Ancaman Ekspansi Nikel di Konut, Gunung Tangkelemboke dan Karst Matarombeo Didorong Jadi Geopark Dunia

2 days ago 19

Kendari – Ancaman ekspansi pertambangan nikel di Kabupaten Konawe Utara (Konut) mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) mempercepat upaya perlindungan kawasan Gunung Tangkelemboke dan Karst Matarombeo.

Wakil Gubernur Sultra, Ir. Hugua menilai kawasan seluas sekitar 6.000 kilometer persegi itu sangat layak ditetapkan sebagai kawasan konservasi nasional hingga diusulkan sebagai UNESCO Global Geopark.

Hal tersebut disampaikan Hugua saat menghadiri presentasi hasil ilmiah Wallacea Expeditions di Hotel PlazaInn Kendari by Horison, Kota Kendari, Sultra, Senin (5/1/2026).

“Kawasan Gunung Tangkelemboke, Karst Matarombeo, dan sekitarnya sangat layak diusulkan sebagai kawasan konservasi nasional. Peluang penyelamatan masih terbuka lebar karena hingga kini belum ada izin usaha pertambangan (IUP) yang beroperasi di sana,” kata Hugua.

Ia mengapresiasi keberanian tim peneliti Wallacea Expeditions atau Ekspedisi Wallacea yang melakukan riset lapangan hampir 50 hari di medan ekstrem. Menurutnya, hasil ekspedisi tersebut menjadi basis data ilmiah yang kuat untuk mendorong perubahan status kawasan.

Hugua menegaskan, perlindungan wilayah ini bukan sekadar menjaga keindahan alam, tetapi menyangkut hajat hidup masyarakat luas di Sulawesi.

“Kawasan ini merupakan hulu sungai-sungai besar seperti Sungai Lasolo, Lalindu, dan Konaweha yang menopang kehidupan masyarakat Sultra, Sulawesi Tengah (Sulteng), hingga Sulawesi Selatan (Sulsel),” ujarnya.

Meski kewenangan penetapan status kawasan hutan berada di pemerintah pusat, Pemprov Sultra memastikan akan menggunakan temuan ilmiah tersebut sebagai dasar advokasi ke kementerian terkait.

“Kami akan mendorongnya secara serius agar kawasan ini dilindungi dalam satu lanskap konservasi terpadu,” tegas Hugua.

Sementara itu, Founder sekaligus President Naturevolution, Evrard Wendenbaum, memaparkan hasil riset yang menyebut Pegunungan Matarombeo sebagai unit hutan hujan primer terbesar yang tersisa di Pulau Sulawesi.

Organisasi nonpemerintah asal Prancis itu telah melakukan eksplorasi sejak 2012 dan menemukan berbagai nilai penting kawasan, mulai dari spesies fauna endemik rentan punah, sistem gua karst raksasa, hingga lukisan gua prasejarah.

“Kami menemukan bukti kuat aktivitas manusia purba serta keanekaragaman hayati yang luar biasa di kawasan ini,” ungkap Evrard.

Namun, analisis citra satelit terbaru menunjukkan adanya tumpang tindih antara hutan utuh dengan jalur pembalakan serta konsesi tambang nikel. Fragmentasi hutan disebut terjadi sangat cepat akibat pembukaan lahan dan aktivitas industri ekstraktif.

“Jika tidak segera diproteksi, warisan ekologis, hidrologis, dan arkeologis ini bisa hilang dalam waktu dekat. Ini harus kita jaga agar tidak bernasib seperti hutan di Sumatra,” pungkas Evrard.

Hasil riset Wallacea Expeditions kini telah dihimpun dalam dokumen komprehensif dan akan diserahkan kepada pemerintah pusat sebagai bahan pertimbangan perubahan status hukum kawasan Gunung Tangkelemboke dan Karst Matarombeo.

Post Views: 72

Read Entire Article
Rapat | | | |