Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan berselisih paham dengan Kepala Staf Gabungan Militer Jenderal Dan Caine soal rencana serangan ke Iran.
The Washington Post melaporkan Caine menentang rencana Trump menggempur Iran karena dikhawatirkan memicu perang jangka panjang. Caine juga menyampaikan kekhawatiran kekurangan amunisi dan minim dukungan sekutu jika serangan ke Iran tetap berlanjut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketidakpastian ini, menurut Caine, bisa meningkatkan risiko bagi personel AS di kawasan, terlebih yang melancarkan operasi militer.
The Washington Post melaporkan bahwa Caine menyampaikan kekhawatiran di Gedung Putih dan Pentagon bahwa kekurangan amunisi serta minimnya dukungan sekutu dapat meningkatkan risiko bagi personel AS.
Sementara itu, The Wall Street Journal menyebut sang jenderal dan pejabat Pentagon lainnya juga telah memperingatkan Trump soal risiko seperti kemungkinan korban dari pihak AS dan sekutu berjatuhan.
Militer AS juga mewanti-wanti Trump soal kemungkinan sistem pertahanan udara AS terkuras jika pasukannya menyerang Iran.
Tak hanya itu, Axios juga melaporkan bahwa Caine memperingatkan potensi Amerika Serikat "terjerat dalam konflik berkepanjangan" jika benar-benar membombardir Iran.
Menurut Axios, utusan Trump sebagai negosiator Timur Tengah, Steve Witkoff, serta menantunya, Jared Kushner, turut mendesak presiden agar menunda serangan ke Iran dan memberi ruang bagi diplomasi.
Namun, Trump menuduh media-media tersebut menulis laporan yang "keliru dan disengaja."
"Saya yang membuat keputusan. Saya lebih memilih adanya kesepakatan, tetapi jika kita tidak mencapai kesepakatan, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi negara itu dan, dengan sangat sedih, bagi rakyatnya," ucap Trump seperti dikutip AFP.
Trump telah mengerahkan kekuatan militer AS yang cukup besar ke Timur Tengah, termasuk dua kapal induk, lebih dari selusin kapal lainnya, sejumlah besar pesawat tempur, serta berbagai aset militer lain ke kawasan tersebut.
Meski demikian, negosiasi AS-Iran dijadwalkan tetap berlanjut. Seorang pejabat AS menyatakan bahwa putaran pembicaraan berikutnya dengan Teheran akan berlangsung pada Kamis pekan ini.
Meski belum ada keputusan akhir, para penasihat Trump melaporkan AS bisa melakukan serangan ke Iran kapan saja, bahkan dalam beberapa hari mendatang.
Serangan ditujukan untuk menggertak Iran agar bersedia melepas kemampuan mereka membuat senjata nuklir, demikian dikutip New York Times, Minggu (22/2).
Target serangan AS kali ini disebut-sebut berkisar di markas besar Korps Garda Revolusi Iran, situs nuklir, hingga program rudal balistik.
(rds)

20 hours ago
5












































