.

Rere mengungkapkan, karakter yang ia mainkan merupakan seorang perempuan yang dalam cerita disebut sebagai Wa Meri, pemilik kedai kopi yang tewas dibunuh preman dan kemudian menjadi arwah gentayangan. Peran tersebut menuntutnya tampil total dari sisi ekspresi hingga penampilan fisik.

“Di film ini saya berperan sebagai kuntilanak. Ceritanya, saya adalah Wa Meri, pemilik kedai kopi yang dibunuh oleh preman, lalu arwahnya muncul,” ujar Rere kepada Kendariinfo, Selasa (6/1/2026).

Konten kreator dan influencer, Princess Piranha saat bermain di film Arwah Pue Tuko.Konten kreator dan influencer, Princess Piranha saat bermain di film Arwah Pue Tuko. Foto: Istimewa.

Ia mengakui, tantangan terberat dalam memerankan karakter tersebut terletak pada tuntutan totalitas saat mengenakan kostum dan riasan khas kuntilanak. Selain itu, pengolahan suara juga menjadi perhatian utama agar kesan horor dapat tersampaikan.

“Tantangannya itu harus benar-benar total, mulai dari pakaian, makeup ala kuntilanak, sampai suara tertawa yang harus terdengar horor,” katanya.

Rere menjelaskan, proses persiapan sebelum syuting cukup singkat, terutama pada tahap rias wajah. Namun, jadwal pengambilan gambar kerap berlangsung hingga larut malam bahkan menjelang subuh.

“Kalau makeup kurang lebih 30 menit, tapi syutingnya kadang sampai subuh,” ungkapnya.

Terkait isu mistis yang kerap melekat pada film horor, Rere menyebut selama proses syuting dirinya tidak mengalami kejadian di luar nalar. Ia menilai hal tersebut karena sejak awal tim produksi telah melakukan ritual adat sebagai bentuk izin di lokasi pengambilan gambar.

“Kalau menurut saya pribadi, tidak ada kejadian mistis. Sebelumnya sudah dilakukan ritual izin di tempat-tempat tertentu atau mosehe,” jelasnya.

Meski mengusung genre horor, suasana di lokasi syuting justru diwarnai momen-momen ringan. Rere menyebut interaksi antar pemain menjadi pengalaman unik yang paling ia ingat selama produksi film.

“Yang paling saya ingat justru hal-hal unik karena banyak talent yang kocak, jadi sering tertawa di lokasi,” bebernya.

Namun demikian, proses syuting juga tidak lepas dari kendala. Rere mengaku sempat kesulitan saat harus berakting menggunakan lensa kontak berwarna putih yang membatasi jarak pandang. Selain itu, ia juga mengalami insiden kecelakaan tunggal dalam perjalanan menuju lokasi syuting.

“Kendalanya itu waktu pakai lensa putih, otomatis penglihatan jadi sangat terbatas. Syutingnya juga berlangsung beberapa bulan sampai saya sempat mengalami kecelakaan mobil saat menuju lokasi,” tutur Rere.

Film Arwah Pue Tuko menjadi debut akting Rere di dunia perfilman. Ia menyebut keterlibatannya tidak lepas dari kedekatan dengan produser film tersebut, Vian Saryanti Haryato, yang berasal dari Kabupaten Konawe Utara (Konut). Film ini disutradarai oleh Alank Eka Aryangga, sineas asal Kabupaten Konawe.

Rere Suhurin Wadala merupakan konten kreator asal Desa Kondongia, Kabupaten Muna. Ia menempuh pendidikan di SD Negeri 16 Lohia, SMP Negeri 4 Raha, dan SMA Swasta Yapris Raha. Saat ini, Rere tercatat sebagai mahasiswa Universitas Mandala Waluya pada program studi S1 Kewirausahaan serta terpilih sebagai Duta Kampus tahun 2022.

Selain aktif di dunia digital, ia juga berkecimpung di industri hiburan sebagai pembawa acara, model, brand ambassador sejumlah produk, dan talent endorsement, dengan domisili di kawasan Kota Praja, Anduonohu, Kendari.

Arwah Pue Tuko sendiri merupakan film horor komedi yang sepenuhnya digarap oleh konten kreator lokal Sultra. Film ini mengangkat kisah kampung angker dengan sentuhan komedi serta nilai budaya daerah, termasuk penggunaan bahasa lokal dan tradisi adat.

Asisten Sutradara Arwah Pue Tuko, Aditya Arya Dwipangga, menerangkan film ini berkisah tentang teror arwah Pue Tuko atau Kakek Tongkat yang muncul setelah terjadi kekacauan di sebuah kampung hingga memicu pengambilan tumbal.

“Film ini 100 persen digarap oleh konten kreator lokal Sultra dan dikolaborasikan menjadi satu cerita utuh dengan latar budaya dan bahasa daerah,” ucap Aditya.

Diproduksi selama tujuh bulan sejak Mei hingga Desember 2025, proses syuting dilakukan di sejumlah lokasi di Sultra, di antaranya Kecamatan Sawa, Lembo, kawasan Pantai Taipa dan Pantai Meluhu (Konut). Kemudian di Kecamatan Meluhu (Konawe). Film ini dijadwalkan tayang perdana pada 17 Januari 2026 dan melibatkan sejumlah figur lokal, termasuk Bupati Konut Ikbar yang berperan sebagai camat.

Film Lokal Sultra Arwah Pue Tuko Siap Tayang Januari 2026, Angkat Budaya Tolaki

Post Views: 205

Read Entire Article
Rapat | | | |