Banjir Lumpur di Kolaka, PT Vale Sebut Pocket Pond Meluap

1 week ago 27

Kolaka – PT Vale Indonesia Tbk. menyampaikan pernyataan terkait banjir lumpur yang menerjang wilayah persawahan di Kecamatan Pomalaa dan Tanggetada, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra). Head of Corporate Communication PT Vale Indonesia Tbk., Vanda Kusumaningrum, menyebut pocket pond atau kolam penampungan sedimen meluap ke daerah aliran sungai (DAS) akibat volume air dari curah hujan tinggi yang melanda wilayah itu.

“Kami memastikan kondisi tersebut disebabkan curah hujan tinggi beberapa waktu terakhir. Menyebabkan pocket pond meluap dan tidak dapat menampung volume air hujan tersebut,” ujar Vanda Kusumaningrum dari keterangan resmi yang diterima Kendariinfo, Selasa (18/11/2025).

Vanda Kusumaningrum mengaku empati atas musibah banjir yang merendam persawahan di Desa Okooko, Kecamatan Pomalaa, dan Desa Lamedai, Kecamatan Tanggetada. Menghadapi intensitas hujan yang tinggi, dia mengatakan perusahaan rutin memantau pengambilan sampel (sampling point) di area operasional, termasuk tangkapan air ke Sungai Okooko.

“Demikian pula yang terjadi di DAS Hukohuko, Kecamatan Pomalaa. Tim kami melakukan pendataan serta pengumpulan informasi terkait potensi dampak terhadap lahan pertanian maupun tambak masyarakat di sekitar aliran Sungai Hukohuko,” katanya.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sultra, Andi Rahman, menilai banjir lumpur yang merendam persawahan masyarakat di Lamedai dan Okooko bukan sekadar faktor alam atau curah hujan semata. Banjir lumpur menandakan kerusakan lingkungan terjadi secara langsung dan berkaitan erat dengan aktivitas konstruksi PT Vale Indonesia Tbk.

“Kerusakan lingkungan di Pomalaa saat ini bukan musibah alam, akan tetapi kelalaian akibat aktivitas konstruksi PT Vale,” ungkap Andi.

Kerusakan lingkungan akibat kelalaian dapat disaksikan langsung di Sungai Okooko yang dipenuhi sedimen warna merah kecokelatan. Sawah masyarakat Desa Okooko dan Lamedai yang membentang sepanjang empat kilometer di sisi Sungai Okooko bukan hanya tergenang, tetapi benar-benar rusak akibat lumpur.

“Ini bukan karena hujan. Ini karena PT Vale tidak siap, tidak taat, dan tidak bertanggung jawab. Hujan hanya memicu apa yang memang sudah siap runtuh akibat ketidakpatuhan perusahaan dalam menjalankan izin serta standar pengelolaan lingkungan pada tahap konstruksi,” jelasnya.

Andi juga menyebut PT Vale Indonesia Tbk. yang mengeklaim menjalankan standar environmental, social, and governance (ESG) internasional seharusnya tidak gagal mengantisipasi banjir akibat curah hujan musiman. PT Vale Indonesia Tbk. yang menyampaikan kolam penampungan sedimen meluap akibat volume air dari curah hujan tinggi merupakan penyesatan terhadap publik.

“Pernyataan tersebut tidak hanya menyesatkan publik, tetapi merupakan bentuk pengingkaran terhadap fakta-fakta kerusakan yang nyata dan sedang dialami warga Pomalaa. Jika sediment pond meluap, itu adalah bukti bahwa kapasitas, desain, dan pemeliharaannya buruk. Itu bukan faktor alam, tetapi kelalaian,” pungkasnya.

Post Views: 18

Read Entire Article
Rapat | | | |