BP3MI Sultra Bekali 500 Pelajar dan Mahasiswa soal Penempatan Pekerja Migran yang Aman

1 week ago 23

Kendari – Sebanyak 500 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga lulusan muda mengikuti sosialisasi penempatan dan pelindungan pekerja migran Indonesia yang digelar Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Tenggara (Sultra) di Hotel Qubah 9 Kendari, Senin (17/11/2025). Kegiatan ini dirancang untuk memberi pemahaman sejak dini mengenai peluang kerja di luar negeri dan mekanisme penempatan yang aman.

Dalam kegiatan ini, dua pekerja migran asal Sultra yang sedang bekerja di Jepang turut dihadirkan sebagai narasumber, salah satunya berbicara melalui sambungan daring untuk membagikan pengalaman langsung kepada peserta.

Wakil Gubernur Sultra, Hugua, mengatakan sosialisasi ini berfokus pada kesiapan sebelum keberangkatan, proses bekerja di luar negeri, hingga pemulangan pekerja migran.

Para peserta sosialisasi penempatan dan pelindungan pekerja migran Indonesia yang digelar Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) di Hotel Qubah 9 Kendari.Para peserta sosialisasi penempatan dan pelindungan pekerja migran Indonesia yang digelar Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) di Hotel Qubah 9 Kendari. Foto: Hasmin Ladiga/Kendariinfo. (17/11/2025).

“Intinya pekerja kita harus berkualitas, pergi dengan perlindungan maksimal, dan pulang dengan aman,” ujarnya.

Menurutnya, pelajar SMA dipilih karena dinilai cepat menyerap informasi dan mampu menyebarkan pengetahuan kepada keluarga mereka. Ia menekankan pentingnya sinergi pemerintah provinsi, kabupaten/kota, hingga lembaga pusat dalam urusan ketenagakerjaan yang bersifat lintas sektor.

“Pengiriman pekerja migran ini harus berkualitas, terlindungi, dan aman. Ini program sumber devisa kedua setelah migas, jadi bukan program biasa,” katanya.

Perwakilan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Nurhayati, menjelaskan lembaga pendidikan merupakan “supply channel” calon pekerja migran, sehingga pemahaman sejak awal dinilai krusial. Sosialisasi masif dilakukan untuk menekan praktik penempatan ilegal.

“Selama ini masyarakat kurang informasi sehingga masih menggunakan jalur ilegal. Kami ingin mereka paham bagaimana bekerja ke luar negeri dengan aman dan benar,” jelas Nurhayati.

Bebernya, KP2MI saat ini memanfaatkan sistem P2MI yang memuat semua lowongan pekerjaan luar negeri, baik skema antarpemerintah (G to G) maupun antarperusahaan (P to P). Sistem ini memungkinkan calon pekerja mendaftar secara online tanpa melalui calo.

Nurhayati menyebut tren pekerja migran kini bergeser ke kalangan muda.

“Dulu yang bekerja ke luar negeri didominasi ibu rumah tangga. Sekarang anak-anak muda. Banyak yang ingin bekerja di sektor restoran, hotel, hingga perawatan kesehatan,” bebernya.

Ungkapnya, saat ini permintaan tinggi datang dari Taiwan, Hong Kong, Malaysia, serta negara-negara Timur Tengah untuk sektor nonrumah tangga seperti restoran dan hospitality.

Kepala BP3MI Sultra, La Ode Askar, menuturkan sepanjang 2025 pihaknya mencatat ada sekitar 600 pekerja migran asal Sultra dalam sistem KP2MI. Namun, hanya 48 yang telah berangkat melalui BP3MI Sultra, dengan Jepang menjadi negara tujuan terbanyak.

“Kendala utama adalah kesiapan calon pekerja, terutama kemampuan bahasa sesuai negara tujuan. Misalnya ke Jepang, minimal harus memiliki kompetensi N5,” tutur Askar.

Ia menambahkan, pemerintah pusat menargetkan pengiriman 500 ribu pekerja migran pada 2026, di mana 300 ribu di antaranya merupakan alumni SMK. BP3MI berharap Sultra dapat ikut berkontribusi.

“Ini peluang besar untuk mengurangi pengangguran dan menekan angka kemiskinan,” tandasnya.

Post Views: 152

Read Entire Article
Rapat | | | |