Jakarta, CNN Indonesia --
Nama pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menuai sorotan usai tewas dalam serangan bersama Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2).
Pembunuhan Khamenei menandai hari yang berbeda di Teheran, di Iran, dan tentu di kawasan Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah media pemerintah seperti Fars News, Tasnim, hingga IRIB turut melaporkan kematian Khamenei.
"Diumumkan kepada rakyat Iran bahwa Yang Mulia Ayatollah Agung Imam Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, telah gugur sebagai syahid dalam serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika dan rezim Zionis pada pagi hari Sabtu, 28 Februari," lapor Tasnim News.
Hidup Khamenei berakhir di usia 86 tahun pada Sabtu. Hari itu pula, kekuasaan dia yang sudah berjalan 26 tahun tamat.
Selama memimpin Iran, Khameni dicap pahlawan sekaligus tiran oleh warga dan oposisi.
Bagi loyalis, Khamenei dianggap sebagai pahlawan dan membawa perubahan. Namun, bagi oposisi dia adalah tiran.
Khamenei menjadi orang nomor satu di Iran pada 1989 setelah pelopor revolusi Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini meninggal dunia.
Meski Khomeini adalah pelopor ideologi Revolusi Islam, tapi Khamenei lah yang memperkuat Iran menjadi seperti sekarang. Dia telah membentuk aparat militer dan paramiliter sehingga membuat ciut para musuh-musuhnya.
Khamenei meyakini AS memusuhi Iran, dan bahwa Revolusi, Republik Islam dan Nasionalisme tak terpisahkan. Di bawah visi itu pula lah, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) berubah dari pasukan paramiliter menjadi lembaga keamanan, politik, dan ekonomi yang kuat serta punya pengaruh di kawasan.
Khamenei juga mempromosikan "ekonomi perlawanan" untuk menumbuhkan kemandirian dalam menghadapi sanksi AS yang berat, terus skeptis dengan Barat, dan fokus pada pertahanan, demikian dikutip Al Jazeera.
Namun, selama memimpin Iran kekuasaan dia diuji berkali-kali. Satu di antaranya pada 2009. Saat itu, warga ramai-ramai turun ke jalan memprotes pemilihan umum yang curang.
Kemudian pada 2022, protes massal kembali menguar di Iran. Pada waktu itu, warga tumpah ruah ke jalan usai perempuan bernama Mahsa Amini tewas setelah ditangkap petugas keamanan Iran. Saat itu, mereka menuntut transparansi dan kebebasan ekspresi.
Namun, demonstrasi berujung kisruh. Ada penangkapan, ada kerusuhan. Pihak berwenang Iran menuding unjuk rasa disusupi agen Israel dan Amerika Serikat.
Tak berhenti di sana, warga Iran kembali menggelar demonstrasi massal pada akhir Desember 2025. Mulanya, mereka memprotes inflasi yang melangit dan menuntut perbaikan ekonomi.
Namun, demo berujung ricuh. Tuntutan meluas menjadi pergantian rezim Khamenei. Selama aksi, fasilitas umum juga dibakar. Pemerintah Iran kembali menuduh ada agen Israel dan AS yang terlibat.
Di tengah huru-hara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bakal menggempur Iran jika mereka tak berhenti menangkap dan membunuh pada pedemo.
Bersambung ke halaman berikutnya...

18 hours ago
5











































